0

Mujahidah Sejati

Posted by Vienna Alifa on 08/11/2017 in Dakwah, Kisah, Renungan, Sahabat, Tarbiyah |
20131125-145227.jpg

“Jika engkau masih beraktivitas seperti orang kebanyakan, makan-minum seperti manusia pada umumnya, bekerja dengan ritme sebagaimana orang awam, tidur sebanyak waktu yang dibutuhkan manusia biasa, maka pantaskah engkau mengaku seorang mujahid/ah?”   Inilah salah satu petuah yang terus membuntuti pikiran saya begitu seketika mendengarnya dari sosok tawadhu’ nan berwibawa. Ia mengucapkan dengan nada tegas tanpa […]

*
0

Resume kajian TAZKIYATUN NAFS

Posted by Vienna Alifa on 27/04/2016 in Tarbiyah, Tazkiyatun Nafs |

POIN-POIN PENTING dari muqaddimah ilmu TAZKIYATUN NAFS
oleh : Ustadz Adi Hidayat, MA.

    > Setiap manusia memiliki dua sumber kehidupan yang penting yaitu RUH dan JASAD.

    > RUH berasal dari Allah Yang Maha Suci sehingga unsur-unsur yang dibawa oleh ruh selalu bersifat suci, mengumpulkan banyak kebaikan (TAQWA).

    > Adapun JASAD memiliki peran ikhtiar manusia saat pembentukannya sehingga seringkali bercampur unsur kebaikan dan keburukan di dalamnya (FUJUR).

    > RUH yang membawa sifat TAQWA bila telah menyatu dengan jasad yang memiliki sifat FUJUR akan berubah keadaannya menjadi NAFS (jiwa).

    > NAFS akan sangat berperan dalam menentukan karakter dan sikap seseorang menjadi baik atau buruk. Seorang akan baik bila TAQWA-nya dominan, sedangkan bisa berlaku buruk bila FUJUR-nya dominan.

    > Cara untuk menekan sifat FUJUR sehingga sifat-sifat TAQWA bisa muncul ke permukaan dan menghimpun banyak kebaikan disebut dengan TAZKIYAH. Dari sinilah lahir istilah : TAZKIYATUN NAFS

    > Respon baik atau buruk yang diwujudkan dalam bentuk perilaku akan sangat bergantung pada berbagai informasi yang diterima oleh NAFS melalui berbagai organ tubuh (mata, telinga, mulut, lidah, kulit, dll).

    > QOLBU adalah tempat berkumpulnya segala sifat yang ada dalam NAFS. Qalb memiliki sifat yang mudah berbolak-balik disebabkan semua kecenderungan jiwa yang berlawanan (antara TAQWA dan FUJUR) terhimpun di sana.

    > Anggota tubuh seseorang sesungguhnya mengikuti bagaimana keadaan QOLBU-nya. Bila QOLBU diliputi sifat taqwa maka kebaikanlah yang tampak dari perbuatannya. Demikian juga sebaliknya jika fujur yang melingkupi.

    > Sedangkan Allah juga mengaruniai manusia AQAL untuk menimbang setiap dorongan QOLBU sebelum menjelma menjadi perilaku baik atau buruk.

    > AQAL menjadi benteng pertama maupun terakhir seseorang untuk menyaring atau memilah apa yang selayaknya diserap oleh anggota badan ke dalam NAFS dan apa yang tercermin dari QALBU lewat anggota tubuhnya.

    ****

    Dalam benak saya, pemaparan Ust. Adi tentang pengantar Tazkiyatun Nafs di atas menghasilkan sebuah siklus yang tak putus antara peran : AQAL, QOLBU dan NAFS, sehingga seseorang melahirkan suatu amal baik atau buruk lewat organ tubuhnya.

    Apabila organ tubuh (misal : mata, lidah, dan telinga) terbiasa menerima asupan negatif, maka yang dihasilkan dalam perbuatannya pun berpotensi maksiat. Sedangkan jika organ tubuh sering ditempa oleh budaya positif (atau berada dalam lingkungan yang baik), niscaya apa-apa yang dilahirkan di lisan dan laku juga akan mengandung nilai-nilai kebaikan universal.

    Saya kemudian membayangkan kalau ‘makanan pokok’ setiap organ tubuh manusia berasal dari SUMBER SELURUH KEBAIKAN yaitu AL-QURAN. Manakala telinganya terbiasa mendengar Al-quran, matanya sering dipakai untuk melihat Al-quran, lisannya terus-terusan mendawamkan bacaan Al-quran, otaknya bekerja keras mengingat-ingat hafalan Al-quran sampai hatinya terwarnai seluruhnya dengan celupan wahyu Ilahi.

    Bukankah tangan dan kakinya otomatis beraktivitas sesuai arahan Al-quran? Akankah segala tingkah lakunya selamat dari aib dan dosa? Tidakkah ia menjelma menjadi pribadi Qurani?

    Tapi mungkinkah ada sosok yang demikian? Mungkin!
    Bahkan kesempurnaan akhlaqnya dipuji langsung oleh Al-Khaliq,

    …wa innaka la’alaa khuluqin ‘adzhiim…

    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang agung”

    Dialah Sang Al-Quran berjalan, kekasih umat muslim sepanjang zaman, Rasulullaah Muhammad Shallahu ‘alayhi wa salam.

    Maasyaa Allah, rindukuu!
    Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa sallimu tasliimaa.

    ‪#‎sedikitcatatan‬
    ‪#‎hasilbelajaronline‬
    ‪#‎bekalbuatdakwah‬
    ‪#‎supayailmujadiamal‬

    Perth, April 2016

*
0

Cermin Diri Dalam Pusaran Tarbiyah

Posted by Vienna Alifa on 21/04/2016 in Dakwah, Renungan, Tarbiyah |

Di mana posisimu?
Penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi diri? Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap; bahwa laut tetap bergelombang dan di seberang ada pantai harapan?
Ketahuilah, kader-kader dakwah yang ikhlas berkorban adalah roda yang siap menjelajah medan-medan berat. Keulamaan adalah sistem kendali-mu yang tahu kapan harus berbelok, menanjak, menurun dan menerobos hutan belantara, padang tandus serta bebatuan.

Sungguh tarbiyah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah saw bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa kuburan para sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la, melainkan tersebar jauh beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Jangan sampai sesudah tarbiyah, ada kader dakwah yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Di manapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah swt, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah swt, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemana pun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing, karena Allah swt senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan Rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa. Kita semua wajib beramal tapi tidak boleh larut dalam kesendirian. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, pertanggungjawaban amal kita akan dieksekusi di hadapan Allah swt secara sendiri-sendiri.

Dalam kaitan sistem, partai atau pemerintahan, cobaan berat pada kader dakwah justru pada percaya diri yang tidak proporsional. Ghurur (keangkuhan) adalah hal terberat yang kan kau hadapi. Bukan keraguan, kebencian dan permusuhan orang yang tak mengenalmu. Sebab sekeras apapun hati mereka, kekuatan hidayah dapat menundukkan mereka kepada kebenaran da’wahmu, dengan izin-Nya.

Namun jika engkau nikmati sanjungan orang terhadap dirimu atau jamaahmu, padahal engkau sendiri jauh dari kepatutan itu, maka alangkah malang nasib orang yang percaya kepada kejahilan orang yang menyanjungmu, sedangkan engkau sangat terang melihat kekurangan dirimu.

Berbenahlah segera, meski waktu ujian tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar. Akan tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hidup hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda’wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan.

Ketika Allah swt telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah, renungilah bahwa ini sebuah karunia besar. Jangan sampai seperti orang-orang yang merasa telah berjasa, lalu – karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekuensi bergaul dengan manusia yang tidak sempurna – menunggu musibah dan kegagalan kemudian mengatakan : “Nah, rasain!” Bukankah mereka itu sepantasnya membayangkan, “Bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini ?”

Marilah berjabat tangan, ayunkah langkah dengan yakin dan lengkapi kekurangan diri dengan kelebihan saudara atau sebaliknya. Topang kelemahan mereka dengan kekuatan diri yang Allah swt amanahkan. Banyak orang bingung mencari lahan kerja, sementara lahan kerja da’wah tak pernah tutup.

Akhirnya saling mendo’akan sesama saudara seiman mestinya telah menjadi ciri kemuliaan pribadi seorang ikhwah. Selain ikhlas dan cinta, tak nampak motivasi lain yang menghiasi do’a itu. Betapa Allah swt akan mengabulkan dan malaikat akan mengamini, seraya berkata : “Untukmu pun hak seperti itu”, seperti sabda Rasulullah saw. Hingga cukuplah kemuliaan ukhuwwah dan jama’ah ini dibicarakan penuh iri di antara para Nabi dan syuhada, disebabkan kecintaan yang meliputi hati-hati mereka. Bukan didasari hubungan kekerabatan, tapi semata-mata dilandasi iman dan cinta fi’Llah.

“Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.”

(oleh : Ustadz Rahmat Abdullah, Allahu Yarham)

💕💕💕

Catatan:

Tulisan di atas berasal dari beberapa artikel Ustadz Rahmat Abdullah, yang dikutip secara acak, diedit serta dikompilasi berdasarkan kebutuhan kontemplasi saya terhadap gerakan tarbiyah.
Sebab lewat tarbiyah saya merasa mendapatkan hidayah Allah ta’ala. Sehingga banyak perubahan pada diri terjadi secara lahir batin, ke arah yang insyaa Allah lebih baik, dalam kurun waktu 23 tahun proses tarbiyah yang saya jalani.

Meski tarbiyah bukan segala-galanya dalam hidup ini, namun saya meyakini segala pemikiran, pengucapan dan tingkah laku yang positif sangat mungkin diawali dengan tarbiyah. Karena bagi saya tarbiyah bukan sekedar ngaji atau mengkaji. Tarbiyah itu tidak hanya hadir dalam majelis ilmu lalu pulang setelah ruh dan fisik kenyang. Ia laksana ladang penempaan diri dalam berukhuwwah, berjama’ah dan menebar jejaring kebaikan. Di dalamnya ada proses melatih diri untuk beramal shalih dan menshalihkan. Ada tahap menempa jiwa untuk bersabar dalam bekerja dakwah bersama-sama demi meraih ridha Ilahi. Semuanya memang berlangsung secara perlahan tetapi pasti. Sebab bukan hasil yang dinanti melainkan usaha yang ditetapi dan dinikmati walau kerap timbul ketidaknyamanan yang dijalani.

Semoga saya tetap istiqamah di dalam proses tarbiyah ini sampai mati.

|vi3nzz

Hal jazaa ul ihsaan illa al-ihsaan

0

Sesuai Kadar

Posted by Vienna Alifa on 30/10/2015 in Dakwah, Kidz, Pendidikan, Qur'an, Renungan, Tarbiyah |

  Ketika menghadapi saat-saat terakhir kehidupannya, Lukman al-Hakim berkata pada anaknya. “Wahai anakku, telah banyak nasihat yang aku berikan kepadamu. Dan, kini tiba saatnya aku sampai ke penghujung nasihat itu, yaitu tentang enam hal….” Pertama, janganlah engkau menyibukkan dirimu kecuali sesuai kadar sisa usiamu. Kedua, sembahlah Allah sesuai kadar kebutuhanmu pada-Nya. Ketiga, beramal-lah untuk akhirat […]

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com