1

Me vs Mom

Posted by Vienna Alifa on 22/12/2015 in Renungan |

Pertengkaran dengan Mama adalah hal yang kerap terjadi ketika aku remaja. Ada saja perkara yang membuat kami tak sepakat dan beradu argumentasi. Menurutku Mama sangat pengatur dan cerewet. Misalnya saat menyoal baju yang ingin kupakai dengan gaya sesuka hatiku saja dia bisa mengomel panjang lebar. Lalu ngotot memintaku menggantinya. Aku pun tak kalah bersikeras mempertahankan pilihanku. Ya, kami berdua, kata Papa, sama-sama keras kepala. Alhasil masalah pilihan baju tadi biasanya diakhiri dengan keridakrelaan di salah satu pihak. Kadang diriku jadi cemberut sepanjang acara keluarga sambil menyimpan gondok karena harus mengikuti keinginan Mama. Kali lain, Mama terus-mencela penampilanku karena aku sukses mempertahankan pilihanku.

Aku juga sering dibikin jengkel oleh aturan-aturan yang Mama buat tanpa kompromi, yang ditegakkan tanpa ampun oleh kaki tangan beliau: para pembantu di rumah kami. Mama adalah seorang wanita karir, yang sudah bekerja sejak ia belum mempunyai anak. Sampai anak-anaknya besar bahkan telah berumahtangga, Mama terus meniti karier sebagai pegawai negeri. Pengasuhan aku dan abangku sejak kami kecil banyak diamanahkan pada sekurangnya dua orang pembantu. Tentu tetap di bawah pengawasan ketat Mama.

Salah satu peraturan Mama yang paling malas kujalani adalah tidur siang. Ini berlaku saat aku masih usia Sekolah Dasar. Tiap pulang sekolah, usai makan siang, aku harus segera masuk kamar dan tidur. Dasar aku tipe anak yang susah tidur, jadilah aktivitas rutin itu lebih sering kuisi dengan baca buku, melamun atau menghitung jalannya detik jarum jam sambil berlatih gaya pura-pura tidur yang meyakinkan jika pembantuku datang mengecek tiap 15 menit. Hihihi…

 
Aku heran, para pembantuku itu rata-rata bagai jelmaan Mama. Mereka galak minta ampun dan susah dirayu. Kalau kulawan mereka dengan mulut, pasti akan sampai laporannya ke Mama. Akibatnya aku akan kena omelan Mama dan bakal ada sangsi tidur cepat untukku di malam harinya. Huh, sebal.

Seingatku, kebiasaanku beradu pendapat dengan Mama agak menurun intensitasnya setelah aku memakai jilbab, saat aku masuk kuliah. Ketika itu aku makin mendalami bahwa di dalam Islam berbuat baik terhadap orangtua adalah amalan yang begitu besar keutamaan dan nilai pahalanya. Sebaliknya, durhaka kepada mereka termasuk dosa besar. Aku lalu mulai berusaha menekan diri untuk tidak membantah perkataan Mama. Apalagi kepatuhan terhadap seorang ibu, kata Rasulullaah saw, harus dilipatgandakan sebanyak tiga kali daripada kepada ayah, membuatku merasa takut. Kuingat betapa banyak dosa yang sudah kulakukan selama ini pada Mama karena sering bersikap atau berbicara hingga menggores hatinya. Tapi ternyata tak mudah mengubah sisi keras kepalaku dan sikapku yang susah diatur itu. Aku betul-betul harus berjuang melawan ego, menundukkan nafsu dan melatih kesabaran setiap kali menemukan ketidaksepakatan dengan Mama. Sungguh susah! Karena sifat kami memang mirip.

Di awal-awal mengenakan jilbab, aku bahkan kerap bersitegang dengan Mama. Sejak aku baru menyampaikan niatku untuk menutup aurat, Mama sudah berkomentar miring. 

“De, bukan apa-apa ya, sekarang ini perempuan berjilbab itu susah kalau mau cari kerja di kantoran…” Mama berkata padaku dengan nada pesimis. 

 “Terus juga beberapa pegawai di kantor Mama tuh, pada pake jilbab, jadi susah dapet jodoh lho.”

Ih, ini sih, negatif banget responnya. Hampir saja aku menukas beliau dengan kata-kata tinggi. Tapi syukur segera dibela oleh Papa yang tidak setuju dengan pendapat Mama. Selain itu, aku juga paham, Mama mengungkapkan kalimat tersebut dilandasi rasa kekuatirannya saja yang kurasa berlebihan.

 

Mamaku orangnya modis. Baju, tas, dan sepatu “high heels”-nya harus senada. Jika berpergian, dandanannya selalu lengkap. Agaknya beliau kecewa ketika putri satu-satunya memutuskan untuk berpenampilan lebih sederhana dalam model busana muslimah yang memang di tahun 90-an belum banyak pilihan gaya. Karena masalah ini pula, aku pernah perang dingin dengan Mama beberapa hari jelang Ramadhan. Aku, yang baru melek syari’at Islam dengan semangat menggebu berusaha untuk mendakwahi beliau. Tapi sayang, semangatku itu tidak diiringi dengan cara yang baik. Jadi jatuhnya seperti menggurui, deh. Pantaslah kemudian Mama tersinggung ketika aku mengharamkannya dari bersolek saat keluar rumah serta membeberkan dalil-dalil pengharaman wanita bekerja. Heu…

Bertambahnya usia membuat kedewasaanku sedikit-sedikit meningkat. Aku mulai mengerti bahwa kebawelan Mama selama ini tak lain disebabkan oleh rasa sayang beliau yang begitu besar padaku. Kemarahan, kecemasan Mama yang berlebihan dan acapkali membuatku gusar mestilah sebuah ekspresi kepedulian serta perhatian beliau untuk kebaikan hidupku.

Saat aku memasuki kehidupan rumah tangga, Mama sedang jaya-jayanya dalam berkarir. Beliau menempati posisi yang cukup tinggi di kantor dengan fasilitas berikut penghasilan yang membuatnya begitu ringan mengalirkan lembar-lembar rupiah demi meraih kenyamanan hidup. Tak terkecuali anak-anak dan cucu-cucu pun terkena imbasnya. Mama seolah ingin semaksimal mungkin menopang ekonomi kami melalui berbagai kesempatan.

Tapi bukan berarti kami lantas senang-senang saja menerima pemberian Mama dengan tangan terbuka. Tentu ada rasa enggan yang muncul dari aku dan suami setiap Mama membelikan sesuatu meski cuma berupa perlengkapan rumah tangga. Aduh, bukannya kami tidak bersyukur atau tidak berterimakasih. Kami hanya ingin mencoba hidup mandiri. Kami ingin mengatur urusan rumah tangga sesuai gaya kami. Kami kuatir berbagai pemberian itu bepotensi memunculkan celah perselisihanku dengan Mama. Dan terbukti di seputar persoalan itulah kadangkala terjadi kesalahpahaman antara aku dan Mama.

Suka serba salah memang. Di satu sisi Mama ingin membahagiakan anak cucu dengan limpahan materi, di sisi lain kami merasa keberatan. Tetapi kami tak mungkin menolak mentah-mentah karena pasti akan menyakitkan hati Mama. Akhirnya kami berusaha mengambil jalan tengah sajalah. Sebisa mungkin, ya, menolak dengan halus. Namun kalau berefek bakal menyinggung hati Mama, mau tidak mau kami terima juga.

Hubunganku dengan Mama kurasakan malah semakin menghangat ketika aku hidup jauh terpisah dengan beliau dalam jangka waktu cukup lama. Ya, aku, suami dan anak-anak kami selama delapan tahun sempat hidup di negeri orang, tepatnya di Perth, Australia. Itulah untuk pertama kalinya aku hidup berjauhan dengan Mama. Betul-betul tanpa campur tangan beliau. Tanpa kritik dan pendapat Mama yang sulit ditentang. Di awal kepindahan aku merasa senang bisa berbuat sesuka hatiku tanpa kuatir akan komentar miring Mama. Tetapi tak lama aku menyetujui sebuah peribahasa Inggris, “Absence makes the heart grow fonder”; ketiadaan orang terkasih justru membuat hati lebih sayang padanya.  

Jarak dan waktu ternyata memberi ruang lebih banyak padaku untuk memikirkan Mama. Ketika aku harus berjibaku secara mandiri mengurus keluarga aku sering merindukan Mama. Tak jarang senyumku terkembang kala mengenang kebawelannya atau mataku membasah mengingat bermacam bentuk perhatiannya. Hatiku kemudian seperti diiris sembilu. Mama pun demikian. Suaranya tiap kutelpon menyiratkan hal sama yang kurasa. Dia rindu putrinya yang keras kepala.

*****

Kini tak terasa sudah tujuh belas tahun rumah tanggaku. Anak-anakku, cucu-cucu Mama, telah remaja. Mama sudah lama pensiun. Di usianya yang senja kulihat ia kian renta. Fisiknya melemah dan staminanya jauh menurun. Sifat pengaturnya dan kecerewetannya saja yang cenderung bertambah, hehe…

Walau demikian, aku semakin memahami cara Mama menyayangi keluarganya. Sebab gaya Mama kadang tercermin juga di diriku manakala kuhadapi anak-anakku. Huahuhu..padahal duluuu waktu masih gadis aku sampai bersumpah dalam hati, “Kalau aku jadi seorang ibu nanti, aku gak akan segalak Mama..”. Yaa…memang aku gak secerewet beliau siih, hahahaa maapin Dede ya, Maaa, tapi bila datang rasa cemas yang tinggi terhadap anak-anak, kadang aku akan menampakkan kemarahan, persis seperti Mama. Susah, deh yaa…kalau sudah turunan ‘galak-galak penyayang’.

Begitulah, mamaku barangkali tidak seperti sosok ibu yang menonjol sisi kelembutannya. Beliau mungkin bukan tipe ibu rumah tangga yang siap mendampingi anak-anaknya sepanjang waktu. Beliau juga bukan wanita yang memiliki keterampilan tertentu khas perempuan, semisal menjahit, menyulam, memasak, dsb. Tapi cukuplah dengan segala keterbatasannya itu membuatku selalu menyayanginya. Cukuplah tiap kali kuingat perdebatan dengannya, tekadku untuk menjadi anak shalihah di mata Allah senantiasa menguat. Kupikir itulah sebaik-baik cara dalam membalas jasa Mama sekaligus meraih pahala Allah swt. Cukuplah dengan segenap kelebihan dan kelemahannya membuatku tak pernah luput mendoakannya; agar Allah berkenan mengampuni seluruh dosa-dosanya dan mengaruniainya husnul khatimah di ujung hidupnya.

Kesimpulannya, me vs mom is over. Yang tertinggal hanya kenangan masa lalu untuk diambil hikmah serta pelajaran agar aku menjadi pribadi yang lebih berbakti kepada orang tua. Terutama kepada ibuku.

I love you Mom. Have a blessed life, here and hereafter.

~vi3nzz~

Islamic Village, Desember 2015

 

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com