0

Spirit Olimpiade

Posted by Vienna Alifa on 25/08/2008 in Kesehatan, Renungan |

 

Nafas Olimpiade baru saja usai. Gegap gempita pesta penutupannya tak kalah meriah dengan ketika pembukaan. Spektakuler, mewah, menakjubkan, megah, fantastis, dan berbagai macam kata heboh lainnya mewakili ekspresi tiap mata yang mengikuti pagelaran besar olahraga sedunia itu. Tiap kontingen atlet berbagai negara kembali pulang ke negeri asal dengan rasa hati membuncah. Barusan di TV lokal, kulihat para pahlawan olahraga tanah aborigin ini disambut PM Kevin Rudd dengan sukacita di Sydney. Wajah mereka nampak begitu sumringah antara menahan haru dan bangga di depan sorotan belasan kamera.

Banyak bintang baru bermunculan di Olimpiade kemarin. Prestasi mereka merebut perhatian khalayak seluruh dunia dan mengundang decak kekaguman mulai dari tokoh penting negara bahkan hingga orang-orang awam yang hanya sesekali menengok berita olahraga, seperti diriku. Bagaimana tidak, biar cuma melihat beberapa cabang olahraga yang kunilai cukup seru, dengan melihat stamina para atlet itu nyatanya bisa membuatku merenungkan beberapa hal sambil melamunkan yang tidak-tidak. Mau ikutan ga ?
*angkat-angkat alis, senyum penuh rahasia*

Salah satu cabang yang membuatku bersemangat nonton adalah atletik, khususnya lari. Menyusul renang di urutan kedua. Mungkin karena kompetisi pada keduanya lebih terlihat, hingga terkadang bikin para pemirsa sok tau ikutan mengerahkan tenaga bantuan dari  jauh atau sekedar bersorak sorai memberi support layaknya sodara deket atau tetangga atau sahabat sekampus atau temen sekost atooo…..cuma tahu lewat tipi  *lah emang bener*.
Maka ada benarnya juga jika dibilang bahwa Pesta Olahraga Sedunia alias Olimpiade adalah salah satu cara untuk menyatukan penduduk sedunia.
Terbukti saat lihat lomba marathon untuk wanita, rasanya kok terbawa lelah melihat nafas yang terengah dan tersengal demi menyelesaikan lintasan sejauh 42 km itu. Sambil ikut deg-degan dan cemas kuperhatikan wanita yang memimpin di urutan pertama itu, bukan tergolong muda. Usia 38 tahun, Constantina Tomescu namanya, asal Rumania. Tubuhnya tegap, perutnya kencang dan rata (nah inilah lamunan yang tidak-tidak ityuu..;p), kaki panjangnya mengayun lebar dan mantap. Ia meninggalkan jauh sekelompok pesaingnya di belakang. Melesat seorang diri dengan kecepatan yang stabil. Wuiii….

Memiliki stamina yang begitu terjaga, teratur mengatur nafas hingga kuat berlari puluhan kilometer tentu bukan hal yang terjadi begitu saja. Kupikir latihan fisik yang rutin, pasti sudah jadi makanan sehari-hari para atlet itu. Disiplin dan tekun juga salah satu kunci keberhasilan mereka meraih prestasi. Ditambah dengan asupan gizi yang selalu diatur, mereka begitu taat mengikuti instruksi pelatih dan manager agar mencapai kemenangan pada setiap event olahraga. Di negara-negara maju yang telah menjadikan olahraga sebagai ajang prestasi, bahkan telah membibit calon-calon atlet sedari kecil. Pembinaan terhadap mereka begitu intensif dan fokus, sampai mata pelajaran lain di sekolah yang tidak berkaitan dengan jasmani kadang diabaikan. Dan memang hasilnya nyata, banyak dari mereka sukses di arena olahraga. Bukan cuma kepuasan pribadi karena berhasil mengukir nama harum diri dan bangsa jika menjadi pemenang, namun juga kepuasan akan bergelimangnya materi.


Dalam-dalam aku merenungi fenomena tersebut.
Malu hati melihat kegigihan dan kesungguhan olahragawan/wati itu. Untuk mengejar prestasi dunia saja mereka begitu disiplin terhadap diri. Menahan nafsu dari makanan enak dan banyak, jadual tidur berkurang, tiap harinya hanya diisi dengan latihan dan latihan. Padahal semua itu hanya untuk mencapai sebuah prestasi di dunia. Prestasi yang jangka waktunya terbatas dan sementara. Prestasi yang iming-iming balasannya akan musnah, tak abadi. Sedang sebagai muslim yang tahu betul (yakin malah) akan prestasi hakiki di akhirat, seringkali keengganan untuk berlatih mengendalikan nafsu menempel begitu lekat. Jiwa pun dilanda lalai menepati waktu-waktu munajat dengan Pemberi Award yang sesungguhnya. Belum lagi pelanggaran terhadap syari’at-Nya sebagai pokok peraturan berkompetisi di dunia. *Bersyukur ga kena diskualifikasi sebagai hamba*.
Ah, begitu Maha Pengasihnya Allah kita….

Hidup sejatinya memang sebuah penantian.
Dalam proses menunggu mati itulah kita seharusnya bisa berlatih keras untuk senantiasa tekun dalam ibadah. Ibadah yang berarti mengabdi pada-Nya dalam tiap helaan nafas dan aktivitias rutin kita.  Sebisa mungkin pula kita coba berlatih merayu jiwa agar terus bersungguh-sungguh dalam ta’at pada-Nya.
Lebih jauh lagi, bila ingin mengukir sebuah prestasi indah di akhirat  yang balasannya tak ternilai oleh harta dunia plus berlaku sepanjang zaman, maka upaya menegakkan syari’at Allah di diri menjadi satu bentuk kedisiplinan tingkat tinggi. Melebihi tekad para atlet merebut medali emas di Olimpiade. InsyaAllah, Ramadhan inilah ajang yang tepat bagi kita untuk melatih kendali nafsu.

Jangan mau kalah !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2018 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com