*
0

Resume kajian TAZKIYATUN NAFS

Posted by Vienna Alifa on 27/04/2016 in Tarbiyah, Tazkiyatun Nafs |

POIN-POIN PENTING dari muqaddimah ilmu TAZKIYATUN NAFS
oleh : Ustadz Adi Hidayat, MA.

    > Setiap manusia memiliki dua sumber kehidupan yang penting yaitu RUH dan JASAD.

    > RUH berasal dari Allah Yang Maha Suci sehingga unsur-unsur yang dibawa oleh ruh selalu bersifat suci, mengumpulkan banyak kebaikan (TAQWA).

    > Adapun JASAD memiliki peran ikhtiar manusia saat pembentukannya sehingga seringkali bercampur unsur kebaikan dan keburukan di dalamnya (FUJUR).

    > RUH yang membawa sifat TAQWA bila telah menyatu dengan jasad yang memiliki sifat FUJUR akan berubah keadaannya menjadi NAFS (jiwa).

    > NAFS akan sangat berperan dalam menentukan karakter dan sikap seseorang menjadi baik atau buruk. Seorang akan baik bila TAQWA-nya dominan, sedangkan bisa berlaku buruk bila FUJUR-nya dominan.

    > Cara untuk menekan sifat FUJUR sehingga sifat-sifat TAQWA bisa muncul ke permukaan dan menghimpun banyak kebaikan disebut dengan TAZKIYAH. Dari sinilah lahir istilah : TAZKIYATUN NAFS

    > Respon baik atau buruk yang diwujudkan dalam bentuk perilaku akan sangat bergantung pada berbagai informasi yang diterima oleh NAFS melalui berbagai organ tubuh (mata, telinga, mulut, lidah, kulit, dll).

    > QOLBU adalah tempat berkumpulnya segala sifat yang ada dalam NAFS. Qalb memiliki sifat yang mudah berbolak-balik disebabkan semua kecenderungan jiwa yang berlawanan (antara TAQWA dan FUJUR) terhimpun di sana.

    > Anggota tubuh seseorang sesungguhnya mengikuti bagaimana keadaan QOLBU-nya. Bila QOLBU diliputi sifat taqwa maka kebaikanlah yang tampak dari perbuatannya. Demikian juga sebaliknya jika fujur yang melingkupi.

    > Sedangkan Allah juga mengaruniai manusia AQAL untuk menimbang setiap dorongan QOLBU sebelum menjelma menjadi perilaku baik atau buruk.

    > AQAL menjadi benteng pertama maupun terakhir seseorang untuk menyaring atau memilah apa yang selayaknya diserap oleh anggota badan ke dalam NAFS dan apa yang tercermin dari QALBU lewat anggota tubuhnya.

    ****

    Dalam benak saya, pemaparan Ust. Adi tentang pengantar Tazkiyatun Nafs di atas menghasilkan sebuah siklus yang tak putus antara peran : AQAL, QOLBU dan NAFS, sehingga seseorang melahirkan suatu amal baik atau buruk lewat organ tubuhnya.

    Apabila organ tubuh (misal : mata, lidah, dan telinga) terbiasa menerima asupan negatif, maka yang dihasilkan dalam perbuatannya pun berpotensi maksiat. Sedangkan jika organ tubuh sering ditempa oleh budaya positif (atau berada dalam lingkungan yang baik), niscaya apa-apa yang dilahirkan di lisan dan laku juga akan mengandung nilai-nilai kebaikan universal.

    Saya kemudian membayangkan kalau ‘makanan pokok’ setiap organ tubuh manusia berasal dari SUMBER SELURUH KEBAIKAN yaitu AL-QURAN. Manakala telinganya terbiasa mendengar Al-quran, matanya sering dipakai untuk melihat Al-quran, lisannya terus-terusan mendawamkan bacaan Al-quran, otaknya bekerja keras mengingat-ingat hafalan Al-quran sampai hatinya terwarnai seluruhnya dengan celupan wahyu Ilahi.

    Bukankah tangan dan kakinya otomatis beraktivitas sesuai arahan Al-quran? Akankah segala tingkah lakunya selamat dari aib dan dosa? Tidakkah ia menjelma menjadi pribadi Qurani?

    Tapi mungkinkah ada sosok yang demikian? Mungkin!
    Bahkan kesempurnaan akhlaqnya dipuji langsung oleh Al-Khaliq,

    …wa innaka la’alaa khuluqin ‘adzhiim…

    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang agung”

    Dialah Sang Al-Quran berjalan, kekasih umat muslim sepanjang zaman, Rasulullaah Muhammad Shallahu ‘alayhi wa salam.

    Maasyaa Allah, rindukuu!
    Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa sallimu tasliimaa.

    ‪#‎sedikitcatatan‬
    ‪#‎hasilbelajaronline‬
    ‪#‎bekalbuatdakwah‬
    ‪#‎supayailmujadiamal‬

    Perth, April 2016

*
0

Cermin Diri Dalam Pusaran Tarbiyah

Posted by Vienna Alifa on 21/04/2016 in Dakwah, Renungan, Tarbiyah |

Di mana posisimu?
Penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi diri? Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap; bahwa laut tetap bergelombang dan di seberang ada pantai harapan?
Ketahuilah, kader-kader dakwah yang ikhlas berkorban adalah roda yang siap menjelajah medan-medan berat. Keulamaan adalah sistem kendali-mu yang tahu kapan harus berbelok, menanjak, menurun dan menerobos hutan belantara, padang tandus serta bebatuan.

Sungguh tarbiyah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah saw bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa kuburan para sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la, melainkan tersebar jauh beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Jangan sampai sesudah tarbiyah, ada kader dakwah yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Di manapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah swt, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah swt, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemana pun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing, karena Allah swt senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan Rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa. Kita semua wajib beramal tapi tidak boleh larut dalam kesendirian. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, pertanggungjawaban amal kita akan dieksekusi di hadapan Allah swt secara sendiri-sendiri.

Dalam kaitan sistem, partai atau pemerintahan, cobaan berat pada kader dakwah justru pada percaya diri yang tidak proporsional. Ghurur (keangkuhan) adalah hal terberat yang kan kau hadapi. Bukan keraguan, kebencian dan permusuhan orang yang tak mengenalmu. Sebab sekeras apapun hati mereka, kekuatan hidayah dapat menundukkan mereka kepada kebenaran da’wahmu, dengan izin-Nya.

Namun jika engkau nikmati sanjungan orang terhadap dirimu atau jamaahmu, padahal engkau sendiri jauh dari kepatutan itu, maka alangkah malang nasib orang yang percaya kepada kejahilan orang yang menyanjungmu, sedangkan engkau sangat terang melihat kekurangan dirimu.

Berbenahlah segera, meski waktu ujian tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar. Akan tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hidup hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda’wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan.

Ketika Allah swt telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah, renungilah bahwa ini sebuah karunia besar. Jangan sampai seperti orang-orang yang merasa telah berjasa, lalu – karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekuensi bergaul dengan manusia yang tidak sempurna – menunggu musibah dan kegagalan kemudian mengatakan : “Nah, rasain!” Bukankah mereka itu sepantasnya membayangkan, “Bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini ?”

Marilah berjabat tangan, ayunkah langkah dengan yakin dan lengkapi kekurangan diri dengan kelebihan saudara atau sebaliknya. Topang kelemahan mereka dengan kekuatan diri yang Allah swt amanahkan. Banyak orang bingung mencari lahan kerja, sementara lahan kerja da’wah tak pernah tutup.

Akhirnya saling mendo’akan sesama saudara seiman mestinya telah menjadi ciri kemuliaan pribadi seorang ikhwah. Selain ikhlas dan cinta, tak nampak motivasi lain yang menghiasi do’a itu. Betapa Allah swt akan mengabulkan dan malaikat akan mengamini, seraya berkata : “Untukmu pun hak seperti itu”, seperti sabda Rasulullah saw. Hingga cukuplah kemuliaan ukhuwwah dan jama’ah ini dibicarakan penuh iri di antara para Nabi dan syuhada, disebabkan kecintaan yang meliputi hati-hati mereka. Bukan didasari hubungan kekerabatan, tapi semata-mata dilandasi iman dan cinta fi’Llah.

“Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.”

(oleh : Ustadz Rahmat Abdullah, Allahu Yarham)

💕💕💕

Catatan:

Tulisan di atas berasal dari beberapa artikel Ustadz Rahmat Abdullah, yang dikutip secara acak, diedit serta dikompilasi berdasarkan kebutuhan kontemplasi saya terhadap gerakan tarbiyah.
Sebab lewat tarbiyah saya merasa mendapatkan hidayah Allah ta’ala. Sehingga banyak perubahan pada diri terjadi secara lahir batin, ke arah yang insyaa Allah lebih baik, dalam kurun waktu 23 tahun proses tarbiyah yang saya jalani.

Meski tarbiyah bukan segala-galanya dalam hidup ini, namun saya meyakini segala pemikiran, pengucapan dan tingkah laku yang positif sangat mungkin diawali dengan tarbiyah. Karena bagi saya tarbiyah bukan sekedar ngaji atau mengkaji. Tarbiyah itu tidak hanya hadir dalam majelis ilmu lalu pulang setelah ruh dan fisik kenyang. Ia laksana ladang penempaan diri dalam berukhuwwah, berjama’ah dan menebar jejaring kebaikan. Di dalamnya ada proses melatih diri untuk beramal shalih dan menshalihkan. Ada tahap menempa jiwa untuk bersabar dalam bekerja dakwah bersama-sama demi meraih ridha Ilahi. Semuanya memang berlangsung secara perlahan tetapi pasti. Sebab bukan hasil yang dinanti melainkan usaha yang ditetapi dan dinikmati walau kerap timbul ketidaknyamanan yang dijalani.

Semoga saya tetap istiqamah di dalam proses tarbiyah ini sampai mati.

|vi3nzz

Hal jazaa ul ihsaan illa al-ihsaan

0

Dibenci Karena Aqidah

Posted by Vienna Alifa on 14/01/2016 in Renungan |

Berakhlak mulia itu bukan jaminan akan disenangi semua orang. Buktinya manusia paling mulia akhlaknya di muka bumi ini yaitu Muhammad Rasulullaah Shallallahu’alayhi wa salam, tetap saja ada yang memusuhi.

Akan tetapi yang harus kita cermati dan pahami, Rasulullaah shallallahu ‘alayhi wa sallam itu dibenci tak lain karena aqidahnya bukan karena budi pekertinya.

Ya, catat, karena A-QI-DAH.

Beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam tak disukai lantaran keimananannya begitu teguh dan tak mau tunduk dengan aturan jahiliyyah buatan orang-orang kafir Quraisy. Sebab keyakinannya atas risalah Islam begitu kokoh tak tergoyahkan meski ditawari sejumlah kekuasaan, segunung kekayaan apalagi  (cuma) sederet kemolekan para wanita untuk diperisteri. 

Namun di balik kebencian setiap musuh tetaplah tersimpan takzim atas kemuliaan perangainya. Mereka sadar dan mengakui betapa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa salam seorang yang berbudi luhur, penyayang, jujur, santun, adil, sabar, perhatian, bertanggung jawab, amanah, dan segenap akhlak baik terkumpul padanya. Wajarlah jika Nabi begitu dicintai para sahabat dan disegani lawan-lawannya.

Karena itu jangan sedih atau gentar bila dijauhi manusia ketika kita berusaha menjaga aqidah. Tak perlu kuatir dimusuhi dalam berjuang menegakkan tauhid dan memberantas praktek kesyirikan di tengah masyarakat.

Inna Allaha ma’anaa.

Sayang, di masa kini seringkali penolakan manusia atas keberadaan seseorang disebabkan oleh akhlak buruk yang terwujud  dalam  lisan, tulisan, maupun perbuatannya. Bukan karena aqidahnya. 
Dengan kata lain, kebanyakan orang boleh jadi tak terusik oleh keyakinan kita tapi amat terganggu oleh karakter diri kita.

Bila demikian, maka segera renungi dan banyaklah introspeksi atas segala hal yang  kita tampakkan pada sesama yang membuat mereka malas, menjauh, mencemooh, bahkan menentang kita. Meski kita merasa sedang menyampaikan kebaikan pada mereka. Walau kita tengah mengemban misi dakwah pada Tauhidullaah.

Barangkali itu pertanda ada sesuatu dalam hubungan kita dengan Allah swt yang perlu diperbaiki. Ada aspek aqidah yang mesti dikoreksi.
Teliti kembali keikhlasan, keridhoan, keistiqamahan saat menghamba-Nya. Perbanyak ibadah sunnah, maknai setiap do’a dan kalam suci-Nya. Karena sungguh, Allah ta’ala -lah yang akan memperbaiki hubungan mu’amalah dengan manusia ketika keterikatan hati kita kuat dengan-Nya. Dan betapa, akhlak mulia adalah salah satu karunia yang harus selalu kita minta pada Allah swt agar terpatri di jiwa. Sebaliknya, berlindung dari akhlak buruk pun perlu dipanjatkan, seperti do’a Rasulullaah saw berikut :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar.”

[HR. Tirmidzi no. 3591, shahih]

#muhasabahdiri
#akhlakmuslim
#rindurasul

vi3nzz

1

Me vs Mom

Posted by Vienna Alifa on 22/12/2015 in Renungan |

Pertengkaran dengan Mama adalah hal yang kerap terjadi ketika aku remaja. Ada saja perkara yang membuat kami tak sepakat dan beradu argumentasi. Menurutku Mama sangat pengatur dan cerewet. Misalnya saat menyoal baju yang ingin kupakai dengan gaya sesuka hatiku saja dia bisa mengomel panjang lebar. Lalu ngotot memintaku menggantinya. Aku pun tak kalah bersikeras mempertahankan pilihanku. Ya, kami berdua, kata Papa, sama-sama keras kepala. Alhasil masalah pilihan baju tadi biasanya diakhiri dengan keridakrelaan di salah satu pihak. Kadang diriku jadi cemberut sepanjang acara keluarga sambil menyimpan gondok karena harus mengikuti keinginan Mama. Kali lain, Mama terus-mencela penampilanku karena aku sukses mempertahankan pilihanku.

Aku juga sering dibikin jengkel oleh aturan-aturan yang Mama buat tanpa kompromi, yang ditegakkan tanpa ampun oleh kaki tangan beliau: para pembantu di rumah kami. Mama adalah seorang wanita karir, yang sudah bekerja sejak ia belum mempunyai anak. Sampai anak-anaknya besar bahkan telah berumahtangga, Mama terus meniti karier sebagai pegawai negeri. Pengasuhan aku dan abangku sejak kami kecil banyak diamanahkan pada sekurangnya dua orang pembantu. Tentu tetap di bawah pengawasan ketat Mama.

Salah satu peraturan Mama yang paling malas kujalani adalah tidur siang. Ini berlaku saat aku masih usia Sekolah Dasar. Tiap pulang sekolah, usai makan siang, aku harus segera masuk kamar dan tidur. Dasar aku tipe anak yang susah tidur, jadilah aktivitas rutin itu lebih sering kuisi dengan baca buku, melamun atau menghitung jalannya detik jarum jam sambil berlatih gaya pura-pura tidur yang meyakinkan jika pembantuku datang mengecek tiap 15 menit. Hihihi…

 
Aku heran, para pembantuku itu rata-rata bagai jelmaan Mama. Mereka galak minta ampun dan susah dirayu. Kalau kulawan mereka dengan mulut, pasti akan sampai laporannya ke Mama. Akibatnya aku akan kena omelan Mama dan bakal ada sangsi tidur cepat untukku di malam harinya. Huh, sebal.

Seingatku, kebiasaanku beradu pendapat dengan Mama agak menurun intensitasnya setelah aku memakai jilbab, saat aku masuk kuliah. Ketika itu aku makin mendalami bahwa di dalam Islam berbuat baik terhadap orangtua adalah amalan yang begitu besar keutamaan dan nilai pahalanya. Sebaliknya, durhaka kepada mereka termasuk dosa besar. Aku lalu mulai berusaha menekan diri untuk tidak membantah perkataan Mama. Apalagi kepatuhan terhadap seorang ibu, kata Rasulullaah saw, harus dilipatgandakan sebanyak tiga kali daripada kepada ayah, membuatku merasa takut. Kuingat betapa banyak dosa yang sudah kulakukan selama ini pada Mama karena sering bersikap atau berbicara hingga menggores hatinya. Tapi ternyata tak mudah mengubah sisi keras kepalaku dan sikapku yang susah diatur itu. Aku betul-betul harus berjuang melawan ego, menundukkan nafsu dan melatih kesabaran setiap kali menemukan ketidaksepakatan dengan Mama. Sungguh susah! Karena sifat kami memang mirip.

Di awal-awal mengenakan jilbab, aku bahkan kerap bersitegang dengan Mama. Sejak aku baru menyampaikan niatku untuk menutup aurat, Mama sudah berkomentar miring. 

“De, bukan apa-apa ya, sekarang ini perempuan berjilbab itu susah kalau mau cari kerja di kantoran…” Mama berkata padaku dengan nada pesimis. 

 “Terus juga beberapa pegawai di kantor Mama tuh, pada pake jilbab, jadi susah dapet jodoh lho.”

Ih, ini sih, negatif banget responnya. Hampir saja aku menukas beliau dengan kata-kata tinggi. Tapi syukur segera dibela oleh Papa yang tidak setuju dengan pendapat Mama. Selain itu, aku juga paham, Mama mengungkapkan kalimat tersebut dilandasi rasa kekuatirannya saja yang kurasa berlebihan.

 

Mamaku orangnya modis. Baju, tas, dan sepatu “high heels”-nya harus senada. Jika berpergian, dandanannya selalu lengkap. Agaknya beliau kecewa ketika putri satu-satunya memutuskan untuk berpenampilan lebih sederhana dalam model busana muslimah yang memang di tahun 90-an belum banyak pilihan gaya. Karena masalah ini pula, aku pernah perang dingin dengan Mama beberapa hari jelang Ramadhan. Aku, yang baru melek syari’at Islam dengan semangat menggebu berusaha untuk mendakwahi beliau. Tapi sayang, semangatku itu tidak diiringi dengan cara yang baik. Jadi jatuhnya seperti menggurui, deh. Pantaslah kemudian Mama tersinggung ketika aku mengharamkannya dari bersolek saat keluar rumah serta membeberkan dalil-dalil pengharaman wanita bekerja. Heu…

Bertambahnya usia membuat kedewasaanku sedikit-sedikit meningkat. Aku mulai mengerti bahwa kebawelan Mama selama ini tak lain disebabkan oleh rasa sayang beliau yang begitu besar padaku. Kemarahan, kecemasan Mama yang berlebihan dan acapkali membuatku gusar mestilah sebuah ekspresi kepedulian serta perhatian beliau untuk kebaikan hidupku.

Saat aku memasuki kehidupan rumah tangga, Mama sedang jaya-jayanya dalam berkarir. Beliau menempati posisi yang cukup tinggi di kantor dengan fasilitas berikut penghasilan yang membuatnya begitu ringan mengalirkan lembar-lembar rupiah demi meraih kenyamanan hidup. Tak terkecuali anak-anak dan cucu-cucu pun terkena imbasnya. Mama seolah ingin semaksimal mungkin menopang ekonomi kami melalui berbagai kesempatan.

Tapi bukan berarti kami lantas senang-senang saja menerima pemberian Mama dengan tangan terbuka. Tentu ada rasa enggan yang muncul dari aku dan suami setiap Mama membelikan sesuatu meski cuma berupa perlengkapan rumah tangga. Aduh, bukannya kami tidak bersyukur atau tidak berterimakasih. Kami hanya ingin mencoba hidup mandiri. Kami ingin mengatur urusan rumah tangga sesuai gaya kami. Kami kuatir berbagai pemberian itu bepotensi memunculkan celah perselisihanku dengan Mama. Dan terbukti di seputar persoalan itulah kadangkala terjadi kesalahpahaman antara aku dan Mama.

Suka serba salah memang. Di satu sisi Mama ingin membahagiakan anak cucu dengan limpahan materi, di sisi lain kami merasa keberatan. Tetapi kami tak mungkin menolak mentah-mentah karena pasti akan menyakitkan hati Mama. Akhirnya kami berusaha mengambil jalan tengah sajalah. Sebisa mungkin, ya, menolak dengan halus. Namun kalau berefek bakal menyinggung hati Mama, mau tidak mau kami terima juga.

Hubunganku dengan Mama kurasakan malah semakin menghangat ketika aku hidup jauh terpisah dengan beliau dalam jangka waktu cukup lama. Ya, aku, suami dan anak-anak kami selama delapan tahun sempat hidup di negeri orang, tepatnya di Perth, Australia. Itulah untuk pertama kalinya aku hidup berjauhan dengan Mama. Betul-betul tanpa campur tangan beliau. Tanpa kritik dan pendapat Mama yang sulit ditentang. Di awal kepindahan aku merasa senang bisa berbuat sesuka hatiku tanpa kuatir akan komentar miring Mama. Tetapi tak lama aku menyetujui sebuah peribahasa Inggris, “Absence makes the heart grow fonder”; ketiadaan orang terkasih justru membuat hati lebih sayang padanya.  

Jarak dan waktu ternyata memberi ruang lebih banyak padaku untuk memikirkan Mama. Ketika aku harus berjibaku secara mandiri mengurus keluarga aku sering merindukan Mama. Tak jarang senyumku terkembang kala mengenang kebawelannya atau mataku membasah mengingat bermacam bentuk perhatiannya. Hatiku kemudian seperti diiris sembilu. Mama pun demikian. Suaranya tiap kutelpon menyiratkan hal sama yang kurasa. Dia rindu putrinya yang keras kepala.

*****

Kini tak terasa sudah tujuh belas tahun rumah tanggaku. Anak-anakku, cucu-cucu Mama, telah remaja. Mama sudah lama pensiun. Di usianya yang senja kulihat ia kian renta. Fisiknya melemah dan staminanya jauh menurun. Sifat pengaturnya dan kecerewetannya saja yang cenderung bertambah, hehe…

Walau demikian, aku semakin memahami cara Mama menyayangi keluarganya. Sebab gaya Mama kadang tercermin juga di diriku manakala kuhadapi anak-anakku. Huahuhu..padahal duluuu waktu masih gadis aku sampai bersumpah dalam hati, “Kalau aku jadi seorang ibu nanti, aku gak akan segalak Mama..”. Yaa…memang aku gak secerewet beliau siih, hahahaa maapin Dede ya, Maaa, tapi bila datang rasa cemas yang tinggi terhadap anak-anak, kadang aku akan menampakkan kemarahan, persis seperti Mama. Susah, deh yaa…kalau sudah turunan ‘galak-galak penyayang’.

Begitulah, mamaku barangkali tidak seperti sosok ibu yang menonjol sisi kelembutannya. Beliau mungkin bukan tipe ibu rumah tangga yang siap mendampingi anak-anaknya sepanjang waktu. Beliau juga bukan wanita yang memiliki keterampilan tertentu khas perempuan, semisal menjahit, menyulam, memasak, dsb. Tapi cukuplah dengan segala keterbatasannya itu membuatku selalu menyayanginya. Cukuplah tiap kali kuingat perdebatan dengannya, tekadku untuk menjadi anak shalihah di mata Allah senantiasa menguat. Kupikir itulah sebaik-baik cara dalam membalas jasa Mama sekaligus meraih pahala Allah swt. Cukuplah dengan segenap kelebihan dan kelemahannya membuatku tak pernah luput mendoakannya; agar Allah berkenan mengampuni seluruh dosa-dosanya dan mengaruniainya husnul khatimah di ujung hidupnya.

Kesimpulannya, me vs mom is over. Yang tertinggal hanya kenangan masa lalu untuk diambil hikmah serta pelajaran agar aku menjadi pribadi yang lebih berbakti kepada orang tua. Terutama kepada ibuku.

I love you Mom. Have a blessed life, here and hereafter.

~vi3nzz~

Islamic Village, Desember 2015

 

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com