0

Berkah Perkenalan

Posted by Vienna Alifa on 27/05/2009 in Haji, Kenangan, Renungan |

 

“Berkenalanlah dengan siapa saja yang engkau temui dari saudaramu, meski tidak diminta. Karena azas dakwah kita adalah cinta dan saling mengenal.”

( Asy-Syaikh Hasan Al-Banna )

***********

Suatu hari -ketika usai thawaf sunnah- sambil menungggu waktu Maghrib saya sempat berkenalan dengan beberapa jama’ah di Masjidil Haram. Dengan penuh perjuangan saya berhasil menempati shaf yang paling diminati seantero jama’ah. Selantai dengan Ka’bah, dekat maqom Ibrahim, persis depan Multazam. Tadinya saya berangkat berdua dengan ipar. Tapi sejak putaran Thawaf kesekian kami terpencar. Mau tidak mau berputarlah saya seorang diri sampai genap 7 kali.
Al-Haram di musim Haji selalu penuh sesak.  Apalagi di teras Ka’bahnya. Maka jika bisa menemukan satu ruang untuk berdiri dengan gaya bahu terangkat dan kedua paha menempel rapat saja, tentu betul-betul suatu kesempatan langka yang tak boleh disia-siakan. Saya yang telah lelah menyelinap kesana kemari akhirnya menemukan tempat idaman itu. Dan berusaha sekuat tenaga menahan agar tidak batal wudhu sampai sholat Isya tiba. Karena bila saya gagal mempertahankan wudhu, entah kapan lagi  saya dapat menikmati posisi wuenak yang langka itu. Jarak toilet yang sangat jauh membuat saya dan mungkin banyak jama’ah berpikir serupa. Belum lagi harus melewati sesaknya jama’ah sampai menuju kesana. Lalu balik lagi cari tempat duduk semula. Pheeewww…..haqqul yaqiiin ga bakal ketemu lagi. Bisa dapet tempat duduk deket pintu masuk bagian luar aja udah syukur…:)

Sepanjang penantian waktu sholat Magrib hingga Isya  silih berganti jama’ah duduk di samping kanan-kiri saya. Pertama, seorang pria asal Iran berusia sekitar 45 thn keatas menyapa ramah dengan bahasa Inggris terbata. Ia datang saat mendekati sholat maghrib. Wajahnya nampak girang begitu tahu saya dapat melayani sapanya dengan bahasa Inggris yang sama-sama parah. Oia, di Masjidil Haram sulit sekali membuat batas duduk pria dan wanita (terutama di musim Haji). Namun jangan kuatir…antara saya dan pria Iran itu masih ada jarak satu orang duduklah. Karena setelah ashar, suasana padat agak menyurut di sekitar saya.
Lantas dia cerita tentang keluarganya yang tidak dapat ikut berhaji karena sang istri baru saja melahirkan anak kedua, bertanya tentang Indonesia, pengalaman kerjanya di Jepang dan sedikit info tentang paham Syiah yang dianut mayoritas Iranian. Saya lebih banyak mendengarkan dan menanggapi sesekali. Dia pun bertanya apakah saya Syi’ah atau bukan. Saya  cuma tersenyum sambil menggeleng pelan. Dia tertawa dan menganggap bahwa perbedaan itu bukan masalah penting. Kita sama-sama menghadap Ka’bah sekarang dan menyembah Tuhan yang sama.
“So, we are the same…the same…”, katanya terkekeh.
Pembicaraan kami akhirnya terhenti karena sholat maghrib sudah tiba. Setelah sholat, sebelum beranjak, dia sempat berucap pelan….
”I’ll pray for you and your family, May Allah bless upon you.”

Setelah pria itu pergi, duduklah wanita tua asal Kashmir. Sebelumnya dia sempat terdorong-dorong kesana kemari  oleh kerumunan orang yang berdiri tak jauh dari tempat saya duduk. Sambil terengah-engah dia menghempaskan diri di samping saya. Usai Maghrib ternyata semakin penuh jama’ah berthawaf. Selepas thawaf banyak orang berebut ingin menempati area di sekitar saya. Jama’ah Afrika bertubuh  tinggi besar sering dengan santainya lalu lalang menerobos shaf yang sudah sangat rapat dengan melangkahi kepala-kepala mereka yang duduk. Termasuk saya dan wanita Kashmir ini. Kasihan sekali ia. Tubuh ringkihnya seperti sudah tak mampu menahan dorongan dari depan dan belakang. Tungkai kacamatanya sudah patah sebelah dan kakinya sedikit pincang. Saya peluk dia agar tidak terjerembab. Ia memandang terharu dan mengusap-usap kepala saya bagai seorang ibu pada anaknya. Seusai keramaian mereda, kami berbincang tentang asal kami. Tak banyak yang saya tangkap dari lisannya kecuali ungkapan kepedihan. Ia bercerita tentang negaranya yang terus dilanda pertikaian. Beberapa keluarganya mengungsi terpencar. Ada juga yang meninggal dibunuh di depan matanya.
Saya ikut mendesah perih. Saya tatap mata tuanya yang sedikit berair.
Namun kebahagiaan tetap terpancar jelas dari airmukanya. Semata karena keberadaannya  di kota Mekkah. Rasa pilunya seolah menguap sirna terbayar oleh rangkaian ibadah Haji yang walau melelahkan raga, tapi membawa kesenangan di jiwa.
Saya rengkuh bahunya untuk membesarkan hati. Foto anak-anak dalam Hp yang saya tunjukkan padanya diciuminya dengan lucu dan spontan. Kepala saya pun tak luput dielus dan ditepuk lembut berkali-kali.
Sungguh kagum saya pada wanita tua ini juga saudara-saudara muslim lainnya yang memiliki  nasib serupa dengannya. Sebenarnya sudah sering saya melihat mereka bergerombol di tepian jalan, membentangkan alas duduk seadanya, tidur di sudut trotoar, kolong jembatan, melewati malam-malam ramai berbagi makanan diantara mereka. Walau berasal dari negeri miskin dan dilanda pertikaian, semangat mereka menempuh perjalanan ke tanah suci tak mungkin tertandingi oleh usaha saya atau bahkan muslim lain (yang berangkat dengan fasilitas lengkap) yang susah payah menyabarkan diri saat menemui berbagai kesulitan selama di sana. Ah, saya hanya bisa mendo’akan semoga dengan segala kesusahan yang berkali lipat itu, pahala yang mereka dapat pun berlipat ganda .

Begitulah.
Dua obrolan dengan muslim antar bangsa tadi mungkin yang paling membekas bagi saya diantara berbagai perkenalan baru yang terjalin diantara sesama jama’ah Haji.
Jika ada yang bertanya pengalaman apa yang paling menancap di relung selama perjalanan suci, pastilah akan saya jawab tentang kemudahan untuk saling kenal mengenal itu. Entah berasal dari bangsa lain atau satu tanah air. Alhamdulillah hampir selalu ada saja silaturrahim  terjalin -meski singkat- dengan siapapun saya duduk. Apakah diawali dengan melempar senyum, salam singkat atau pinjam meminjam sesuatu. Sampai ada yang berlanjut ke tukar email  (dengan seorang ibu asal Turki) dan  tawaran mampir ke tempat peristirahatan jika berkunjung ke Bali -sambil menyelipkan kartu nama-  (dengan ibu muda asal Bali).

Kadang ada yang berkomentar negatif mengenai sifat saya yang begitu mudah berkenalan dengan orang baru ini. Terutama dari kalangan keluarga. Mereka seringkali mewanti-wanti supaya saya selalu berhati-hati untuk tidak mudah melayani orang yang baru kenal. Mereka khawatir saya terjerat tipuan. Karena zaman sekarang banyak kasus kriminal diawali dengan basa-basi berkenalan atau belagak minta pertolongan pada orang yang baru dikenal. Pesan ini memang saya camkan untuk tetap menjaga kewaspadaan.
Tapi jauh di dalam hati, saya merasa bahwa jika kita betul-betul berniat baik dan lurus untuk membuka pintu silaturrahim baru pada saudara seiman, niscaya Allah sendiri yang akan menjaga keselamatan kita. Terlebih bila landasannya dakwah. Seperti perkataan seorang ulama asal Mesir, Hasan Al-banna yang saya kutip diatas. Niscaya akan selalu ada berkah dari setiap bentuk perkenalan itu.

Ibadah Haji dimana dengannya kaum muslimin bisa bertemu dengan berjuta muslim lain dari segala penjuru dunia, menurut saya adalah ajang terbesar sebuah perkenalan. Melalui satu wadah yakni kesamaan iman, kami berbaur  satu dengan yang lain untuk tujuan yang sama. Pertemuan itu begitu bersejarah dan menjadi hiasan indah di dinding ingatan sekembalinya saya ke tanah air.
Kalam Allah yang selalu Maha Benar, sejak lama telah menjelaskan bagaimana harga dari sebuah perkenalan dapat menguatkan ikatan antara individu dengan masyarakat.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al-Hujurat :13)

Terkait dengan pertemanan, tak sedikit hadits Rasul saw  yang berisi anjuran untuk memperbanyak teman yang shalih. Diantaranya adalah :

“Barangsiapa yang Allah kehendaki pada dirinya kebaikan, maka ia akan diberikan teman yang shalih. Yang akan mengingatkan ketika ia lupa dan memberikan pertolongan saat ia ingat.”

Maka dimana saja kita berada semoga teman baik dan sholih selalu bertambah dalam daftar orang-orang terdekat kita. Jauhnya jarak tentu masih dapat teratasi dengan kontak dunia maya. Namun  ikatan persaudaraan tetaplah lebih membekas saat ada interaksi secara nyata.

Allahu’alam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com