4

Do’a Adalah Bekal

Posted by Vienna Alifa on 04/03/2013 in Cinta, Coretan Hati, Kidz, Pendidikan, Renungan, Tarbiyah |

Siapa yang bisa menyangkal kekuatan sebuah do’a? Tentu tidak ada makhluk beriman yang hendak menolak keampuhan do’a untuk menggenapkan ikhtiar. Do’a dari diri kita sendiri dan do’a dari orang lain untuk kita punya derajat kekuatan yang sepadan. Meski kita berdo’a siang malam demi kemudahan urusan, keberhasilan usaha, keluasan rizqi, ketundukan hati, keberkahan hidup, kita tetap butuh bantuan do’a juga dari orang lain. Orang yang lisannya sungguh mujarab dalam mendoakan kita tak lain adalah orangtua kita sendiri. Do’a orangtua bakal diprioritaskan, seperti telah dijamin oleh Rasulullaah saw dalam sabdanya : “Tiga macam do’a yang tidak di tolak, yang tidak di ragukan lagi kedahsyatannya, yaitu do’a kedua orangtua untuk anaknya, doa orang musafir (yang sedang berpergian) dan do’anya orang yang di dzalimi.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Huraihah).

Saat masih gadis, saya kurang menyadari bahwa segala kebaikan yang saya dapatkan itu diwarnai oleh do’a orangtua. Namun setelah menjadi orangtua, barulah saya paham tentang peran do’a ini. Sejak menjadi orangtua, saya jadi tahu betapa mendidik anak itu luar biasa sulit. Beban kewajibannya amat berat. Pertanggungjawabannya langsung ke Allah swt. Amanah yang menyejukkan mata ini bisa berubah menjadi fitnah jika saya tidak serius mengajarkan syari’at-Nya. Sungguh mustahil jika saya atau orangtua muslim manapun sanggup memikul amanah ini tanpa tambahan kekuatan do’a.

Maka sejak awal masa kehamilan saya kawal setiap anak dengan do’a berbalut harap dan cemas. Fokus do’a saya bukan supaya si anak tumbuh sebagai anak shalih, sehat, kuat atau apalah yang intinya memuat kebaikan baginya. Saya lebih meminta kesanggupan untuk mendidik anak itu kelak. Saya betul-betul berharap agar tidak menyalahi aturan-Nya saat membesarkannya nanti.

Alhamdulillaah sampai anak saya yang sulung berusia 14 tahun dan yang kedua berusia 11 tahun kini, cukup banyak saya menyerap pengetahuan tentang pendidikan anak. Lewat berbagai seminar parenting, buku-buku, diskusi dengan para ahli atau menyelami pelajaran dari mereka yang lebih berpengalaman, ilmu itu mengalir. Saya pikir, inilah salah satu cara Allah mempersiapkan kesanggupan saya sebagaimana yang kerap saya pinta.

Lalu sedikit-sedikit saya coba aplikasikan setiap pengetahuan itu sesuai kemampuan. Kadang saya berhasil, kadang saya merasa gagal mencapai apa yang saya harapkan dalam mendidik anak. Saya merasa bahwa ketika ada kegagalan, penyebabnya bukan karena anak-anak saya sulit diatur, melainkan karena inkonsistensi saya dalam menerapkan sebuah pola pendidikan bagi mereka.

Biasanya, di saat merasa gagal itu saya didera oleh kelelahan. Rasanya iman saya merosot amat tajam. Kadangkala perasaan-perasaan yang melemahkan jiwa begitu mendominasi. Saya takut keliru mendidik anak, risau melihat efek pergaulan remaja jaman sekarang, serta cemas tak karuan bahwa saya telah abai menjaga titipan Allah tersebut.

Di saat-saat seperti inilah kekuatan do’a kembali saya jadikan andalan. Benak saya ikut bekerja memutar ulang pesan dari para ustadz dan ustadzah terkait do’a untuk generasi penerus. Ada beberapa hal yang selalu saya ingat dari pesan itu.

Pertama, para orangtua harus selalu adil dalam mendo’akan seluruh putra-putrinya. Do’a yang kita panjatkan jangan hanya ditujukan untuk salah satu anak yang perangainya buruk supaya dia berubah menjadi baik. Semua anak harus kita do’akan dengan cara yang sama, meski si anak sudah nampak keshalihannya. Bukankah kita tak pernah tahu kondisinya kelak seiring dengan pergantian zaman?

Kedua, ketika anak sudah beranjak dewasa maka alokasi waktu kita di sisinya lambat laun berkurang. Dia tak mungkin berada dalam pengawasan kita terus. Di sinilah kepasrahan total kita serahkan pada Yang Maha Mengawasi melalui untaian do’a sepanjang usia. Kita harus selalu memohonkan akhir hidup yang baik bagi buah hati kita, walau perjalanan hidupnya akan berliku dan penuh luka.

Ketiga, kita harus terus meminta bantuan do’a dari orangtua. Bukan tak mungkin keberhasilan yang dicapai anak keturunan kita berasal dari permohonan para leluhurnya. Lihatlah do’a Nabi Ibrahim yang meminta agar keturunannya menjadi generasi sholih sampai akhirnya terbukti dikabulkan Allah walau memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun kemudian.

Yang lebih penting lagi, menurut saya para orangtua sebaiknya tak menikmati kekuatan do’a-nya seorang diri. Anak-anak pun harus diajak untuk memahami kekuatan do’a orangtuanya. Saya tak mau anak-anak saya tumbuh seperti saya dulu yang telat memaknai pentingnya do’a orangtua. Eh, tapi ini bukan berarti saya ingin menyalahgunakan khasiat do’a orangtua do’a terhadap anak-anaknya ya. Misalnya dengan berkata, “Kalau kamu gak nurut sama Ummi, kamu bisa Ummi kutuk jadi batu lho!” Bukan begitu maksudnya.

Yang saya maksud adalah membiasakan anak-anak untuk turut mendukung do’a saya bagi mereka. Saya selalu mengajak anak-anak membersamai dan mengaminkan do’a saya pada Allah swt untuk mereka. Itu saya lakukan agar mereka mengerti betapa di balik kemarahan, kekesalan, kekecewaan ibunya, selalu ada harapan yang terpanjat untuk mereka. Saya ingin mereka tahu bahwa selalu ada permohonan maaf dari ibunya yang khilaf. Yang lebih penting lagi, itulah cara saya mengajarkan bahwa Allah-lah tempat saya bergantung dalam setiap persoalan termasuk masalah pendidikan mereka. Harapan saya mereka pun akan terbiasa memanjatkan do’a untuk segala urusan dan keinginan dalam hidup.

Karenanya ada satu rutinitas yang saya lestarikan sejak mereka kecil. Sebelum tidur saya belai ubun-ubun mereka. Saya bisikkan do’a-do’a di telinga mereka, baik yang berasal dari para ulama maupun do’a spesifik dan personal yang saya rangkai sendiri. Ritual itu lantas saya tutup dengan kecupan di kening. Mereka ketagihan sampai sekarang, dan selalu meminta saya melakukan itu sebelum tidur. Kadang kalau saya lalai melakukannya dan menjumpai mata mereka sudah terpejam, saya tetap bisikkan kalimat do’a di atas kepala mereka. Ada Allah swt Yang selalu mendengar, kan?

Kini, saya sering terharu melihat anak-anak bisa memaknai do’a seperti yang selalu saya ajarkan. Saya lihat mereka sudah mulai menikmati pencarian kekuatan lewat do’a. Memang sih munculnya tidak sering. Biasanya mereka baru berdoa kalau sedang sakit dan sangat menginginkan kesembuhan. Atau kali lain saat mereka ditimpa kesulitan. Selepas shalat adalah waktu yang mereka acap gunakan untuk memanjatkan do’a. Belakangan, saya sering dibuat geli akan kekhusyukan Hamzah berdo’a setiap selesai shalat berjama’ah. Ia nampak khusyu’. Ketika saya tanya apa isi do’anya, dia menjawab dengan mimik muka serius, “Hamzah berdo’a gini, ‘O Allah…please give me a little brother’.” Hahaha… wong Ummi pengennya dapet baby girl, coba. Ganti do’anya dong, Hamzah.

Ah, baby girl atau baby boy, yang penting sudah Hamzah do’akan. Itu saja sudah membuat saya senang. Saya merasa pendidikan tentang do’a itu berhasil mereka serap. Tentu saja saya paham masih teramat banyak kewajiban yang belum saya tunaikan sebagai orangtua. Do’a-do’a saja jelas tidak cukup membantu saya mengajarkan anak-anak untuk berkomitmen pada ajaran Islam. Tapi minimal saya bisa sedikit berlega hati jika ada orang-orang yang akan mendo’akan saya dari hati yang paling dalam. Itulah bekal saya, bekal setiap orangtua. Sama seperti setiap anak membutuhkan do’a dari orangtuanya, begitu pula setiap orangtua membutuhkan do’a dari anaknya. Bahkan do’a dari anak shalih ini adalah salah satu dari amal yang tak terputus. Dan semoga do’a dari anak-anak saya menjadi salah satu bekal yang meringankan saya nanti dari siksa kubur.

Aamiin.

20130304-191501.jpg

4 Comments

  • Wita says:

    Vien… Jadi keinget d ttg Royyan, persis serupa kasus Hamzah diatas dlm hal berdo’a bedanya R berdoa u/ punya adek girl… Allah swt berikan boy lagi … Di hospital dia bertanya & menangis & saya pun menangis (apalg dg kondisi saya saat itu – 22/12/13) sambil menjelaskan semampu saya, R yg susah mengeluarkan isi hatinya jadi kalau sampai dia bisa bercerita or bertanya panjang lebar adlh sesuatu ‘banget’

    Sekarang R susah disuruh sholat… Pas lg gampang nyuruhnya, berdo’a abis sholat spt males2an… Inget kejadian yg diatas ini, dlm hati saya emang khawatir , hal spt ini bisa membuat R berubah ‘aqidah’nya krn dia masih sulit kan memahami kenapa yg diminta “A” dapetnya “B” … Waksss koq jd cuhat isinya bkn komen… Maap bu guru … Mudah2an ini ketakutan saya saja… Ada nasehat buat saya kah?

  • Ika Pratiwi says:

    Speechless mba vina baca tulisannya….

    Baguss :-bd ..so inspiring buat bekal kelak jadi orang tua

  • prapti says:

    Subhanalloh… Jazaakillah diingatkan bund…
    Smoga Alloh mampukan kami mjd ortu yang baik..aamiin

  • emma says:

    Nhaa trus kudu upaya untuk doanya Hamzah. Hihihihihii. *sangat dinanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2018 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.5, from BuyNowShop.com.