0

Selaras Meski Berbeda

Posted by Vienna Alifa on 09/06/2009 in Haji, Kenangan, Renungan |

 

Duluuuu pertama kali menginjakkan kaki di pelataran Masjidil Haram  -sewaktu gadis- dalam rangka ibadah Umroh, saya sempat tertegun dan terheran-heran dengan berbagai macam tingkah dan gaya sholat para tamu Allah itu. Ada yang setelah takbir tangannya lurus tanpa sedekap, ada yang sedekapnya miring diatas pinggang  kanan, ada yang duduk diantara dua sujudnya spt duduk pas tahiyat akhir, ada yang telunjuknya bergerak-gerak selama tahiyat, ada yang berdiri sholat  lagi setelah sholat ashar, ada juga yang  celingukan ngeliatin gaya orang sholat…*yeey  sapa lagi ini mah* ;D
Saat itu saya berpikir  sambil menggerutu menyalahkan di hati ketika melihat seseorang melakukan sesuatu  yang menurut pengetahuan saya tidak sesuai dengan syari’at yang sebenarnya. “Ih, ga nyunnah tuh…”, dengan pede-nya saya berbisik membatin.

 

*****

Tahun berganti  dengan cepatnya. Diantara perguliran masa yang berlalu saya pun mengalami berbagai fase hidup. Status lajang serta merta berubah peran menjadi seorang istri. Tak lama menyusul pula dua amanah baru yang praktis menjadikan peran saya naik satu derajat  namun juga mengandung bobot tanggungjawab yang lebih berat.  Ya, menjadi ibu.
Interaksi dengan berbagai latar belakang pendidikan, sosial, usia, budaya dan agama makin intens saya temui setelah menjadi bagian terkecil dari suatu masyarakat, yaitu keluarga. Hidup bersosialisasi dengan tetangga sebagai komunitas terkecil di sekitar kita menjadi suatu hal yang lumrah bahkan cenderung menjadi kemestian yang sulit ditolak bila kita ingin menebar  kebaikan dengan sesama. Situasi inilah yang kemudian membuat saya banyak mendapat pelajaran berharga tentang perbedaan pendapat dan menghormati pemikiran orang lain.
Awalnya memang sulit membiasakan diri untuk menahan mulut dan hati supaya tidak buru-buru menyanggah isi kepala orang yang kerap berbeda dengan kita. Apalagi jika sudah menyangkut masalah keyakinan, rasanya belum sreg jika tidak berkomentar dengan nada sok tahu. Belum pas jika tidak menampilkan pengetahuan tershohih dan terkini. Meski niat awalnya dilabeli dalih ingin meluruskan pemahaman orang lain, ujung-ujungnya seringkali jadi merasa jumawa dengan pendapat sendiri dan selalu menganggap keliru mereka yang berbeda.

Bagaimanapun saya merasa dari setiap pengalaman akhirnya tercipta sebuah seni yang dapat mengukir jiwa agar kian bijak dan dewasa. Dimana semakin luas interaksi kita dengan ciptaan Allah yang bernama manusia, niscaya makin peka pula kita membaca karakteristik mereka yang unik dan berbeda satu dengan lainnya.

Kembali pada kisah Haji saya tahun lalu…
Sambil duduk tersenyum saya kembali mengingat reaksi saya dulu ketika per tama kali  berkunjung ke Baitullah. Alangkah jauh pemikiran saya saat itu dengan sekarang. Saya biarkan lamunan saya bersinergi dengan segala keramaian yang terpampang di depan mata.  Setiap orang terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing sambil menunggu waktu sholat fardhu berikutnya tiba. Ada yang berdzikir dengan menghitung tasbihnya, ada yang membaca Qur’an dalam hati, ada yang sholat sunnah terus menerus, ada yang membaca al-ma’tsurat atau buku kumpulan do’a dan dzikir pagi -petang, ada yang tertidur, terpejam sambil komat kamit, ngobrol, baca buku, dsb. Lalu tiba-tiba saya merasa terpukau dan begitu tentram berada di tengah lautan manusia yang secara fisik saja sudah kentara perbedaannya. Saya tidak peduli lagi warna kulit mereka atau bahasa keriting yang berdengung di telinga. Saya tidak mau tahu ’aliran’ maupun cap jamaah dari kulit keislaman mereka. Saya tidak pusing dengan cara mereka sholat atau berdo’a. Lidah dan hati saya tidak gatal untuk dengan mudah menyalahkan suatu kekeliruan. Yang ada hanya rasa damai dan takjub tak habis-habis seraya membatin….,”Bisakah  setiap muslim  berjama‘ah  dalam kebaikan, tolong menolong dan saling menghormati  seperti halnya ketika di tanah suci.”

Kadang saya tak habis pikir, dalam tubuh umat Islam ini seringkali muncul tali perbedaan yang terus ditarik keras ujung-ujungnya hingga mulur meregang atau bahkan putus. Tiap kelompok menganggap fikroh mereka lah yang paling  ‘nyunnah‘. Jika umat ini memang  akan terbagi menjadi beberapa aliran seperti sabda Rasul saw, saya tentu berusaha memahami dan maklum atas realita yang ada. Tapi apakah dari  begitu banyaknya harokah yang muncul itu dibenarkan pula  untuk saling menjatuhkan dengan tudingan atau celaan bahwa yang bukan bersama kelompok mereka adalah sesat ? Saya rasa kesempitan akal ini pun tak pantas mewakili sunnah Beliau saw. Siapakah yang paling berhak menentukan masuk tidaknya seseorang ke surga kecuali Penciptanya sendiri ? Bahkan pada orang kafir saja  Rasulullah saw tetap mengutamakan akhlaq mulia yang berlandaskan kasih sayang dan lemah lembut ketika bergaul dengan mereka.

“…dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik.” (Hr Ahmad, Tirmidzi, Darimi).

Lagi-lagi lewat ibadah Haji saya mendapat satu pelajaran berharga. Dimana saya harus melatih diri untuk tidak mudah berkomentar tentang prilaku ibadah saudara muslim lain yang terlihat aneh, keliru, atau ganjil yang mungkin belum masuk dalam kerangka pengetahuan saya. Setiap orang sungguh akan mempertanggungjawabkan amalannya masing-masing di akhirat kelak.

Jika telah jatuh kewajiban untuk saling menasehati, tentu saya akan berusaha memenuhi semampunya. Tapi bila berujung pada perdebatan, perpecahan, saling menyalahkan, merasa paling benar atau apapun yang membuat retaknya bangunan Islam, maka sepertinya saya harus konsisten berjuang menegakkan iman di diri dulu.
Ketika berhaji kegiatan sibuk mengurusi aib sendiri nampaknya lebih menyita seluruh konsentrasi saya, ketimbang menelusuri perbedaan tatacara ibadah pada orang lain. Terlebih belum tentu juga suatu hal yang -menurut kita- tak lazim itu jelas-jelas menyimpang dari aqidah  bukan ? Bisa jadi karena minimnya akal pribadi yang belum sampai ke tahap ilmu yang lebih tinggi. Atau jangan-jangan kita yang kurang ‘gaul‘ dengan orang-orang sholih sehingga belum mampu bersikap bijak dan moderat menghadapi warna-warni dunia Islam.

Jadi mesti hati-hati memang. Karena bersikap sok tahu dan ekstrim sama-sama ga ada manfaatnya selain memupuk bibit sombong yang melelahkan.

“Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama itu Melainkan pasti ia (agama itu) akan  mengalahkan orang itu. Maka bersikap lurus, moderat dan sikapilah dengan lapang dada/gembira. (HR. Bukhari)

 

Allahu ‘alam bishowwab.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com