0

MAHJURAN

Posted by Vienna Alifa on 22/06/2017 in Dakwah, Qur'an |

  “Yaa Rabbi…inna qoumi at-takhadzuu haadzaa Al-quraana mahjuuraa.” Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan.   Inilah keluhan Rasulullah shallaallahu ‘alayhi wa sallam yang diabadikan dalam surah Al-furqan ayat 30, ketika ia mendapati semakin banyak kaumnya yang menghujat Al-quran. Kendati ayat ini turun berkenaan dengan celaan orang-orang musyrik terhadap Al-quran […]

*
0

Cermin Diri Dalam Pusaran Tarbiyah

Posted by Vienna Alifa on 21/04/2016 in Dakwah, Renungan, Tarbiyah |

Di mana posisimu?
Penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi diri? Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap; bahwa laut tetap bergelombang dan di seberang ada pantai harapan?
Ketahuilah, kader-kader dakwah yang ikhlas berkorban adalah roda yang siap menjelajah medan-medan berat. Keulamaan adalah sistem kendali-mu yang tahu kapan harus berbelok, menanjak, menurun dan menerobos hutan belantara, padang tandus serta bebatuan.

Sungguh tarbiyah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah saw bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa kuburan para sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la, melainkan tersebar jauh beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Jangan sampai sesudah tarbiyah, ada kader dakwah yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Di manapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah swt, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah swt, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemana pun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing, karena Allah swt senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan Rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa. Kita semua wajib beramal tapi tidak boleh larut dalam kesendirian. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, pertanggungjawaban amal kita akan dieksekusi di hadapan Allah swt secara sendiri-sendiri.

Dalam kaitan sistem, partai atau pemerintahan, cobaan berat pada kader dakwah justru pada percaya diri yang tidak proporsional. Ghurur (keangkuhan) adalah hal terberat yang kan kau hadapi. Bukan keraguan, kebencian dan permusuhan orang yang tak mengenalmu. Sebab sekeras apapun hati mereka, kekuatan hidayah dapat menundukkan mereka kepada kebenaran da’wahmu, dengan izin-Nya.

Namun jika engkau nikmati sanjungan orang terhadap dirimu atau jamaahmu, padahal engkau sendiri jauh dari kepatutan itu, maka alangkah malang nasib orang yang percaya kepada kejahilan orang yang menyanjungmu, sedangkan engkau sangat terang melihat kekurangan dirimu.

Berbenahlah segera, meski waktu ujian tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar. Akan tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hidup hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda’wah lebih sedikit waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan.

Ketika Allah swt telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah, renungilah bahwa ini sebuah karunia besar. Jangan sampai seperti orang-orang yang merasa telah berjasa, lalu – karena ketidakpuasan yang lahir dari konsekuensi bergaul dengan manusia yang tidak sempurna – menunggu musibah dan kegagalan kemudian mengatakan : “Nah, rasain!” Bukankah mereka itu sepantasnya membayangkan, “Bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah kebahagiaan ini ?”

Marilah berjabat tangan, ayunkah langkah dengan yakin dan lengkapi kekurangan diri dengan kelebihan saudara atau sebaliknya. Topang kelemahan mereka dengan kekuatan diri yang Allah swt amanahkan. Banyak orang bingung mencari lahan kerja, sementara lahan kerja da’wah tak pernah tutup.

Akhirnya saling mendo’akan sesama saudara seiman mestinya telah menjadi ciri kemuliaan pribadi seorang ikhwah. Selain ikhlas dan cinta, tak nampak motivasi lain yang menghiasi do’a itu. Betapa Allah swt akan mengabulkan dan malaikat akan mengamini, seraya berkata : “Untukmu pun hak seperti itu”, seperti sabda Rasulullah saw. Hingga cukuplah kemuliaan ukhuwwah dan jama’ah ini dibicarakan penuh iri di antara para Nabi dan syuhada, disebabkan kecintaan yang meliputi hati-hati mereka. Bukan didasari hubungan kekerabatan, tapi semata-mata dilandasi iman dan cinta fi’Llah.

“Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.”

(oleh : Ustadz Rahmat Abdullah, Allahu Yarham)

💕💕💕

Catatan:

Tulisan di atas berasal dari beberapa artikel Ustadz Rahmat Abdullah, yang dikutip secara acak, diedit serta dikompilasi berdasarkan kebutuhan kontemplasi saya terhadap gerakan tarbiyah.
Sebab lewat tarbiyah saya merasa mendapatkan hidayah Allah ta’ala. Sehingga banyak perubahan pada diri terjadi secara lahir batin, ke arah yang insyaa Allah lebih baik, dalam kurun waktu 23 tahun proses tarbiyah yang saya jalani.

Meski tarbiyah bukan segala-galanya dalam hidup ini, namun saya meyakini segala pemikiran, pengucapan dan tingkah laku yang positif sangat mungkin diawali dengan tarbiyah. Karena bagi saya tarbiyah bukan sekedar ngaji atau mengkaji. Tarbiyah itu tidak hanya hadir dalam majelis ilmu lalu pulang setelah ruh dan fisik kenyang. Ia laksana ladang penempaan diri dalam berukhuwwah, berjama’ah dan menebar jejaring kebaikan. Di dalamnya ada proses melatih diri untuk beramal shalih dan menshalihkan. Ada tahap menempa jiwa untuk bersabar dalam bekerja dakwah bersama-sama demi meraih ridha Ilahi. Semuanya memang berlangsung secara perlahan tetapi pasti. Sebab bukan hasil yang dinanti melainkan usaha yang ditetapi dan dinikmati walau kerap timbul ketidaknyamanan yang dijalani.

Semoga saya tetap istiqamah di dalam proses tarbiyah ini sampai mati.

|vi3nzz

Hal jazaa ul ihsaan illa al-ihsaan

1

Tergantung Persiapan Ruhiyahmu

Posted by Vienna Alifa on 12/12/2015 in Dakwah, Renungan, Tazkiyatun Nafs |

Tidakkah kau merasa… Wahai diriku, sebijak apapun kata-kata yang kaulontarkan atau tuliskan tapi jika tidak didahului dengan tilawah Al-Quran sepenuh hati atau tidak diawali dengan dzikrullah serta rapalan doa penguat kalimat, seringnya ia hanya membuat takjub para pendengar/pembaca sesaat saja. Mereka memang terkesan tapi tidak menggerakkan. Tersentuh namun lekas hilang dari ingatan. Meresap sebagai tambahan […]

0

Kiamat Makin Dekat

Posted by Vienna Alifa on 02/07/2015 in Dakwah, Renungan |

Kemungkaran yang dilegalkan, kemaksiatan yang dianggap biasa, kefasikan yang menjadi-jadi, sebenarnya bukti bahwa akhir kehidupan dunia telah memasuki fasenya. Meski periode kejahiliyahan itu berulang di tiap zaman, tapi semakin ke sini bobot dan efek kerusakannya berkali lipat parahnya. Perilaku nista yang dilakoni kaum nabi Luth ‘alayhi salam, misalnya. Kalau dulu hanya menjangkiti satu kaum dan […]

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com