0

[Xenophobia] Be Yourself

Posted by Vienna Alifa on 10/10/2010 in Coretan Hati, Kenangan, Kisah, Pendidikan |

Zona pertama

Tak banyak orang yang menyangka bahwa saya punya masalah yang cukup serius dengan urusan kejiwaan ketika menghadapi sesuatu yang baru atau asing. Ini terjadi terutama ketika saya harus keluar dari zona aman baik direncanakan ataupun tidak. Saat saya merasa dunia sekitar menjadi sedikit berbeda dari yang biasanya saya nikmati. Bibit prilaku ini sebenarnya sudah tercium sejak saya mulai masuk sekolah TK. Dimana suka atau tidak suka,  saya harus mengikuti alur keinginan orangtua yang memang jamaknya demikian, ingin putra/i-nya sekolah di usia 4 atau 5 tahun. Saya mulai gelisah membayangkan akan bertemu dengan anak-anak sebaya yang tampilannya seragam, berasal dari rumah-rumah yang tertutup di kompleks perumahan lain dan terlihat rapi plus wangi.

Sungguh kontras dengan teman main saya saban hari yang berasal dari rumah-rumah petak kontrakan milik pak Haji depan rumah. Saya terbiasa bermain dengan bau matahari dan debu yang melekat di sepeda. Saya juga tak sungkan tidur-tiduran dengan leluasa di bilik-bilik sempit mereka yang lantainya kerap dikotori tahi ayam yang berseliweran keluar masuk tanpa permisi.  Lalu, benih-benih tidak percaya diri di lingkungan yang baru itu terlihat, meski saya sudah tampil dengan warna baju senada yang mungkin bisa menyamarkan kekikukan. Tetap saja saya merasa tidak nyaman. Selama seminggu, Tante saya yang baik dan sabar begitu rela menunggui saya diluar kelas dengan sedikit menongolkan kepalanya di jendela. Semua itu demi menjalankan amanah orang tua saya, untuk memastikan agar putrinya tidak mogok sekolah atau ngambek dengan cara mempermalukan diri sendiri yakni menangis tanpa jeda. Hh..untunglah cuma seminggu. Tapi semoga ingatan saya salah dan yang benar adalah tiga hari saja.  Eh, mungkin juga cuma seharian.

Tahap perpindahan zona yang menimbulkan efek grogi binti canggung  -seiring meningkatnya daya gaul serta tumbuhnya potensi  menjaring teman dekat- sepanjang perjalanan menuntut ilmu sampai jenjang kuliah, tidak terlalu sering saya rasakan sebagai ancaman mental yang parah. Berbekal aksi lobi-lobi dan jurus rayuan pada para sahabat, saya selalu berhasil mengajak satu-dua sahabat untuk bersedia  menemani kemana saya pergi atau mendaftar bersama ke tempat-tempat kursus.  Mulai dari pindah sekolah dari SMP swasta ke SMU negeri, ikut bimbingan belajar, pilih jurusan kuliah, hampir semua  saya lakoni bersama teman. Bahkan untuk urusan pribadi seperti ke dokter, saat sudah kuliah, saya belum punya nyali pergi sendiri sebelum saya gaet  asisten Mama, si Mbak, untuk menemani. Kalau dia jelas tak perlu dirayu, diancam kalau perlu.

Hahaha…sadistis.

Zona kedua

Keringat dingin dan perut mulas rupanya belum benar-benar hilang dari jiwa saya yang dilanda cemas saat menghadapi lagi suasana baru, manakala  saya dengan penuh ingin mendaftar di sebuah lembaga pendidikan non formal demi menyalurkan hobi di bidang Desain Grafis. Pertemuan dengan iklan lembaga ini di surat kabar -yang menawarkan studi singkat selama setahun- mendorong-dorong hati agar segera ambil keputusan segera untuk ikut program belajarnya yang fleksibel. Saat mendaftar, tentu saja saya masih diantar oleh seorang sahabat (walau dia tak berminat ikut belajar), saya mendapati diri ini sedang bersiap menghadapi zona tak aman jilid dua.

Lingkungan lembaga itu bikin saya sedikit terperangah. Jilbab yang saya kenakan rasanya menjadi sesuatu yang asing disana. Seperti hal yang tak lazim tiba-tiba muncul di tengah-tengah calon murid, murid yang sudah lama atau para pengajar yang bebas memakai baju  seketat, setipis , sependek dan seaneh mungkin. Mereka berseliweran dengan rambut berwarna, tatoo  disekujur tubuh, anting di wajah beberapa murid lelaki serta asap rokok yang mengepul ngepul di sepanjang koridor. Sialnya, kali ini tak ada yang bisa saya rayu kecuali diri sendiri untuk tetap meluluskan tekad belajar yang sudah lama terpendam di hati.

Suasana kontras pun kembali saya temui. Bagaimana tidak, saya notabene juga masih terdaftar sebagai mahasiswi di Lembaga Dakwah dan Studi Islam. Tanpa banyak penggambaran, rasanya semua orang juga tahu, seperti apa suasana di sekolah ini. Kelas wanita yang terpisah jadwal dengan lelaki, menutup aurat dengan bahan kain lebar-lebar, saling berlomba menghafal Qur’an sampai tertawa pun harus diatur agar tidak terlalu lepas. Ah, betapa saya menikmatinya sampai setahun lebih sudah tiada terasa. Periode kuliah 4 tahun pastinya akan berjalan aman dan nyaman. Tak terbayangkan rasanya harus saya selingi dengan kuliah di tempat lain yang keadaannya berbeda 180 derajat.  

Namun akhirnya dalam seminggu, dibagi  tiga hari-tiga hari secara selang-seling saya lewati penuh dinamika.  Kekuatiran akan perpindahan zona dan ketidak-pede-an yang sempat melanda  awal-awal saya kuliah di sekolah desain itu pun pudar.  Bahkan tak dinyana banyak teman sekelas di jurusan Desain itu yang merasa nyaman mengungkap ihwal carut marut diri mereka pada saya  secara pribadi. Mereka juga tak segan bertanya masalah seputar agama yang ternyata tentang kulit-kulitnya saja, mereka ‘buta’ selama ini.  

Alhamdulillah,  berbagai hikmah dan pelajaran pelan-pelan dapat  saya resapi, terutama dalam hal mengatasi penyakit cemas  yang tiba-tiba menjangkiti hati.

Be yourself, jadilah diri sendiri. Mungkin itu hal utama yang selalu saya bisikkan di kalbu ketika diam-diam ada rasa asing menyelinap lagi ditengah lingkungan baru. Sebisa mungkin malah harus disertai rasa bangga dengan label keislaman kita, sebelum diiringi rasa percaya diri atas kompetensi lain yang kita kuasai. Karena kebanggaan sebagai Muslim itulah yang  mampu ‘memaksa’ kita agar menampilkan sisi-sisi terbaik dari perangai yang kita miliki dalam berinteraksi dengan sesama di  komunitas manapun.

Merasa asing memang lumrah dan manusiawi.  Sungguhpun saya, masih menyimpan episode zona tak nyaman lain hingga kini. Namun berusaha menebar kebaikan sambil menampilkan identitas terindah yang kita punyai, rasanya lebih sia-sia jika saya tinggalkan begitu saja dengan alasan grogi.

******

 

Maunya diikutsertakan ke lomba nulis yang diadakan Lessy di SINI.

Tapi karena kompi sempet ngadat di menit2 terakhir pergantian hari, sepertinya gak diterima. Hiks…Lessyyy….*lesu*, naskah ini tetap kukirim buatmu ya. Gak usah dilombakan. Anggap saja hadiah dari hatiku buatmu, Sayang.

Semoga sukses lombanya yaaa…;))

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com