6

Bersabar Bersama Al-Quran

Posted by Vienna Alifa on 05/06/2013 in Cinta, Coretan Hati, Kenangan, Qur'an |

Udara segar nan sejuk merasuki rongga dada saat kubuka pintu mobil. Parkiran rumah temanku terlihat penuh. Kulirik jam tangan. Pukul 9.30. Terlambat setengah jam saja sudah cukup banyak yang datang.

“Hmm… semangat awal Ramadhan yang patut dilestarikan selama tigapuluh hari ke hadapan. Semoga usiaku masih tersampaikan ke ujung bulan mulia ini”, hatiku merintih harap-harap cemas. Kekuatiran selalu saja hinggap di dada jika membayangkan soal waktu kematian yang tak pasti datangnya. Bukan karena aku takut akan kehilangan segala nikmat dunia, tapi lebih pada minimnya kuanititas dan kualitas bekal amalan.

Lantunan ayat-ayat suci terdengar ketika pintu kubuka. Tadarus baru saja dimulai. Segera kuambil posisi duduk diantara jamaah yang melingkar. Beberapa mata menatapku. Kepala mereka mengangguk diiringi senyuman ke arahku. Aku membalas dengan hati menghangat. Bergegas kucari halaman Al-Qur’an yang sedang dibaca. Sejurus kemudian pikiranku hanyut dalam irama tilawah. Tugasku pun dimulai, memandu tadarusan keliling ini, mengoreksi bila ada bacaan yang kurang sesuai dengan hukum tajwid.

“Laa-nya panjang, bu. Yak tahan agak lama kalau ada Nun dan Mim bertasydid.”

“Min Qoblu…, Dengung dan tahan ya di Nun mati bertemu Qaf. Inget Ba’-nya diqolqolahkan.”

“Coba diayun tiap mad asli yang panjangnya cuma dua harokat, supaya gak kepanjangan.”

“Puas-puasin kalau ketemu ‘bendera’ yaa. Maksudnya dipanjangin agak lama gitu…”

Ocehanku bertaburan di sepanjang waktu tadarus Al-Qur’an bersama.

Tadarusan Al-Qur’an secara berkeliling adalah salah satu upayaku dan teman-teman untuk mendorong ibu-ibu Indonesia di Perth makin rajin mengisi Ramadhan dengan membaca Al-Qur’an. Setiap muslim pasti akan bertekad mengkhatamkan Qur’an selama bulan mulai ini. Tapi bagi yang belum terbiasa, target ini akan terasa berat. Jalan keluarnya adalah tadarus secara berjama’ah.

Maka setiap hari, dari Senin sampai Jum’at, kami duduk melingkar bergantian melantunkan ayat-ayat Allah. Sejak dhuha sampai dzhuhur berlalu, minimal sebanyak satu juz usai kami baca.
Begitulah aktivitas hari-hari yang kulalui selama bulan Ramadhan di Perth, Western Australia. Berada jauh dari kerumunan umat Islam, membuatku dan teman-teman berusaha keras menghidupkan ruh bulan suci secara mandiri.

Australia merupakan negeri multietnis dengan penduduk yang beragam latar belakang bangsa, budaya, bahasa, dan agama. Bukan hal aneh jika masyarakatnya kerap terlihat bersekat-sekat membentuk komunitas berlatar bangsa asalnya. Kaum muslim Perth yang mayoritas berstatus imigran pun cenderung berkelompok dalam mengisi bulan Ramadhan. Kecuali mungkin saat berbuka dan tarawih saja, semua akan serempak duduk dan berdiri tegak tanpa pandang perbedaan ras, warna kulit-rambut apalagi bentuk hidung.

​Hari-hari Ramadhan serasa terbang bagiku. Aku tenggelam dalam kenikmatan waktu yang hanya datang setahun sekali. Setiap hari juz-juz Kitabullah terlantun deras. Jiwa-jiwa yang mengisi hela nafasnya dengan huruf-huruf hijaiyah tampak semakin sabar dan tenang di mataku. Bagaimana tidak, menunggu giliran membaca Al-Qur’an sambil menyimak gaya tilawah satu persatu orang bukanlah amal yang mudah.

Lewat kefasihan dan ketersendatan lafadz-lafadz itu sungguh ada ujian kesabaran tersendiri. Dapatkah diri kita mengakui keunggulan orang lain atau memaklumi kekurangannya. Dapatkah pula kita menjinakkan lidah supaya tidak tergesa-gesa mengejar target menuntaskan Al-Qur’an tanpa pemaknaan artinya.

Belum lagi rasa kantuk, perut keroncongan dan tenggorokan kering yang silih berganti menderu rasa. Diantara semua itu, ada saja cara syaithon mengajak konsentrasi beralih entah kemana.

​“Sabar, sabarlah wahai jiwa…” kutarik nafas panjang sambil memperbaiki posisi duduk. Kesemutan. Kulirik beberapa temanku di sisi kiri kanan. Gaya duduk mereka sudah berubah setelah satu jam-an tadarus berlalu. Mereka rata-rata mencari tempat bersandar senyaman mungkin agar punggung tak kian melengkung atau mata semakin meredup. Ada pula yang duduk punggung-punggungan lantaran kehabisan tempat sandaran. Intinya, jangan sampai tertidur karena akan merugi. Ah, kurasa memang tak ada yang ingin terlewatkan pahala mendengar kalam Allah ini.

​Biasanya untuk menjaga konsentrasi, aku menelusuri terjemahan ayat sambil sesekali memperbaiki urusan tajwid. Ketika ada beberapa ibu yang turut membantu bagian pengawalan lidah agar tidak keseleo, kupakai kesempatan melirik arti ayat-ayat yang dibacakan dengan lebih seksama. Saat seperti itulah diam-diam airmataku kan meleleh. Hatiku dilanda gentar, teringat dosa-dosa yang membukit. Ku takut pada azab-Nya di dunia dan di akhirat. Tapi aku juga merasa haru teramat sangat, mengingat rahmat-Nya yang tak terbatas, dan ganjaran-Nya yang begitu royal bahkan bagi sebuah niat untuk kebaikan yang kecil. “Ya Allah..subhaanaka inni kuntu minadzh dzhoolimiin. Jadikan Ramadhan tahun ini kesempatanku untuk memperbaiki diri.”

​Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan lingkaran majlis tadarus mulai menapaki masa-masa kritis. Diameter lingkaran mengecil akibat jumlah kepala kian menyusut. Aku maklum. Hidup dirantau mengharuskan para ibu melakukan hampir seluruh kegiatan domestik seorang diri. Tak ada asisten rumah tangga. Ditambah lagi dengan urusan wara-wiri keluar rumah yang standar seperti belanja dan antar jemput ke sekolah anak. Maka hadir di pengajian merupakan bagian dari tenaga ekstra dan pengorbanan waktu. Apalagi jika itu dilakoni setiap hari. Wajar jika kelelahan raga mulai terlihat jelang penghujung bulan maghfirah.

Aku, tak terkecuali ikut mengalaminya. Sepanjang pagi sampai sore, aku berada diluar rumah. Karena itu tak jarang sampai rumah aku pontang-panting menyiapkan sajian berbuka. Kuusahakan semua berupa makanan kesukaan dua putraku, sebagai hadiah bagi kesabaran mereka menahan lapar dan haus. Waktu tidurku pun jadi sangat sempit karena tidur cukup larut dan sudah harus bangun lagi beberapa jam sebelum sahur.

Aku seolah berkejaran dengan waktu demi mencapai target-target ibadah yang kucanangkan selama Ramadhan. Penat bukan main. Seringkali kepalaku terkulai di tengah-tengah tilawah. Sementara mulut masih berusaha bersuara. Alhasil bunyinya terdengar tak beres. Ayat kemana, pikiran raib kemana. Kalau sudah begitu, kuhibur diri dengan mengulang-ulang sabda Nabi saw di kepala, “Ajruki ‘alaa qadri nashabiki. Ganjaranmu tergantung rasa lelahmu.”

​Tiga hari jelang lebaran, daya fokus para ibu untuk bertadarusan mulai buyar. Persiapan memasok kue-kue kering dan aneka camilan khas hari Raya menjadi rating teratas yang diprioritaskan mereka. Ruh Ramadhan seolah tinggal sepahnya saja. Bersama segelintir ibu yang tersisa, aku memantapkan hati agar terus berada dalam kondisi fit sampai tanda berhenti di ayat terakhir juz 30.
​Kuingat suasana begitu syahdu manakala lembar juz’amma terpampang di depan mata kami. Perasaan kami antara bergairah ingin segera menandaskan Al-Qur’an, juga sedih karena berarti juga harus berpisah dari kelezatan rutinitas tadarus di bulan penuh berkah. Kesedihan ini menyiratkan betapa rindu kami tak pernah habis terhadap Ramadhan. Rindu itu tak kan terbayarkan walau ditegakkan dengan ibadah yang pol-polan di sebelas bulan lainnya.

Di hari khataman Qur’an, kuajak teman-teman membaca secara berjama’ah. Bagi yang sudah hafal kupersilakan menggunakan kesempatan ini untuk mengulang hafalannya. Saat itu kira-kira ada lima orang yang hadir termasuk aku. Lembar demi lembar kami baca penuh semangat hingga akhir halaman. Jelang surat-surat pamungkas, suara kami memberat. Seakan digelayuti sariawan di tenggorokan, aku pun tiba-tiba merasa sulit dan sakit saat menelan ludah. Mataku memanas. Airmataku mulai turun mengaliri pipi.

“Shodaqallahul ‘adzhiim….”, serempak lafadz penanda usainya tilawah kami lantunkan sambil terisak. Suaraku kian bergetar ketika membaca do’a khatam Al-Qur’an. Sebelumnya kubayangkan segala keletihan, pengorbanan waktu, tenaga dan materi yang sudah kami keluarkan. Walau mungkin semua itu belum seberapa dibandingkan usaha saudara-saudara kami di belahan bumi lain. Paling tidak kami sudah mencoba latihan bersabar bersama Al-Qur’an. Suatu kesabaran yang insyaAllah dapat menghasilkan beribu kesabaran lain, begitu kata Ustadz-ku dulu.

“Allahummarhamnaa bil Qur’aan…’, do’a itu dimulai. Lalu tumpahlah keharuan kami. Seraya mengingat dosa, hati yang berpenyakit, amal yang pamer, janji yang belum tertunai, pikiran yang acap kotor, ibadah yang tergesa-gesa, do’a yang tidak khusyu, cinta dunia yang berlebihan dan masih banyak lagi. Tapi dibalik itu, bercampur pula segenap harap, rindu, pasrah serta taubat. Semuanya terbang menembus langit, mengiringi kepergian Ramadhan.

*****

​Di malam takbiran yang hening, aku terpaku menatap keranjang-keranjang baju hasil cucian yang belum tersentuh sejak 10 hari terakhir Ramadhan. Anganku melayang pada keriuhan malam yang sama di tanah air. Kerinduan pada orangtua dan sanak saudaraku jelas meraja di batinku. Akhirnya kuhibur sajalah diriku dengan goresan puisi…

Disini, tak ada kembang api, tak ada kemacetan
Tiada aroma kue asin-manis terpanggang api
Tidak pula keriuhan rencana takbiran
Pasar, dimana mana tak kan kau temui obral lebaran besar-besaran
Bunyi bedug? Putar saja You Tube pasti menyala
Sepi. Radio dan televisi seolah sembunyi

Yang nampak hanya sekeranjang setrikaan menggunung kian hari terbengkalai sepanjang Ramadan.

Yang tetap setia adalah hidangan sisa berbuka, menunggu disantap esok hari

Yang terasa cuma kantuk tak berkesudahan diperangi pemilik mata-mata dengan titik air pertaubatan

Yang terjaga hanya lingkaran segelintir manusia haus ilmu dalam majelis – yang ujar Sang junjungan- dipenuhi para malaikat

Yang terbayang selalu rindu pada peluk cium orangtua dan hangat hela nafas maaf mereka

Yang tersisa tak lain kumpulan harap cemas pada Penguasa malam seribu bulan

Akankah masih tersambung jasad dan ruh tahun depan

Di sana pun disini…
Rangkaian hijaiyah yang kadang jelas kadang buram itu berdengung sepanjang gelap-terang
Berkejaran keluar disela bibir dan lidah
bersahutan dari tenggorokan atau rongga hidung
Ada yang fasih atau teraih minimal dua pahala
Satu, dua kali bahkan lebih
khatam sudah kalam suci
Tak peduli bersimbah lelah demi berlomba ikuti jejak Nabi dan Salafus salih
Aku tercenung, mungkinkah teguh berkelanjutan saat bulan berganti?
Allahu Rabbii, tsabbit qolbii…

[Perth, 2011]

******

Alhamdulillaah tulisan di atas termasuk ke dalam buku antologi berjudul “Senandung Ramadhan” yang diterbitkan oleh Alif Gemilang Pressindo. Untuk pemesanan dan dapat langsung mengobtak penerbitnya dengan mengirimkan sms ke nomor 0878-260000-53, tulis :
NAMA LENGKAP#Alamat lengkap#no telpon#jumlah pesanan.

Mudah-mudahan stoknya masih ada yaa.
Soale dicetak terbatas..:(

20130608-060331.jpg

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com