0

Semenjak Itu

Posted by Vienna Alifa on 15/11/2010 in Coretan Hati, Haji, Puisi |

Semenjak kaki menjejak
Di atas padang terik melepuh
Semenjak jutaan hati takluk
Beriring merayap ke satu titik patuh

Semenjak mentari naik beranjak
Menyatulah perlahan bayang dan tubuh
Semenjak antrian penuh memadat
Berjejal di muka pintu hajat berpeluh

Semenjak siang sampai petang tiada
Asin melumuri wajah cemas pendosa
Keringat, airmata bercampur tanpa jeda
Komat kamit merintih sisipkan asa
Naik turun dada keluhkan nista
Tersungkur tafakur di tanah Arafah.

Semenjak itu…
Sang jiwa kerap bisik menghentak
“Ingatlah hari saat Dia membasuh aibmu,
…tutupi nafsu dengan pakaian malu”

– kala memori tersengat pada benderang Arafah 1429 H –

******

9 Dzulhijjah 1429 H, niscaya menjadi hari yang tak pernah kulupakan sepanjang masa. Riuhnya manusia, antrian bis, wajah-wajah tegang karena menahan rindu, dengung irama talbiyah, mulut-mulut yang terlihat berbisik merapal himpunan do’a-do’a. Semua berjejalan di labirin memori otak ini.
Rekaman dua tahun lalu kembali berulang dalam ingatan. Membawa debar tersendiri yang berujung pada genang kecil di pelupuk. Bawa jiwa yang lalai ini kesana lagi, duhai Ar-Rahmaan…

9 Dzulhijjah, pagi disini. Kuraih hp dan mengetik kalimat singkat pada seorang sahabat yang kiranya akan berjihad di Arafah. Hanya berharap ia membungkus pesan singkatku tadi bersama do’a-do’anya di tempat mustajab itu. Selamat memadu rindu dan menumpahkan seluruh harap, saudariku.

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.”

[ HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com