0

Mampu Atau Tidak Mampu Itu Ada Ujiannya

Posted by Vienna Alifa on 13/05/2015 in Bilik Hati, Renungan, Tazkiyatun Nafs |

Ujian terberat pada kemampuan kita adalah kesombongan, sedang pada ketidakmampuan adalah kemalasan.

Benarkah?

Kalau ingin mendeteksi sifat sombong, mungkin bisa dicoba dengan mendata keunggulan kapasitas kita. Lalu pikirkan. Pasti ada setitik kebanggaan diri dari potensi semisal pandai menulis, jago orasi, terampil berkreasi, cakap berbahasa asing, pintar meneliti, piawai memimpin atau sekedar juara berpenampilan menarik.

Setitik bangga memang masih wajar. Bahkan perlu ditumbuhkan secara positif agar bermanfaat bagi orang lain. Tapi hati-hati, dari setitik itu juga dapat menjadi celah keburukan jiwa yang dibenci Allah bila berkembang membentuk kesombongan. Orang yang hatinya diliputi rasa sombong kelak akan menderita kerugian besar berupa hangusnya amal atau dibinasakannya semua hal yang membanggakannya dalam sekejap mata. Tak sampai di situ, kehidupan orang sombong di akhirat kan berakhir pada kenestapaan abadi sebagaimana sabda Rasul saw  berikut :

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. (رواه مسلم)

Tidak akan masuk surga seorang yang dalam hatinya ada sebiji dzarrah dari kesombongan. (HR. Muslim)

Bahkan seorang pendakwah pun dapat tergelincir ke neraka jika ceroboh berucap sesuatu yang mengisyaratkan kesombongan layaknya kisah dalam hadits berikut :

“Ada dua orang bersaudara; seorang di antaranya berlumuran dosa dan seorang lainnya taat dalam beribadah. Seorang yang taat setiap melihat saudaranya dalam keadaan berdosa ia berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Sampai suatu hari, ia menemukan saudaranya, itu sedang melakukan perbuatan dosa. Ia pun berkata, “Berhentilah melakukan dosa! Saudaranya yang melakukan dosa menjawab, “Biarkan aku yang akan bertanggung jawab kepada Tuhanku. Apakah kamu dikirimkan kepadaku untuk mengawasiku? Seorang taat yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu, atau Allah tidak akan menjadikanmu masuk surga. Setelah dua orang bersaudara meninggal dunia, keduanya berkumpul di hadapan Tuhan alam semesta alam. Allah berfirman kepada seorang yang taat, “Apakah kamu mengetahui keputusan-Ku, atau apakah kamu berkuasa untuk menentukan keputusan-Ku?” kemudian Allah berfirman kepada seorang yang berdosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” sedangkan untuk seorang yang taat, Allah berfirman, “Seretlah ia ke Neraka!
(HR Imam Ahmad)

Wal ‘iyyadzubillaah…

***

Sementara deteksi terhadap kemalasan barangkali bisa dicoba dengan cara meneliti berbagai aspek kelemahan kita. Lalu renungkan. Adakah terbesit keengganan dalam membenahi tiap kekurangan diri seperti sulit konsentrasi, lambat
menghitung, tidak terampil, kurang rapi, cenderung pasif, selalu terbelakang dalam berinisiatif, dsb?

Sebersit memang kadang lumrah atas nama pemakluman terhadap kekurangan yang ada di setiap manusia. Namun waspadai jika perasaan ini terus dibiarkan apalagi sampai dipelihara. Sebab bukan mustahil, ia akan bertambah kuat, membesar serta mengakar di jiwa membentuk karakter pemalas. 

Bila kondisinya semakin akut, seorang pemalas biasanya akan mudah menyalahkan takdir Allah.

“Ah emang sudah dari sananya saya punya kekurangan ini itu. Gak bisa berubah lagi.”

“Yang bikin kondisi fisik saya begini, kan Allah. Jadi ya sudahlah terima aja ketidakmampuan saya…”

Akhirnya kemalasan yang mengendap berpotensi membuat aqidah jadi keropos. Pelan tapi pasti. Sedikit demi sedikit.

Padahal di luar sana, alangkah banyak manusia yang berhasil meraih prestasi luar biasa meski dalam kondisi tak sempurna baik secara jiwa maupun raga. Disebabkan kegigihan dan ketekunan akhirnya mereka sukses melampaui ketidakberdayaaan diri.
Itulah buah manis jika kemalasan telah sekuat tenaga kita perangi dan tundukkan.

Begitulah kemampuan dan ketidakmampuan mutlak menghiasi pribadi kita sebagai insan tak sempurna. Di antara keduanya Allah ta’ala tidak hanya menyelipkan ujian tapi juga kesempatan untuk mengintrospeksi diri agar tak terjatuh pada kerugian akhirat saat menyikapinya.

Maka amat pantas jika kita meminta perlindungan pada Allah terus menerus agar jiwa tak sampai menyandang predikat sombong dan malas akibat kegagalan ujian kita.

اللهم إنا نعوذ بك من الكبر والعجب والريا والسمعة

Ya Allah kami berlindung dari sifat-sifat tercela; sombong, membanggakan diri, riya dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.

vi3nzz
|karawaci,12052015

#notetoself

vi3nzz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com