0

Dua Pasang Fase Hidup

Posted by Vienna Alifa on 24/08/2015 in Bilik Hati, Kidz, Renungan |

 

Rumah kembali sepi.
Anak-anak sudah menjalani amanahnya; belajar di sekolah sekaligus hidup mandiri.
Si sulung telah terbang ke negeri orang, melanjutkan studinya di jenjang SMU.
Sedangkan sang adik baru saja memulai pengalaman barunya di pesantren kemarin sore. Keceriaan masa liburan pun berakhir.
Meninggalkan sejumlah kenangan dan kerinduan di hati masing-masing.

 

🎇🎇🎇

Begitulah fase hidup di dunia, batin seorang ibu yang sok merenung di tengah senyapnya rumah, sambil membayangkan beberapa kisah manusia yang ditemuinya selama silaturrahim lebaran kemarin.

Bahwasanya susah-senang, sedih-bahagia, senantiasa dipergilirkan lewat bermacam kejadian yang kadang menguras airmata, kadang mengurai gelak tawa.

Tak terasa kemarin masih bisa bersenda gurau menghangatkan rasa bersama buah hati. Kini, hanya hampa tersisa di dada.
Seringkali kita masih tersenyum riang bersama orang-orang terkasih di pagi hari, namun sore hari airmata kesedihan meleleh tak terbendung karena hilangnya mereka dari hadapan.

 

“Wa annahuu Huwa adhhaka wa abkaa”
Dan sungguh Dia-lah Yang menjadikanmu tertawa dan menangis. (Qs. An-Najm:43)

 

Padahal hanya kehilangan sementara. Bagaimana kalau selamanya? Bagaimana bila kondisi kehilangan mengenaskan semisal yang menimpa orang tua dan anak-anak di Palestina di mana mereka kerap menyaksikan keluarganya dihabisi di depan mata, terjadi pada diri? Pasti mental ini kan terguncang hebat.

Padahal hanya kehilangan ikatan, kehilangan pekerjaan, kehilangan kedudukan, kehilangan kekayaan, kehilangan kecerdasan, kehilangan kebugaran, kehilangan kerupawanan. Bagaimana jika kehilangan keimanan? Yang justru menjadi penguat hati ketika dicabut setiap nikmat secara tiba-tiba ataupun perlahan.

“Afalaa tatafakkaruun?”

 

Kalau tidak ingat tentang kepastian terkandungnya UJIAN dalam semua fase yang saling berpasangan itu, barangkali akal sudah jungkir balik. Bermacam penyakit jiwa dari level terendah hingga terparah sangat mungkin menerpa.

Kalau tidak sering dicamkan bahwa tiap ujian jadi penentu apakah kita layak disebut sebagai hamba yang bersyukur atau tergolong kufur, maka goncanglah keyakinan.

Kalau tidak bolak-balik memahami bahwa tiap ujian jadi pemilah apakah kita pantas dijuluki sebagai hamba yang bersabar atau termasuk mereka yang berputus asa, maka hilanglah ketabahan.

 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
(Qs. Al-Ankabut:2)

 

Maka selagi nyawa masih terpegang, nafas masih teratur sungguh kesempatan masih terbentang. Kesempatan melakoni pekerjaan dengan ikhlas adalah bagian dari memoles iman dengan amal. Kesempatan menjalani pendidikan dengan tekun adalah bagian dari memupuk iman dengan ilmu.
Semoga rutinitas hidup yang kita lalui senantiasa dihiasi paduan syukur-sabar sampai ditutup oleh episode terindah pada akhirnya.

Allahummaj’al khayra ‘amaalii khawaatimahu.

 

 

~vi3nzz,2015~

#renungansesaat
#sebelumlanjutkerja

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com