0

Jum’at Berbunga

Posted by Vienna Alifa on 15/11/2013 in Coretan Hati, Kenangan, Pendidikan |

Pada suatu kesempatan sholat Jum’at yang rutin dilakukan di sekolah, hati saya melambung tak karuan. Gara-gara ulah dua bocah wanita kenes dan cantik yang nempel kayak perangko sepanjang waktu sholat.
Yang satu memakai bando pink, keturunan Pakistan. Satu lagi berkacamata, asal Afghanistan.

Sejak sebelum khutbah mereka sudah ribut komentar,

“I like your bracelet.”

“I like your scarf-your socks-your pin.”

“Your breath smell like licorice.”

Padahal saya baru lunch sandwich isi salami. Kan mustinya bau gurih-asin gitu yak. Hihihi…

Ketika khutbah, mereka sebentar-sebentar bisik-bisik..

“Are you sleepy?”

Kulirik si gadis Afghanistan dengan mata lima watt.

“How many people in your family?
“I have four! My dad-my mom-my brother and I.”

Belum sempat saya jawab, gadis yang berwajah selalu tersenyum itu sudah menjelaskan kondisinya duluan.

“But my mom has died when I was a baby”, lanjutnya ringan masih dengan senyum mengembang.

Saya langsung tercekat.

“Ohh…I’m so sorry. So, you live only with your dad and your brother now?”, saya tanya hati-hati. Penasaran. Ingin memastikan kalau dia memang happy hidup tanpa ibu.

“Nope. I live with my brother’s mom also…”

“Ooooooowwh….”, saya hanya bisa ber-ooooh panjang.

Tampang saya barangkali langsung terlihat bloon. Melongo, manggut-manggut berusaha mengerti. Sementara pikiran masih berputar mencerna, hmm…berarti bapaknya nikah lagi dengan janda beranak satu. Halaah, kantuk bikin otak jadi lola begini.

“Sister, I can’t put my scarf properly. My hair always come out..”, si cantik berbando pink menyela pembicaraan batinku.

Segera saya rapikan letak jilbab gadis mungil berdarah Pakistan itu. Celah jilbab untuk wajahnya memang rada longgar. Dia butuh peniti sebetulnya. Tapi saya tak punya cadangan. Akhirnya saya selipkan kelebihan kain jilbab ke kiri dan kanan pipinya. Sambil saya jawil sedikit pipi halus dan merahnya. Nggemeesin siih!

Bla..bla..bla…

Bisik-bisik masih berlanjut sesekali. Meski sudah saya beri isyarat dengan menempelkan telunjuk di bibir. Serta saya tegur halus, agar mereka diam sejenak dan mendengarkan khutbah.

Tapi anak kelas satu itu ya…
Tetaplah belum paham benar wajibnya mendengarkan khutbah jum’at dengan tenang. Isi khutbahnya saja mereka tak paham tentang apa.

Mereka kadang masih saling melempar senyum, menyembunyikan tawa, mencorat-coret karpet dengan jari, diam-diam bercanda, iseng mempermainkan ujung kerudung, gelang, atau hal-hal lain di dekatnya.

Seringkali saya harus menahan geli saat memperhatikan tingkah anak-anak kelas satu dan dua, di mana saya ikut bertanggungjawab mengawal mereka setiap sholat. Jum’at. Walaupun tak harus selalu pula saya menampakkan sikap berwibawa atau sok galak. Supaya mereka tahu, ketika saya tak menyetujui sikap mereka, bukan berarti saya tidak memaklumi kecenderungan mereka yang manja, masih suka gelendotan, tak bisa diam, iseng, polos, tak sungkan bertanya tanpa peduli situasi dan kondisi, dsb. Sehingga adakalanya saya pun tersenyum lepas atas ulah mereka atau cekikikan bareng.

Apalagi saat sholat berlangsung. Sudah jamak deh melihat anak-anak itu saling tengok ketika sujud, senggol-senggolan, cengar-cengir, pura-pura batuk kencang, mata jelalatan, goyang kesana kemari, dan sejumlah gerakan konyol yang saya pun pernah melakukannya di waktu kecil. Heuheu. Iya, iyaa…ini udah ngakuuu.

Biarpun begitu, pengkondisian mengikuti ritual ibadah bagi anak-anak sejak dini, minimal mulai usia tujuh tahun (sesuai pesan Rasulullaah saw) bagi saya tetap penting dijalankan. Sebab sebuah kewajiban yang diawali dengan pembiasaan sedari kecil akan lebih mudah dipraktekkan secara serius (menghadirkan hati) manakala sang anak mencapai usia dewasa.

Jika kebiasaan baik seperti menyikat gigi sebelum tidur atau mengucap terimakasih atas pemberian orang lain kerap kita tanamkan sedari mereka kecil, maka semestinya melatih praktik ibadah harus lebih kuat kita usahakan.
Sebab itulah sesungguhnya kewajiban orangtua yang pokok. Yaitu membekali keturunannya dengan aqidah yang kokoh berikut penerapannya terutama melalui ibadah shalat.

#####

Usai sholat Jum’at, si kacamata yang selama duduk tadi acap menyandarkan kepalanya di bahu saya, memeluk pinggang saya erat. Si Pakistan buru-buru mengikuti. Mencari sisi pinggang saya lainnya.

“We wont let you goo..”

“You must stay with uusss…!”

Pekik mereka girang seraya mengencangkan pelukannya. Seolah yang dipeluk bakal menolak meronta. Padahal jiwa korbannya lagi melayang ke tempat yang tinggiii.

Betul-betul ge-er, kaan…dakuh! Serta merta kesyukuran pun menyusupi relung jiwa ini. Meski anak perempuan yang saya idam-idamkan sejak lama belum hadir dalam dekapan, tapi rindu serasa terobati tatkala ada murid-murid cewek yang tiba-tiba memeluk saya di sekolah. Baik saat mengajar ataupun cuma berpapasan. Apalagi kalau pake lamaaa dan dikencangkan gitu. Iihh, pengen tak culik aja ke rumah. Ahahaha…

Lagian guru mana sih yang tak merasa amat berarti ketika menerima hal-hal sederhana sebagai bentuk perhatian sang murid. Iya kan, Pak dan Bu guru?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com