0

Istirja’

Posted by Vienna Alifa on 01/07/2016 in Coretan Hati, Kidz, Kisah, Qur'an, Ramadhan, Tazkiyatun Nafs |

 

Innaalillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun.”
Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Minggu lalu, kalimat istirja’ di atas saya maknai betul sambil terlarut dalam tangisan. Tepatnya sesaat setelah saya mendengar sekelebat info dari suami via sambungan telepon interlokal Jakarta-Perth. Suami saya dengan suara cemas dan sedikit gugup bertanya, “Kamu dapet kabar tentang Hamzah gak di grup wa? Kata Papa dia kecelakaan.”

Deg! Persendian saya seolah lunglai dan jantung saya langsung berdegup super kencang. Saya pun terduduk seketika. Saat itu saya baru saja hendak masuk ke area wudhu Masjid Ibrahim, Southern River. Waktu di Perth hampir menunjukkan pukul 7.30 malam di mana shalat isya dan tarawih sebentar lagi akan dimulai.

Sayangnya suami saya juga tidak begitu detil mendapat berita tersebut. Dia meminta saya untuk menanyakan ke grup wali santri karena dia sendiri ingin bergegas memacu kendaraan ke pesantren tempat anak kedua kami belajar. Dengan jari-jari gemetar saya memutus sambungan telepon dan cepat-cepat mengetik kata-kata mohon bantuan ke grup wa. Saya juga coba mengontak nomor salah satu Ustadz penanggung jawab asrama. Tapi telepon tak kunjung diangkat sampai kemudian terdengar suara iqamah dari dalam masjid.

Pikiran saya masih sangat kalut. Tapi saya harus segera berwudhu. Dalam kondisi tiada daya dan upaya saya seperti disentak oleh pemahaman bahwa ini bukan urusan saya. Ini urusan Allah. Tak ada cara yang lebih baik selain menyerahkan semua persoalan pada-Nya, Penguasa segala sesuatu. Dan shalatlah sebaik-baik sarana berserah itu. Saya pun berusaha menjalani shalat isya’ meski bayangan buruk tentang anak saya nun jauh di sana terus menghantui.

Saat ada jeda shalat isya’ dan tarawih saya coba mengintip HP. Belum ada perkembangan kabar yang berarti sampai shalat tarawih dimulai. Cuma istighfar yang saya mampu banyak bisikan dalam resah. Pada rangkaian empat rakaat (2-2 raka’at) pertama airmata saya terus mengalir. Di situlah kemudian pikiran saya larut antara menyimak ayat-ayat yang dibaca imam dan menekuri makna kalimat istirja’.

 

Kita milik Allah.
Kita milik Allah.
Kita ini milik Allah.
Anak, pasangan hidup, orang tua, saudara, bahkan diri sendiri adalah milik Allah. Tak ada yang abadi untuk kita miliki karena semua akan kembali pada Allah. Rela maupun terpaksa. Suka ataupun tidak. Allah pasti akan mengambil kepunyaan-Nya pada waktu yang sudah ditetapkan.

 

Hamzah pun milik-Mu, ya Allah. Rindu saya belum genap tapi Engkau menghendaki ada sesuatu yang terjadi padanya. Entah apa, bagaimana. Saya tak paham. Ikhlas-sabar-syukur harus dimunculkan. Ayo Vien, ini ujianmu. Hati saya berbisik, mata saya sembab. Saya menahan isak tiap bersujud.

Ketika ada jarak agak lama sebelum masuk ke rangkaian empat rakaat berikutnya, saya buru-buru periksa HP lagi. Saya gerakkan layar secara cepat agar langsung tertuju pada kabar yang ditunggu. Lalu tampak beberapa foto. Saya klik dan terlihatlah wajah Hamzah anak saya. Ia tersenyum bersama temannya. “Hamzah baik-baik saja, bunda. Dia lagi makan di kamarnya“, demikian salah satu pesan yang terbaca.

Alhamdulillaah. Allahu Akbar. Saya tarik nafas lega sedalam-dalamnya.
Tarawih masih berlanjut. Airmata saya masih mengalir. Bahkan lebih deras. Tapi kali ini hati saya diliputi kesyukuran. Saya bersyukur karena berita tadi tidak benar. Saya bersyukur dikaruniai teman-teman sesama orang tua santri yang sigap membantu serta menunjukkan empati begitu besar. Dan yang paling saya syukuri adalah perasaan pasrah yang hinggap di dada hingga terasa betul diri ini hanya menggantungkan segala harapan kepada Allah semata.

Ternyata keterkejutan saya belum final. Usai tarawih, saya kembali memeriksa pesan-pesan di What’s App. Saya tersenyum begitu membuka file foto kiriman suami. Foto Hamzah bersama Abinya tampak ceria di dalam kamar pesantrennya. “Alhamdulillaah, ya Allah“, desis saya lirih. Tapi tak lama tubuh saya kembali lemas begitu saya buka pesan dari Rina Savitri Nina, ipar saya. Begini kurang lebih bunyinya:

“Miii…., Mama ketipu 8,5 juta! Dia
dpt telpon katanya Hamzah naik motor nabrak org. Mama panik sampe nggak inget ngehubungin akuu…”

Ya Allah…
Kena juga keluarga saya dengan model penipuan begini. Arghh, nyesek rasanya ngebayangin Mama panik, bingung dan harus transfer uang segera pada si penipu.
Lots of praying for you, Mom…😢💖

Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun.
Kalimat istirja’ sungguh tak harus berkenaan dengan musibah kematian. Tetapi juga untuk tiap musibah kehilangan atas segala nikmat yang pernah kita miliki. Supaya manusia sadar bahwa ia memang tak pernah memiliki apapun kecuali hanya dititipkan sejenak saja oleh Pemilik dunia dan seisinya ini.

Sungguh semua yang kami miliki sejatinya milik-Mu ya, Rabbanaa.
Lapangkanlah dada kami.

~vi3nzz, Ramadan 1437H
@Gosnells, WA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com