0

B A R I S A N

Posted by Vienna Alifa on 01/07/2016 in Coretan Hati, Puisi, Ramadhan, Renungan |

  Tua-muda, besar-kecil, hitam-putih Beda budaya, etnis dan bahasa Beragam model dan warna penutup aurat Bermacam gaya di antara gerakan shalat Semua itu tak membuat barisan kami renggang pun putus Juga tak menjadikan kami enggan untuk meluruskan barisan Karena kami sama-sama… Menahan lapar dan haus sejak fajar hingga mahgrib Menghadap kiblat untuk mengadu pada-Nya Sibuk […]

0

S I B U K

Posted by Vienna Alifa on 01/07/2016 in Puisi, Ramadhan, Renungan |

  Sibuk apakah engkau? Dzikir pagi-petang tak jua tergenapi Keberkahan waktu dhuha terlewati Apalagi berdiri di malam hari Untuk munajat dan berserah diri Paling hanya terbangun dan tidur lagi Tafakur tak penah mampir di hati Kalam suci pun hanya terdiam di lemari Sibuk apakah dirimu? Ketika bocah Palestina menghindari mesiu Manakala sang fakir tergugu diterkam […]

*
0

Cermin Diri Dalam Pusaran Tarbiyah

Posted by Vienna Alifa on 21/04/2016 in Dakwah, Renungan, Tarbiyah |

Di mana posisimu?
Penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi diri? Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap; bahwa laut tetap bergelombang dan di seberang ada pantai harapan?
Ketahuilah, kader-kader dakwah yang ikhlas berkorban adalah roda yang siap menjelajah medan-medan berat. Keulamaan adalah sistem kendali-mu yang tahu kapan harus berbelok, menanjak, menurun dan menerobos hutan belantara, padang tandus serta bebatuan.

Sungguh tarbiyah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah saw bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa kuburan para sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la, melainkan tersebar jauh beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Jangan sampai sesudah tarbiyah, ada kader dakwah yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Di manapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah swt, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah swt, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemana pun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing, karena Allah swt senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan Rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa. Kita semua wajib beramal tapi tidak boleh larut dalam kesendirian. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, pertanggungjawaban amal kita akan dieksekusi di hadapan Allah swt secara sendiri-sendiri.

Dalam kaitan sistem, partai atau pemerintahan, cobaan berat pada kader dakwah justru pada percaya diri yang tidak proporsional. Ghurur (keangkuhan) adalah hal terberat yang kan kau hadapi. Bukan keraguan, kebencian dan permusuhan orang yang tak mengenalmu. Sebab sekeras apapun hati mereka, kekuatan hidayah dapat menundukkan mereka kepada kebenaran da’wahmu, dengan izin-Nya.

Namun jika engkau nikmati sanjungan orang terhadap dirimu atau jamaahmu, padahal engkau sendiri jauh dari kepatutan itu, maka alangkah malang nasib orang yang percaya kepada kejahilan orang yang menyanjungmu, sedangkan engkau sangat terang melihat kekurangan dirimu.

Berbenahlah segera, meski waktu ujian tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar. Akan tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hidup hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda’wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan.

Ketika Allah swt telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah, renungilah bahwa ini sebuah karunia besar. Jangan sampai seperti orang-orang yang merasa telah berjasa, lalu – karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekuensi bergaul dengan manusia yang tidak sempurna – menunggu musibah dan kegagalan kemudian mengatakan : “Nah, rasain!” Bukankah mereka itu sepantasnya membayangkan, “Bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini ?”

Marilah berjabat tangan, ayunkah langkah dengan yakin dan lengkapi kekurangan diri dengan kelebihan saudara atau sebaliknya. Topang kelemahan mereka dengan kekuatan diri yang Allah swt amanahkan. Banyak orang bingung mencari lahan kerja, sementara lahan kerja da’wah tak pernah tutup.

Akhirnya saling mendo’akan sesama saudara seiman mestinya telah menjadi ciri kemuliaan pribadi seorang ikhwah. Selain ikhlas dan cinta, tak nampak motivasi lain yang menghiasi do’a itu. Betapa Allah swt akan mengabulkan dan malaikat akan mengamini, seraya berkata : “Untukmu pun hak seperti itu”, seperti sabda Rasulullah saw. Hingga cukuplah kemuliaan ukhuwwah dan jama’ah ini dibicarakan penuh iri di antara para Nabi dan syuhada, disebabkan kecintaan yang meliputi hati-hati mereka. Bukan didasari hubungan kekerabatan, tapi semata-mata dilandasi iman dan cinta fi’Llah.

“Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.”

(oleh : Ustadz Rahmat Abdullah, Allahu Yarham)

💕💕💕

Catatan:

Tulisan di atas berasal dari beberapa artikel Ustadz Rahmat Abdullah, yang dikutip secara acak, diedit serta dikompilasi berdasarkan kebutuhan kontemplasi saya terhadap gerakan tarbiyah.
Sebab lewat tarbiyah saya merasa mendapatkan hidayah Allah ta’ala. Sehingga banyak perubahan pada diri terjadi secara lahir batin, ke arah yang insyaa Allah lebih baik, dalam kurun waktu 23 tahun proses tarbiyah yang saya jalani.

Meski tarbiyah bukan segala-galanya dalam hidup ini, namun saya meyakini segala pemikiran, pengucapan dan tingkah laku yang positif sangat mungkin diawali dengan tarbiyah. Karena bagi saya tarbiyah bukan sekedar ngaji atau mengkaji. Tarbiyah itu tidak hanya hadir dalam majelis ilmu lalu pulang setelah ruh dan fisik kenyang. Ia laksana ladang penempaan diri dalam berukhuwwah, berjama’ah dan menebar jejaring kebaikan. Di dalamnya ada proses melatih diri untuk beramal shalih dan menshalihkan. Ada tahap menempa jiwa untuk bersabar dalam bekerja dakwah bersama-sama demi meraih ridha Ilahi. Semuanya memang berlangsung secara perlahan tetapi pasti. Sebab bukan hasil yang dinanti melainkan usaha yang ditetapi dan dinikmati walau kerap timbul ketidaknyamanan yang dijalani.

Semoga saya tetap istiqamah di dalam proses tarbiyah ini sampai mati.

|vi3nzz

Hal jazaa ul ihsaan illa al-ihsaan

0

Dibenci Karena Aqidah

Posted by Vienna Alifa on 14/01/2016 in Renungan |

Berakhlak mulia itu bukan jaminan akan disenangi semua orang. Buktinya manusia paling mulia akhlaknya di muka bumi ini yaitu Muhammad Rasulullaah Shallallahu’alayhi wa salam, tetap saja ada yang memusuhi. Akan tetapi yang harus kita cermati dan pahami, Rasulullaah shallallahu ‘alayhi wa sallam itu dibenci tak lain karena aqidahnya bukan karena budi pekertinya. Ya, catat, karena […]

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com