0

Pertemuan Berlatar Nibiru

Posted by Vienna Alifa on 07/02/2011 in Coretan Hati, Kenangan, Sahabat |

Mohon muaaappphh sebelumnya, bagi tokoh2 yang disinggung dalam postingan ini, krn selang waktu yang begitu puanjaang hingga aku baru punya kesempatan skrng menampilkan kalian disini. Hihihi…jewer aja orangnya nih…*kasih kuping*.

******

Bukan sekali aku terpikat dengan kalimat yang dirangkai wanita itu. Entah berupa catatan atau hanya beberapa bait dalam status pendek di Facebook, kesemuanya selalu nikmat untuk dibaca. Terasa legit dan renyah. Kadang tersirat pahit yang tetap sedap dikecap. Ibarat paria yang ditumis pakai ikan asin dan cabe hijau, mmhh..bikin makan tambah lahap kan?

 Ehh..ini bukan berarti aku menikmati penderitaan orang lain ya, melainkan ungkapan kegetiran yang ia luahkan itu sungguh mampu menumbuhkan empati bagi pembacanya. Tanpa dibumbui kecengengan yang didramatisir, ia mencoba menera kejujuran dalam tiap tulisannya. Ia curahkan isi hati dengan kalimat yang indah sehingga jauh dari kesan sesumbar keluhan. Aku pun kerap menimpali dengan sedikit komentar sok akrab. Tak dinyana ia selalu menanggapi dengan bersahabat. Padahal baru kenal !

Ah, ternyata  ia memang mudah akrab pada siapa saja. Ia sering mengapresiasi tulisan dan profil teman-teman kontaknya dengan bangga.  Di komunitas blog, ia malah pernah dinobatkan sebagai blogger teraktif.  Apalagi di kelurahan Multiply, siapa yang tak kenal namanya  silakan lapor diri dulu ke presiden MP. Hihihi..apa hubungannya yak. Pokoknya rata-rata para  aktivis MPers yang kukenal pasti tahu Ima deeeh. Iyaa.. dia Imazahra, penyusun buku Long Distance Love ituuu dan tengah naik daun setelah novel antologi yang disusunnya masuk kategori best seller di toko buku terkemukaaa! *koar-koar pake toa*

Andai kudapat bertemu langsung dengannya, pasti ramai obrolan tanpa jeda.

Pucuk dicinta ulam tiba. Sehari sebelum kepulanganku ke Indonesia, Ima mengabarkan info kegiatan pribadinya lewat catatan di FB, yakni ia akan memoderatori peluncuran novel terbaru Tasaro yang bertajuk Nibiru dan Kestaria Atlantis di Gramedia Matraman.  Wahh…ingin betul kuusahakan datang kesana, bertemu Ima sekaligus membeli karya terbaru Tasaro yang sepertinya bakal meledak di pasaran. Sayangnya, setelah kuhitung waktu kedatanganku (Jum’at pagi, 10/12/2010) dengan jadwal acara itu (Sabtu malam, 11/12/2010), sangat tidak memungkinkan bagiku hadir. Lokasi yang jauh serta waktu yang terlalu petang membuatku kurang yakin dapat dengan sukses melalui rimba kemacetan Jakarta seorang diri. Lagipula Sabtu siangku sudah terisi dengan kopdar nan manis dengan dua wanita hebat di Teras Kota, toh ?

Syukurlah,  launching kedua yang dijadwalkan keesokan harinya terletak di Gramedia, Bintaro Plaza. Tak jauh dari rumahku. Imaaa…kita bertemu disitu saja yaa….:)

Singkat cerita, tibalah aku pada waktu yang sudah kami sepakati di Bintaro Plaza. Rencananya, agar kopdar berlangsung leluasa aku datang lebih awal daripada jadwal launching Nibiru. Maka sekitar pukul 10.30 aku sudah duduk manis dengan segelas besar ice cappuccino di gerai Dunkin Donuts. Selain rada takjub dengan kemampuanku datang lebih awal *hehehe..*,  ketakjubanku pun bertambah saat mengamati harga-harga yang terpampang di menunya. Minuman dengan ukuran regular saja bisa mencapai harga 25 ribu ?? Ckckckck…

Lalu setengah jam kemudian, muncullah Ima dengan suaranya yang renyah menyapa ramah. Benar kiranya, percakapan demi percakapan kami seolah seperti air mengalir. Karena jadwal launching sedikit mulur, kita pun semakin senang mendapat tambahan waktu ngobrol yang lapang. Perut Ima yang merongrong sedari pagi karena belum sempat sarapan rupanya protes keras minta diisi saat jadwal makan siang tiba. Kami pun segera mencari resto cepat saji terdekat dengan lokasi Gramedia dan tentu saja melanjutkan sesi ‘mengenal lebih dekat’.

 

Ima, bagai sebuah buku terbuka yang mudah dipahami oleh sesiapa yang mau membaca. Ia tak sungkan memaparkan masa lalu, rencana dan obsesinya padaku, orang yang baru pertama kali bertemu. Keterbukaannya itulah, mungkin, yang membuat siapapun yang diajak bicara olehnya merasa dipercaya sebagai kawan dekat tempat berbagi rasa. At least, that was how I feel. Gak heran kalau kemudian banyak yang merasa dekat dengan Ima walau baru sekali tatap muka.

Dari seorang Ima yang sederhana, aku juga belajar tentang bagaimana mengelola rasa percaya diri yang terpancar kuat lewat gesture-nya.

 

 

 

 

 

Saat ia berbicara sebagai pembawa acara peluncuran novel Nibiru di panggung bersama Tasaro, ke-pede-annya makin terasa. Ia paham bagaimana memenej kompetensi yang ia miliki sesuai situasi dan kondisi. Tasaro yang kala itu sedang kurang sehat kiranya  cukup terbantu dengan kelincahan Ima menimpali dan mengarahkan maksud pertanyaan dari para hadirin.

 

Kurang lebih 1.5 jam, acara launching Nibiru berlangsung lancar. Meskipun yang hadir tidak terlalu banyak, tapi rata-rata mereka penggemar berat karya Tasaro atau para pecinta literasi. Dan itu cukup membuat hangat forum tanya jawab  dengan keingintahuan yang berkualitas.

Trusss.. yang bikin aku dan Ima surprais….diantara mereka itu ada MPers, sahabat kita, yang datang tanpa kabar angin serta desas desus sebelumnya. Itu lhooo…Lessy dan mbak Tyas tiba-tiba nongol sebelum acara dimulai. Ih, si Lessy padahal kemaren saat ketemu bilang gak bisa ke situ, eehh…taunyaaaa…yaaa! *uyel2 jilbab Lessy*.

Akan halnya mbak Tyas, ia datang lengkap bersama pasukan dan komandannya. Seneng banget bisa ketemu mbak yang kocak, ramah dan njawani ini meski kita gak bisa puas bercengkerama dan menukar kegokilan dengan sebotol sambal bu Rudy. Hihihihi…Moga-moga kita bisa ketemu lagi ya mbakyuu..sebelum daku kembali merantau. Ingin menggali dan digali niihhh…*apa siiyy*


Kira-kira jam 2.30, kita semua mengucap salam perpisahan. Ima dan grup manajemen penerbit Tiga Serangkai (yang menerbitkan Nibiru) meluncur ke Gramedia Depok untuk melanjutkan jadwal launching berikutnya. Mbak Tyas harus segera pulang bersama keluarganya, karena putra pertamanya nampak tak enak badan (InsyaAllah sudah sembuh ya sekarang). Sedangkan aku dan Lessy masih melanjutkan obrolan seru di taksi sebelum aku turun di Bintaro sektor 9, tempat mobilku parkir. Makasih ya Leess…atas tebengan taksinya yang bikin dirimu mirip setrikaan karena harus mondar mandir di sekitar Bintaro. *cengar cengir*

Begitulah kehangatan kopdarku hari itu yang berlatar peluncuran buku Nibiru. Bukan hanya berkah silaturrahim yang kudapat tapi juga santapan otak berupa buku-buku novel berjudul-judul. Gara-gara gak kuat liat novel-novel baru dipajang di Gramed. Salah satu yang paling tebal dan looks ‘yummy’ ya Nibiru itu. Dan ternyata sebelum tulisan ini dibuat, ia sudah kusantap habis !

Review-nya ? Ntar yak…disambi napas puanjang lagi plus wara-wiri urusan domestik duyuu…^^

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com