0

Jentera Kan Terurai

Posted by Vienna Alifa on 27/03/2013 in Cinta, Coretan Hati, Karya, Renungan |

Banyak orang menikmati hidup merantau. Namun pepatah melayu, “setinggi-tinggi terbang bangau, hinggap di belakang kerbau juga”, selalu terbukti kebenarannya. Naluri para perantau untuk kembali berteman dengan hawa kampungnya, kendati usia sudah ‘bau tanah”, sulit dibasuh oleh gemerlap hidup di negeri orang. Sejarah masa kanak-kanak hingga dewasa dengan segala proses yang menyertainya telah terpahat kokoh di benak mereka. Semua ini hadir dalam bentuk nostalgia yang mengalirkan airmata rindu dan menajamkan hasrat untuk pulang. Tingginya biaya atau jauhnya jarak tak kan jadi halangan: pokoknya harus pulang, entah kapan.

Syahdan manusia berhati paling mulia, teladan umat Islam sedunia, tak luput jua dari efek fitrah kerinduan pada tanah lahir ini. Tatkala terdengar untaian sajak dari mulut Ashil, salah seorang sahabat beliau s.a.w., butir-butir air seketika berloncatan dari dua bolamatanya, tak terbendung bercucuran ke celah pipinya. Kerinduan akan Mekkah jelas tergambar di wajah bak purnama itu. Ia hanya berseru lirih, “Wahai Ashil biarkan hati ini tentram…”

Ah, diriku jelas dapat merasakan gelombang rindu serupa. Ragaku ini terpisah ribuan kilometer dari bumi pusaka. Sebagian besar memori pahit manis telah tertancap di relung. Peristiwa-peristiwa masa lalu begitu mendominasi ingatan. Orang-orang terkasih, pemilik hati yang terikat oleh darah, kesamaan fisik, bahasa dan budaya, ada di negeri seberang.
Rindu ini memberiku lahan untuk menanam keberpihakan terhadap tanah air, yang tak akan sirna atau surut ditelan waktu. Biarpun hanya sebersit rindu yang muncul, kukira cukuplah itu sebagai pertanda rasa nasionalisme yang tertanam dalam fitrah manusia. Dari jauh, negeriku tetap kucinta. Padanya ingin selalu kusumbangkan perbuatan nyata.

***

Australia, negeri tempat hijrahku kini, terkenal dengan kekokohan ekonomi, kemajemukan penduduk dan efisiensi sistem pemerintahannya. Berbagai fasilitas publik dan infrastruktur dibangun demi melayani rakyat yang telah taat membayar pajak. Tata kota yang begitu rapi, teratur dan terencana membuat warganya nyaman untuk bertempat tinggal serta beraktivitas sehari-hari. Ketertiban dan kedisiplinan jadi budaya. Penggangguran diberi pesangon sembari dicarikan kerja. Pendidikan gratis. Tunawisma dan pengemis cuma ada satu-dua (setidaknya di Perth, tempatku bermukim). Para penyandang cacat dan lansia bahkan punya program hiburan rutin setiap minggu. Singkatnya, hidup terasa mudah dan tentram disini.

20130327-152448.jpg

Keadaan ini selalu menjadi topik perbincangan antar rekan sebangsa. Di berbagai kesempatan dalam beragam komunitas, lewat jalur darat atau maya, serba-serbi Australia disuarakan dengan nada yang dominan merdu. Decak kagum dan binar nikmat atas tercapainya kesejahteraan hidup di negeri orang pun menyertai perbincangan itu. Sadar atau tidak, kami kerap membandingkan keadaan di sini dengan kondisi tanah air. Kalau sudah begini, tumpahlah segala uneg-uneg, kekecewaan, keluhan, bahkan tak jarang hujatan. Kadangkala aku pun larut meng-iya-kan, ikut memerinci setiap borok Indonesiaku yang tiba-tiba saja nampak kian parah dilihat dari jauh. Luka Ibu Pertiwi terlihat semakin menganga.

“Disini tuh ya, kalau mau bangun rumah bertingkat harus minta persetujuan Council dulu supaya bisa dipastikan gak ganggu rumah di sebelahnya.”

“Coba di Indo, beuuh semrawuut! Daerah pemukiman malah dibuat ruko, asal setoran ke Pemda-nya kenceng. Kan bikin macet. Trus, lama-lama jalanannya ancurr… Saluran air gak diperhatiin pula. Ntar banjir baru pada kelimpungaan. Dirombak lagi tuh jalan. Duit lagi, dikorupsi lagi. Huhh, capek dee…”

“Asyik ya naik bis atau kereta di sini. Biarpun harus nahan laper karena gak boleh makan-minum didalemnya, tapi jadi lebih nyaman, karena selalu terjaga kebersihannya.”

“Eh tau gak di Indo sekarang…jangankan makan minum…, jualan rokok, mainan, majalah, pulsa, sampe tukang ‘obat’ aja adaaa di dalem bis!”

Begitulah kira-kira isi pembicaraan saat orang-orang membandingkan negeri ini dengan Indonesia. Tak jarang kita lupa jumlah penduduk yang jauh tak berimbang antara Australia dan Indonesia. Kita juga abai tentang budaya, sistem pemerintahan, iklim, bentuk negara yang tak mungkin disamakan.
Padahal saat mengkritik negeri sendiri di kejauhan, kita kerap melakukan kesalahan yang sama di negeri orang. Lihat betapa banyak orang Indonesia yang masih melestarikan budaya jam karet saat berinteraksi dengan bule-bule di sini. Adakalanya pula kita nekat melanggar peraturan di tanah rantau dengan dalih “sesekali tak apa-apa lah…”. Sambil memaki bangsa sendiri, kita tampilkan citra buruk bangsa dengan sikap pribadi.

Hal itulah yang membuatku terus merenung, tentang seperti apa baiknya sikap seorang Indonesia di negeri seberang. Aku sadar, menakar dan menilai negara kita dari jauh memerlukan kehati-hatian. Kita tak melihat langsung persoalan di tanah air. Informasi tentang itu kita perolah dari media massa.

Bersyukurlah aku hidup di zaman yang teknologinya kian canggih. Info terkini dari sanak saudara berikut kabar dalam negeri dapat ku akses secara cepat lewat berbagai media telekomunikasi. Ibarat membuka jendela rumah, internet membuat sosok peristiwa di sisi dunia manapun terasa seperti berlangsung di tetangga sebelah. Dengan sekali klik, berita seputar Indonesia dapat kureguk sambil sarapan atau memasak. Semua berita begitu mudah didapat secara lekas, mulai dari yang heboh sampai yang ecek-ecek, yang menyoal isu pemerintah, politik, ekonomi, hukum, lingkungan, budaya, hingga isu seputar para selebriti.

Sayangnya, mengobati rindu di media massa jarang menyisakan rinai bahagia di wajah. Yang bercampur-baur di dada malah rasa prihatin, miris, muram, geram, sendu, menyaksikan maraknya ketidakadilan, kemiskinan, kesewenang-wenangan, kelaparan, kepalsuan dan bermacam kebobrokan moral di seantero negeriku. Apalagi beberapa media informasi punya kepentingan masing-masing yang memperkeruh suasana dengan menyajikan berita sepihak, tak lengkap, dibumbui atau bahkan direkayasa.

Ada kasus mafia pajak dan elit politik yang sibuk berjual beli demokrasi. Ada seri kisah seluk beluk korupsi pejabat di berbagai level. Saat yang sama kecaman terhadap kinerja pemerintah terus mengalir, sambil kita dibuat murung oleh pendidikan yang tak merata dan menyimpan segudang permasalahan. Sementara itu kriminalitas merajalela dengan berbagai modus operandi. Belum lagi bertaburannya ancaman bom dan isu terorisme. Masyarakat juga terancam oleh meningkatnya kuantitas dan kualitas penyakit infeksi, saat mereka dibebani oleh pertikaian antar warga, gank, suku sampai umat seagama. Mau makan pun sulit, pengangguran meningkat, TKW/TKI tercecer dan teraniaya di negeri orang. Jurang kesenjangan sosial tak terjembatani. Polusi menjadi-jadi. Kemacetan dimana-mana. Pengemis wara-wiri. Anak jalanan berkeliaran… Hiburan? Paling isinya berita para selebritis yang mengumbar seks bebas dan kerjanya kawin cerai.

Aaarrghhhh… Aku tak sanggup meneruskan. Hatiku bagai teriris memikirkan carut marut wajah Indonesia. Perih seolah menggumpal di kerongkongan, membuat nafasku sesak dan sulit menelan ludah seteguk pun. Ingin teriak namun tak kuasa, ingin menangis tapi sunyi airmata. Daftar keruwetan itu masih panjang. Tiba-tiba aku seperti melihat jentera, gulungan benang kusut di atas negeriku. Betapa rumit, tak jelas ujung pangkalnya. Rasa skeptis serta merta menjangkitiku, layaknya orang-orang asing yang takut melihat kondisi Indonesia karena isu teroris, penyakit, dan ketidakamanan. Padahal di sisi lain aku selalu menanti waktu mudik, melamunkan panorama alam Indonesiaku yang acap melatari mimpi-mimpi. Kontras, bukan?

Hingga datanglah berita buruk yang bertubi-tubi…

Bukan, ini bukan sekedar tentang gempa kecil, polusi, atau banjir di Jakarta yang biasa muncul tiap penghujan. Musibah kali ini lebih mengejutkan, lantaran datang secara beruntun. Banjir di Wasior-Papua, gempa dan tsunami di Mentawai-Sumbar, serta erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta terjadi berkejaran lekas. Silih berganti kusimak kabarnya langsung, baik dari korban maupun pengamat setempat yang menjadi kawan-kawanku di jejaring sosial. Kutelusuri info-info terbaru di situs berita. Kupantau perkembangan saudara-saudaraku disana setiap hari.

Dalam hitungan jam sejak bencana terjadi, teman-temanku di dunia maya mulai bergerak. Mereka menulis apa saja yang bisa dilakukan melalui komunitas pertemanan di internet. Mereka bergerak menghimpun dana, mengerahkan massa, mencari tenaga relawan, meng-update berita atau hanya sekedar mengirim do’a dan menularkan rasa empati dengan kisah-kisah nyata penuh duka. Dimana-mana kudapati buah tangan mereka, tersemat ketulusan dan kepedulian di dalamnya. Nomor rekening, jumlah uang yang terkumpul, baju layak pakai, bahan makanan, perlengkapan sekolah, dan daftar pengungsi, berseliweran memenuhi layar di depanku…

Saat itulah aku terhenyak. Jantungku serasa berhenti sejenak. Hatiku mendengungkan sebuah pertanyaan besar yang lebih terasa sebagai teguran pada diri: Hei, apa yang sudah kau lakukan untuk negerimu di tanah rantau ini?

Alangkah malunya diri ini saat membayangkan lisan yang pernah melontarkan nada sumbang tentang tanah kelahiran. Aku mengaku kerap merindu, namun mengapa kutarik hatiku menjauhinya? Aku bercita-cita pulang, menghabiskan sisa umurku di sana, tapi kenapa aku kuatir hidup di dalamnya? Jika benar seluruh hatiku mencintainya, lantas kemana hilangnya rasa percayaku padanya? Bagaimana mungkin integritas bangsa akan tegak jika rakyatnya sendiri mencecar segala kekurangannya tanpa jeda? Apakah harus datang bencana alam terlebih dulu, baru aku menautkan kepedulian padanya?

Sejak itu kutengok lagi diriku dengan hati-hati. Apa yang harusnya tak kulakukan terhadap negeriku dari jauh? Apa yang harus kutekadkan untuk tak melakukannya lagi? Kutanya juga pada diri, apa yang telah kulakukan buat negeriku dari perantauan? Apa yang bisa terus kulakukan?
Hatiku berbisik: Bersikaplah optimis. Betapapun suramnya negeriku, aku tak boleh dan tak ingin pesimis. Harapan itu akan tetap ada selagi putra putri bangsa yang tanpa pamrih terus bekerja bahu membahu meringankan beban negeri. Seperti halnya mereka diatas, kawan-kawanku yang kulihat dibalik monitor komputer tadi.

Hatiku pun mengurai satu-persatu, hal yang mungkin bisa kulakukan terus bagi Indonesiaku, baik berkaca dari tindakanku sendiri maupun perilaku kawan-kawan di sini.
Aku melihat betapa pentingnya peran serta dalam komunitas sosial setempat dengan menunjukkan jati-diri bangsa, yang ramah, tekun dan ulet. Aku bangga selama ini mampu berbaur dengan manusia dari berbagai negara guna mengambil pelajaran dari kebiasaan dan sikap positif mereka sehingga tidak seperti katak dalam tempurung. Dengan cara itu, kukabarkan tentang negeriku yang sebenarnya pada mereka. “Setiap kita adalah duta bangsa”, begitu kata sebuah ungkapan klise namun selalu terbukti benar. Maka penting bagi kita semua untuk menunaikan misi kita sebaik-baiknya sebagai pelajar, pekerja atau warga Indonesia yang tinggal di luar negeri. Misi itu adalah: mengenalkan negeri kita yang sebenarnya, memperkenalkan budaya bangsa terutama lewat perilaku kita.

Jika orang bule kuatir tentang terorisme, kubuktikan bahwa orang Indonesia bukan teroris dan seorang Muslim tak menggunakan kekerasan. Jika kita lelah membaca konflik antar masyarakat di tanah air, maka upaya menggalang kebersamaan dan persatuan melalui organisasi-organisasi masyarakat Indonesia yang ada di Australia sungguh sangat penting.

Alhamdulillah, lewat interaksiku di tempat kursus, teman-teman mancanegaraku semakin banyak yang memahami budaya Indonesia. Tak jarang aku tersenyum oleh usaha mereka yang menyapaku dengan bahasa Indonesia beraksen aneh dan patah-patah. Aku pun bersyukur dapat terus terlibat di kepengurusan beberapa ormas Indonesia. Dengannya, aku bisa menebus rasa bersalahku pada tanah tumpah darah lewat aksi pengumpulan dana bencana, juga dengan berpartisipasi secara aktif dalam forum-forum kepedulian bagi bangsaku.

Semoga peran kecilku disini termasuk setitik dari kumpulan cairan ‘obat penyembuh’ luka Ibu Pertiwi. Aku yakin, sedikit kebaikan yang terangkum dari tiap individu bila dipadukan dalam satu kehendak akan menghasilkan energi yang luar biasa dan kerja nyata yang mampu membuat Indonesiaku tersenyum kembali. Seperti halnya keyakinanku atas janji-Nya: ”..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”

Inilah bukti cintaku: menaruh percaya padamu, duhai Indonesiaku. Ku kan selalu bersikap optimis tentangmu, sambil tak lelah kuberikan sumbangsih dari jauh. Dengan ini semua, kuyakin, jentera itu pasti akan terurai.

20130327-152744.jpg

|2011
From Perth with Love…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com