2

PILPRES Di Mata Saya

Posted by Vienna Alifa on 14/06/2014 in Coretan Hati, Renungan |

Menelusuri riuhnya berita capres negeriku..

Berita di sana, di sini, yang dulu begini, sekarang begitu, beragam komentar para pendukung baik positif maupun negatif, semuanya mengajak pikiran saya untuk mengambil beberapa pelajaran :

– Tentang pentingnya memanfaatkan momen ini sebagai ajang latihan mendengar dan menyimak atas berbagai pembicaraan, diskusi, atau analisa di dunia maya maupun nyata tentang capres yang mereka ketahui. Bila latihan ini berhasil maka otomatis kemampuan menahan lisan atau tulisan agar tidak tergesa merespon, akan lebih tertata.

– Bahwa menerima semua informasi itu perlu. Akan tetapi memilah mana kabar yang berefek membentuk persepsi positif dan negatif di pikiran kita tentang orang lain, itu harus diutamakan. Barangkali dengan begitu, pesan Nabi saw supaya kita berusaha adil dalam mencintai atau membenci sesuatu lebih mudah terlaksana.

– Terbukanya jejak rekam seseorang bukan tidak mungkin menimpa kita juga di masa datang walau hanya dalam lingkup kecil seperti di keluarga, sahabat, handai taulan, dsb. Sebab itu jalan terbaik agar terkuaknya catatan masa lalu kita tidak menghanguskan kepercayaan orang di sekitar adalah sedini dan sebisa mungkin menjaga diri dari perilaku tercela serta selalu memprioritaskan sisi kebaikan bagi orang lain dalam setiap urusan kita.

– Sesumbar antara dua pihak yang saling berkompetisi dalam sebuah pertandingan atau perseteruan sangatlah wajar. Secara psikologis cara ini diyakini efektif demi menciutkan mental lawan. Tapi alangkah elok jika di luar gelanggang mereka mampu menepikan ego dengan kembali saling berangkulan dan mengakui keunggulan satu sama lain. Begitulah wujud jiwa sportif jua ksatria yang diharapkan muncul di antara mereka yang berlaga memperebutkan tampuk atau gelar tertinggi. Apapun itu.

Bagi para suporter sikap sportif justru lebih diberlakukan. Karena seringkali kegandrungan pada tokoh secara berlebihan dapat mengalahkan etika dan melabrak rambu-rambu moral. Sehingga tak jarang muncul perilaku yang bukan hanya mengundang ketidaknyamanan kawan tapi juga secara tidak langsung menunjukkan seberapa besar kualitas dirinya.

– Ketika mereka yang bersaing mengklaim bahwa tujuannya tak lain membawa perubahan negara ke arah yang lebih baik bagi seluruh pihak di masa depan, bukankah menang atau kalah itu sebenarnya tidak berarti hidup atau mati?
Dalam alam harapan saya, artinya sang juara kelak harus tetap memegang janji bahwa ia tak kan mendzhalimi, merugikan atau menepikan kepentingan elemen yang dikalahkan.
Sebaliknya, sang pecundang pun tak berarti harus angkat kaki, mutung dan sibuk mencela itikad baik si pemenang. Ia dan para pendukungnya selayaknya tetap mengapresiasi kebijakan positif serta mengkritisi bila ada keputusan yang berat sebelah sambil terus bekerja membangun bangsa sesuai kompetensi masing-masing.

– Politik itu sebenarnya mengasyikkan dan mencerdaskan. Terutama jika akal ditantang untuk bersiasat demi tersampaikannya maslahat bagi masyarakat luas. Namun ketika pelakunya memiliki ambisi pribadi atau golongan guna meraup seluruh kenikmatan dunia, jadilah segala intriknya tampak kotor dan memuakkan.

– Memilih seorang pemimpin negara memang butuh kecermatan dan banyak pertimbangan. Apa daya sebagai rakyat jelata yang jauh dari sosok-sosok calon presiden itu, saya hanya dapat mengandalkan minimal tiga hal :

> kepercayaan pada hasil musyawarah pimpinan partai Islam atau orang-orang shalih yang saya ketahui baik akhlaqnya, luas pengaruh dakwahnya, serta moderat pemikirannya.

> pengamatan mengenai visi-misi, jejak prestasi, riwayat hidup, pendidikan, kecenderungan, pembawaan, lingkup pergaulan, kiprah partai pengusungnya dan setiap catatan yang terkabarkan secara proporsional di media.

> memanjatkan permohonan pada Yang Maha Kuasa lagi Berkehendak,
Allah ‘azza wa jalla, agar hati saya terbimbing saat harus memilih seorang pemimpin.

Barangkali masih banyak pelajaran lain yang luput saya tangkap. Maklum, belajarnya kagak kumplit karena harus disambi ini itu. Plus wara-wiri ngurusin pindahan rumah.

Iyaah, dakuw akan kembali ke tanah air tercintaaah!

Jadi intinya, saya siap jadi warga negara Indonesia yang baik di bawah kepemimpinan presiden baruuu! Apakah nomor 1 atau nomor 2 yang berkuasa nanti, insyaa Allah gak bakal bikin saya hengkang lagi dari kampung halaman kecuali diajak atau diminta suami. Hihihi..

Eh, tapi yang keren itu, saya nyoblos capresnya duluan dong di sini.
Tanggal 7 Juli, yuhuuw..catet! *penting*

#catatanperdanapilpres

NB :
Yang mau berbagi pelajaran dari pilpres atau tentang suasana politik di negeri kita secara umum, silakan menambahkan di kolom komentar yaa. Saya masih haus ilmu soale..

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com