0

Kopdar Di Awal Mudik

Posted by Vienna Alifa on 21/12/2010 in Kenangan, Sahabat |

Beberapa hadiah berbentuk buku menyambutku sesampainya ku di rumah. Mama sampai bingung mengapa banyak temanku yang perhatian dengan mengirimi buku.

“Ini tuh buku hasil lomba nulis, Mah…bukan mereka rajin ngirimi buku buat Dede,” menenangkan rasa takjubnya. Ada pula yang berbonus jilbab plus souvenir mungil khas suatu negara. Yaay.. warna jilbabnya cantik pula. Aku belum punya !

“Emang kamu nulis apa sih ?”

“Yaa…nulis pengalaman yang temanya ditentuin gitu, jajal kemampuan nulis aja sambil curhat. Alhamdulillaah ada juga yang nyangkut jadi nominasi dan dapet hadiah…” Kusahuti beliau sambil berdecak decak membolak balik halaman buku-buku itu. Menciumi harum kertasnya dan tentu saja tersenyum senang. Membayangkan liburanku kan banyak terisi dengan membaca. Kegiatan yang sulit kujadwalkan rutin selama di Perth karena alasan yang dicari-cari : padatnya aktifitas domestik tanpa asisten ditambah agenda tetap ‘mengisi dan diisi’ dalam majelis-majelis ilmu. Padahal beberapa lembar hikmah bisa saja terjamah dalam beberapa menit kalau memang manajemen waktunya rapi.

Esok paginya, saat tersadar dari ritual balas dendam atas (nyaris) sehari semalam tak tidur menyiapkan dan melakoni perjalanan Perth-Jakarta, kupajang status di FB yang menyiratkan keberadaaanku di tanah air. Tak disangka, sambutan sahabat maya dan nyata sungguh hangat. Ajakan kopdar berdatangan. Tukar menukar nomor ponsel pun segera dilancarkan. Beberapa yang sigap ketemuan itu bahkan mereka yang sudah eksis dalam berkarya tulis dan memang kuharap sangat bisa mendapat bocoran ilmunya. Ahaa…siapa saja mereka ?

Hiks..mungkin berita ini sudah agak basi karena beberapa MPers yang nge-link dengan mereka juga sudah dapat kisah kopdaran serupa. Tak lama setelah momen itu lewat bahkan. Duhh..kemana saja diriku coba. Semua sudah asik membahas serunya kopdaran itu, aku malah lenyap, seakan tak ada kesan yang membekas. Huhuhuw…Padahal hatiku sudah kayak digedor gedor oleh keinginan menuang rasa ke dalam tulisan. Ini karena koneksi internet yang agak terseok-seok di awal hari-hari mudik. Maklum masih mengandalkan fasilitas Tel***sel flash lewat pulsa HP. Tahu sendiri kan, tingkat kestabilannya yang suka ngajak kita menghela napas panjang berkali-kali. Pokoknya gitu lah.

Lanjut ke cerita kopdaran ya…

Singkatnya dua hari kopi darat yang legit itu terjadi secara berturut-turut, Sabtu (11/12/10) dan Minggu (12/12/10).

Sabtu : Teras Kota, BSD City

Tak kusangka seorang wanita berdarah Padang yang tulisannya banyak berjaya di lomba-lomba antologi mengajakku bergegas di Sabtu pagi. Udah pada tahu kan? Itu looh Uni Dian Onasis…ih terlalu dweh kalu belum kenal. Hayoh cepet buruan add MP-nya. Bisa langsung pesen buku nantiii..*cengar cengir*

“Aku mau ke Teras Kota sekitar jam 10. Vienna bisa kesitu gak ?” Begitu dia mengawali pesannya.

“Wah..lumayan terjangkau tuh Uni dari Karawaci. Aku usahain kesitu jam segitu yaa…,” timpalku segera. Kubayangkan perjalanan yang sudah kuhafal seraya memperkirakan berapa jam waktu tempuh ke lokasi pertemuan.

“Oya Vien, Uni janjian ketemu juga sama Lessy, sebenarnya…Dia mungkin sampai sekitar jam 11.” Uni melanjutkan pesan via sms.

Waaahhh…Lessy, si cantik nan lincah itu sedang di Jakarta?

Tambah riang dan semangat lah aku untuk buru-buru bangkit dari kebebasan berleyeh-leyeh di pagi hari yang jarang kunikmati selama di Perth. Tentang Lessy, sebenarnya aku sudah pernah sekali bertemu wanita mungil ini tahun lalu di rumahnya. Saat ia sedang menjalani bed rest demi sebuah program keluarga. Senang betul kalau benar hari ini kita bisa saling mengadu keceriwisan lagi.^_^

Kira-kira pukul 11 lebih, berkumpul lah kami bertiga di sudut ruang Café Betawi.

Diawali dengan tukar-tukar cinderamata plus pelunasan pesanan buku, pembicaraan seru mulai mengalir lancar. Menu restoran dengan foto-foto menggiurkan itu rupanya kalah saing dengan hasratku berceloteh menimpali topik-topik yang meloncat kesana kemari. Sejak awal sampai akhir, aku sampai tak sempat pesan makanan. Tak terasa pula pisang bakar coklat Uni ludes, es campur Lessy lumer dan Betawi punch-ku tandas.

Lessy sepertinya juga kurang bersemangat menghabiskan siomay pesanannya karena berulang kali di jeda dengan obrolan dan haha-hihi kami yang tak putus-putus. Berbekal semangat solidaritas (halaaah..padahal mah karena udah ribut ini peyut), aku turut terjun menyantap sebagian siomay itu tanpa sungkan. Mmmhh..enyak juga yah L, meski bumbunya mirip salah satu tema perbincangan kita tentang kebiasaan buang hajat ituh. Bwahahaha…inget Uni yang sampe harus beristighfar beberapa kali sambil cekikikan.

Hampir dua jam berlalu. Kami saling melempar senyum puas dan bahagia. Dokumentasi sudah terekam, meja telah kembali bersih dan hati sudah terpaut dengan segelintir kisah hidup masing-masing yang cukup personal. Semua tuntas bertepatan dengan jadwal waktu masing-masing yang sudah direncanakan. Lessy pas ditelpon ayahnya yang siap menjemput, Uni harus mengambil Billa dan aku memang berniat untuk tidak terlalu lama keluar rumah. Alhamdulillaah..acara kopdar berlangsung lancar dan manis. Ba’da cipika-cipiki, aku menatapi punggung kedua wanita itu menjauh dari pandangan.

Di perjalanan pulang, sambil menyetir kulamunkan pertemuan tadi. Masih terngiang suara renyah L, mata kecilnya yang berbinar dan mimik wajahnya yang selalu lucu dan menggemaskan saat bercerita (kalaw ane cowok, mesti naksir berat dah). Masih terpampang aura ketegasan Uni yang dibalut sikap bijak dan matangnya (jyaah..buah kaliii…;p). Banyak hal positif, insyaAllah, tersaji secara alami dari mereka berdua yang membuatku terinspirasi. Satu kesimpulan yang dapat kuambil adalah, segala yang tampak dari mereka nyatanya tak jauh beda dengan apa yang selama ini mereka bagi dan tampilkan lewat tulisan-tulisan di jurnal MP.

Lessy yang pertama kali ku jabat hatinya di era Friendster itu terbukti cerdas, enerjik, penuh perhatian dan jenaka ! Pantas saja kalau siapapun yang baru berkenalan dengannya tiba-tiba merasa dia yang paling dekat dengan L. Sebagaimana ngalor ngidul asiknya yang mengundang puluhan komen tiap kali dia posting berita. Tak lain karena para komentator itu begitu nyaman dengan komunikasi yang dia tawarkan. Nyambung, itulah satu kata yang kusemat di hatiku ketika duduk tatap muka dengannya. Kata itu kalau diturunkan derivatnya bisa berarti : cocok, klop dan betah untuk sering-sering berinteraksi. Ibarat jaman ABG dimana aku suka telpon2an dengan para sahabat sampai berjam-jam, Lessy pasti nangkring di urutan teratas yang kuputar no telp-nya sambil merem.

Sementara Uni Dian, tipikal wanita Padang yang mandiri. Posisinya sebagai si sulung terpancar jelas tanpa aku perlu sok beraksi sebagai mama Lauren. Penampilannya sederhana namun elegan (kok mirip judul rubrik mode di majalah wanita yak..;p).

Uni, dalam pandanganku, termasuk wanita yang berkarakter kuat.Karena setiap prinsip hidupnya tercermin lugas bukan saja dalam kalimat yang terlontar tapi juga mengiringi pengambilan sikapnya dalam menghadapi suatu masalah. (wudiih gayaku bak psikolog gadungan geneh *hihihi…mohon maap ya Nii, kl sok taw…*). Dari sekelumit kisah tentang iklim di keluarganya, dari alasanyang dia ambil saat menikah, dari keputusannya terhadap kepindahan dan karirnya, semua mengandung ketegasan dalam memegang prinsip. Aku yang kemana-mana membawa naluri ke-bungsu-an, langsung menisbahkan Uni sebagai salah satu kakak idaman yang kuangankan bisa kapan saja kuserap ilmunya seraya ‘nyampah’ keluh kesah-ku. Hihihi…*si bungsu bertanduk*

 

*******

Jalanan yang mulai memadat di Sabtu siang itu, kulalui tanpa gerutuan di hati akan simpang siur motor, angkot atau mobil pribadi yang menyalip seenak jidat. Pikiranku tak terlalu fokus ke lalulintas. Ia melayang-layang pada manisnya kopdar di Teras Kota, bersama dua sahabat maya yang menjelma nyata.

Subhanallah..tali pertemanan tanpa raga itu mungkin saja mampu sekian lama terjalin mesra di udara, namun bertemunya fisik, bagiku, adalah faktor penting dalam mengekalkan sebuah hubungan silaturrahim antar manusia. Bukan tanpa sebab saat Rasul saw mewajibkan kita untuk datang apabila diundang saudara seiman dalam rangka memenuhi salah satu hak mereka. Karena kontak mata, bahasa tubuh, air muka dan intonasi verbal tak mungkin tergantikan dengan tulisan panjang meski ia berbicara tentang rasa hati. Tukar menukar pengalaman hidup pun lebih melekat untuk diadaptasi berkahnya satu sama lain bila terwujud oleh seluruh ekspresi tubuh.

Gak percaya ? Makanyaaa…kopdaraannn nyook ! ;D

Oya, cerita kopdar-ku masih berlanjut lho… di hari Minggunya dengan blogger wanita ternama yang udah menghasilkan buku best seller. Iyaaa…si itu tuuu..

Aktipis MPers pasti udah pada kenal dia deh…;)

Kalau mau baca ceritanya kudu sabar menunggu postingan berikut yah. Maklum koneksi Inet mirip jalan tol Jakarta. Banyakan macetnyah…heuheu…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com