0

Beradab, Berilmu Dan Bersatu

Posted by Vienna Alifa on 01/11/2017 in Dakwah, Renungan, Tazkiyatun Nafs |

  Jika kita rindu akan persatuan dalam tubuh umat Islam, ingin persaudaraan menguat, berharap agar saling sinergis dalam berdakwah dan mensyiarkan agama-Nya, maka singkirkan ego, redam hawa nafsu dan hilangkan hasad.   Yang masih belajar tak perlu menganggap ustadz/syaikhnya lebih mumpuni dari selain kelompoknya. Yang masih berbenah tak usah mengira dirinya sudah paling sesuai sunnah. […]

0

ISTIGHFAR

Posted by Vienna Alifa on 08/08/2016 in Bilik Hati, Dakwah, Renungan, Tazkiyatun Nafs |

  Waktu kita mungkin terangkai dengan sejumlah agenda Kegiatan kita barangkali padat dengan jadwal yang berkejaran Hari-hari kita bisa jadi sibuk dengan rencana ini itu Tapi.. Jika ingin keberkahan di dalamnya Jika berharap ada jalan keluar ketika masalah menghadang Jika mendamba rizqi mengalir dari arah yang tak terduga, Maka, beristighfarlah. Perbanyaklah ampunan pada Allah ta’ala. […]

0

Istirja’

Posted by Vienna Alifa on 01/07/2016 in Coretan Hati, Kidz, Kisah, Qur'an, Ramadhan, Tazkiyatun Nafs |

  “Innaalillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun.” Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Minggu lalu, kalimat istirja’ di atas saya maknai betul sambil terlarut dalam tangisan. Tepatnya sesaat setelah saya mendengar sekelebat info dari suami via sambungan telepon interlokal Jakarta-Perth. Suami saya dengan suara cemas dan sedikit gugup bertanya, “Kamu dapet kabar tentang […]

*
0

Resume kajian TAZKIYATUN NAFS

Posted by Vienna Alifa on 27/04/2016 in Tarbiyah, Tazkiyatun Nafs |

POIN-POIN PENTING dari muqaddimah ilmu TAZKIYATUN NAFS
oleh : Ustadz Adi Hidayat, MA.

    > Setiap manusia memiliki dua sumber kehidupan yang penting yaitu RUH dan JASAD.

    > RUH berasal dari Allah Yang Maha Suci sehingga unsur-unsur yang dibawa oleh ruh selalu bersifat suci, mengumpulkan banyak kebaikan (TAQWA).

    > Adapun JASAD memiliki peran ikhtiar manusia saat pembentukannya sehingga seringkali bercampur unsur kebaikan dan keburukan di dalamnya (FUJUR).

    > RUH yang membawa sifat TAQWA bila telah menyatu dengan jasad yang memiliki sifat FUJUR akan berubah keadaannya menjadi NAFS (jiwa).

    > NAFS akan sangat berperan dalam menentukan karakter dan sikap seseorang menjadi baik atau buruk. Seorang akan baik bila TAQWA-nya dominan, sedangkan bisa berlaku buruk bila FUJUR-nya dominan.

    > Cara untuk menekan sifat FUJUR sehingga sifat-sifat TAQWA bisa muncul ke permukaan dan menghimpun banyak kebaikan disebut dengan TAZKIYAH. Dari sinilah lahir istilah : TAZKIYATUN NAFS

    > Respon baik atau buruk yang diwujudkan dalam bentuk perilaku akan sangat bergantung pada berbagai informasi yang diterima oleh NAFS melalui berbagai organ tubuh (mata, telinga, mulut, lidah, kulit, dll).

    > QOLBU adalah tempat berkumpulnya segala sifat yang ada dalam NAFS. Qalb memiliki sifat yang mudah berbolak-balik disebabkan semua kecenderungan jiwa yang berlawanan (antara TAQWA dan FUJUR) terhimpun di sana.

    > Anggota tubuh seseorang sesungguhnya mengikuti bagaimana keadaan QOLBU-nya. Bila QOLBU diliputi sifat taqwa maka kebaikanlah yang tampak dari perbuatannya. Demikian juga sebaliknya jika fujur yang melingkupi.

    > Sedangkan Allah juga mengaruniai manusia AQAL untuk menimbang setiap dorongan QOLBU sebelum menjelma menjadi perilaku baik atau buruk.

    > AQAL menjadi benteng pertama maupun terakhir seseorang untuk menyaring atau memilah apa yang selayaknya diserap oleh anggota badan ke dalam NAFS dan apa yang tercermin dari QALBU lewat anggota tubuhnya.

    ****

    Dalam benak saya, pemaparan Ust. Adi tentang pengantar Tazkiyatun Nafs di atas menghasilkan sebuah siklus yang tak putus antara peran : AQAL, QOLBU dan NAFS, sehingga seseorang melahirkan suatu amal baik atau buruk lewat organ tubuhnya.

    Apabila organ tubuh (misal : mata, lidah, dan telinga) terbiasa menerima asupan negatif, maka yang dihasilkan dalam perbuatannya pun berpotensi maksiat. Sedangkan jika organ tubuh sering ditempa oleh budaya positif (atau berada dalam lingkungan yang baik), niscaya apa-apa yang dilahirkan di lisan dan laku juga akan mengandung nilai-nilai kebaikan universal.

    Saya kemudian membayangkan kalau ‘makanan pokok’ setiap organ tubuh manusia berasal dari SUMBER SELURUH KEBAIKAN yaitu AL-QURAN. Manakala telinganya terbiasa mendengar Al-quran, matanya sering dipakai untuk melihat Al-quran, lisannya terus-terusan mendawamkan bacaan Al-quran, otaknya bekerja keras mengingat-ingat hafalan Al-quran sampai hatinya terwarnai seluruhnya dengan celupan wahyu Ilahi.

    Bukankah tangan dan kakinya otomatis beraktivitas sesuai arahan Al-quran? Akankah segala tingkah lakunya selamat dari aib dan dosa? Tidakkah ia menjelma menjadi pribadi Qurani?

    Tapi mungkinkah ada sosok yang demikian? Mungkin!
    Bahkan kesempurnaan akhlaqnya dipuji langsung oleh Al-Khaliq,

    …wa innaka la’alaa khuluqin ‘adzhiim…

    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang agung”

    Dialah Sang Al-Quran berjalan, kekasih umat muslim sepanjang zaman, Rasulullaah Muhammad Shallahu ‘alayhi wa salam.

    Maasyaa Allah, rindukuu!
    Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa sallimu tasliimaa.

    ‪#‎sedikitcatatan‬
    ‪#‎hasilbelajaronline‬
    ‪#‎bekalbuatdakwah‬
    ‪#‎supayailmujadiamal‬

    Perth, April 2016

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com