0

MAHJURAN

Posted by Vienna Alifa on 22/06/2017 in Dakwah, Qur'an |

 

“Yaa Rabbi…inna qoumi at-takhadzuu haadzaa Al-quraana mahjuuraa.”
Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan.

 

Inilah keluhan Rasulullah shallaallahu ‘alayhi wa sallam yang diabadikan dalam surah Al-furqan ayat 30, ketika ia mendapati semakin banyak kaumnya yang menghujat Al-quran. Kendati ayat ini turun berkenaan dengan celaan orang-orang musyrik terhadap Al-quran hingga dada Rasulullah begitu sesak, tapi secara umum ayat ini juga memperingatkan kaum muslimin yang tidak memedulikan Al-quran.

Makna diabaikan di ayat tersebut bukan sekedar sesuatu yang ditinggalkan. Melainkan ditinggalkan teramat jauuuuh. Kaum yang dimaksud juga bukan hanya yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw. Sebab bukankah umat Rasulullah saw mencakup seluruh umat Islam yang hidup sejak beliau wafat hingga akhir zaman?

Karena itu kita perlu mewaspadai, jika Al-quran yang bahkan sudah bolak-balik kita baca namun belum terefleksi dalam amalan diri, maka kita bisa dianggap telah mengabaikannya.

Menurut Ibnul Qayim, bentuk mengabaikan Al-quran ada beberapa kategori, yaitu :

1. Menolak untuk mengimani dan membenarkannya;

2. Tidak mau mendengarkan dan membacanya;

3. Sudah dibaca tapi tidak berusaha merenungi, mengkaji, dan memahami kandungannya;

4. Tidak mau mengamalkan isinya, termasuk enggan menerapkan hukum-hukumnya; baik dalam kehidupan individu, masyarakat, maupun negara.

Semua kategori tindakan di atas termasuk perbuatan yang diharamkan, dengan indikasi ayat berikutnya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ

Seperti itulah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. (QS Al-Furqan : 31).

Tampak jelas-lah kemudian bahwa orang-orang yang meninggalkan dan mengabaikan al-Quran disejajarkan dengan musuh para nabi dari kalangan orang-orang yang berdosa.

Wal ‘iyadzu billaah.

Semoga Allah menolong kita untuk selalu mudah berinteraksi dengan Al-quran. Sehingga menjadikan kita pecinta ayat-ayat-Nya yang mencanduinya di setiap pikiran, gerak anggota tubuh maupun hati yang mengiringi aktivitas kita selama hidup di dunia.

 

Referensi : Ceramah Ust Nouman Ali Khan
@viennalifa, Tangerang.
#diaryramadan1438H

0

Istirja’

Posted by Vienna Alifa on 01/07/2016 in Coretan Hati, Kidz, Kisah, Qur'an, Ramadhan, Tazkiyatun Nafs |

 

Innaalillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun.”
Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Minggu lalu, kalimat istirja’ di atas saya maknai betul sambil terlarut dalam tangisan. Tepatnya sesaat setelah saya mendengar sekelebat info dari suami via sambungan telepon interlokal Jakarta-Perth. Suami saya dengan suara cemas dan sedikit gugup bertanya, “Kamu dapet kabar tentang Hamzah gak di grup wa? Kata Papa dia kecelakaan.”

Deg! Persendian saya seolah lunglai dan jantung saya langsung berdegup super kencang. Saya pun terduduk seketika. Saat itu saya baru saja hendak masuk ke area wudhu Masjid Ibrahim, Southern River. Waktu di Perth hampir menunjukkan pukul 7.30 malam di mana shalat isya dan tarawih sebentar lagi akan dimulai.

Sayangnya suami saya juga tidak begitu detil mendapat berita tersebut. Dia meminta saya untuk menanyakan ke grup wali santri karena dia sendiri ingin bergegas memacu kendaraan ke pesantren tempat anak kedua kami belajar. Dengan jari-jari gemetar saya memutus sambungan telepon dan cepat-cepat mengetik kata-kata mohon bantuan ke grup wa. Saya juga coba mengontak nomor salah satu Ustadz penanggung jawab asrama. Tapi telepon tak kunjung diangkat sampai kemudian terdengar suara iqamah dari dalam masjid.

Pikiran saya masih sangat kalut. Tapi saya harus segera berwudhu. Dalam kondisi tiada daya dan upaya saya seperti disentak oleh pemahaman bahwa ini bukan urusan saya. Ini urusan Allah. Tak ada cara yang lebih baik selain menyerahkan semua persoalan pada-Nya, Penguasa segala sesuatu. Dan shalatlah sebaik-baik sarana berserah itu. Saya pun berusaha menjalani shalat isya’ meski bayangan buruk tentang anak saya nun jauh di sana terus menghantui.

Saat ada jeda shalat isya’ dan tarawih saya coba mengintip HP. Belum ada perkembangan kabar yang berarti sampai shalat tarawih dimulai. Cuma istighfar yang saya mampu banyak bisikan dalam resah. Pada rangkaian empat rakaat (2-2 raka’at) pertama airmata saya terus mengalir. Di situlah kemudian pikiran saya larut antara menyimak ayat-ayat yang dibaca imam dan menekuri makna kalimat istirja’.

 

Kita milik Allah.
Kita milik Allah.
Kita ini milik Allah.
Anak, pasangan hidup, orang tua, saudara, bahkan diri sendiri adalah milik Allah. Tak ada yang abadi untuk kita miliki karena semua akan kembali pada Allah. Rela maupun terpaksa. Suka ataupun tidak. Allah pasti akan mengambil kepunyaan-Nya pada waktu yang sudah ditetapkan.

 

Hamzah pun milik-Mu, ya Allah. Rindu saya belum genap tapi Engkau menghendaki ada sesuatu yang terjadi padanya. Entah apa, bagaimana. Saya tak paham. Ikhlas-sabar-syukur harus dimunculkan. Ayo Vien, ini ujianmu. Hati saya berbisik, mata saya sembab. Saya menahan isak tiap bersujud.

Ketika ada jarak agak lama sebelum masuk ke rangkaian empat rakaat berikutnya, saya buru-buru periksa HP lagi. Saya gerakkan layar secara cepat agar langsung tertuju pada kabar yang ditunggu. Lalu tampak beberapa foto. Saya klik dan terlihatlah wajah Hamzah anak saya. Ia tersenyum bersama temannya. “Hamzah baik-baik saja, bunda. Dia lagi makan di kamarnya“, demikian salah satu pesan yang terbaca.

Alhamdulillaah. Allahu Akbar. Saya tarik nafas lega sedalam-dalamnya.
Tarawih masih berlanjut. Airmata saya masih mengalir. Bahkan lebih deras. Tapi kali ini hati saya diliputi kesyukuran. Saya bersyukur karena berita tadi tidak benar. Saya bersyukur dikaruniai teman-teman sesama orang tua santri yang sigap membantu serta menunjukkan empati begitu besar. Dan yang paling saya syukuri adalah perasaan pasrah yang hinggap di dada hingga terasa betul diri ini hanya menggantungkan segala harapan kepada Allah semata.

Ternyata keterkejutan saya belum final. Usai tarawih, saya kembali memeriksa pesan-pesan di What’s App. Saya tersenyum begitu membuka file foto kiriman suami. Foto Hamzah bersama Abinya tampak ceria di dalam kamar pesantrennya. “Alhamdulillaah, ya Allah“, desis saya lirih. Tapi tak lama tubuh saya kembali lemas begitu saya buka pesan dari Rina Savitri Nina, ipar saya. Begini kurang lebih bunyinya:

“Miii…., Mama ketipu 8,5 juta! Dia
dpt telpon katanya Hamzah naik motor nabrak org. Mama panik sampe nggak inget ngehubungin akuu…”

Ya Allah…
Kena juga keluarga saya dengan model penipuan begini. Arghh, nyesek rasanya ngebayangin Mama panik, bingung dan harus transfer uang segera pada si penipu.
Lots of praying for you, Mom…😢💖

Innaa lillaahi wa innaa ilayhi rooji’uun.
Kalimat istirja’ sungguh tak harus berkenaan dengan musibah kematian. Tetapi juga untuk tiap musibah kehilangan atas segala nikmat yang pernah kita miliki. Supaya manusia sadar bahwa ia memang tak pernah memiliki apapun kecuali hanya dititipkan sejenak saja oleh Pemilik dunia dan seisinya ini.

Sungguh semua yang kami miliki sejatinya milik-Mu ya, Rabbanaa.
Lapangkanlah dada kami.

~vi3nzz, Ramadan 1437H
@Gosnells, WA

0

B A R I S A N

Posted by Vienna Alifa on 01/07/2016 in Coretan Hati, Puisi, Ramadhan, Renungan |

 

Tua-muda, besar-kecil, hitam-putih
Beda budaya, etnis dan bahasa
Beragam model dan warna penutup aurat
Bermacam gaya di antara gerakan shalat

Semua itu tak membuat barisan kami renggang pun putus
Juga tak menjadikan kami enggan untuk meluruskan barisan

Karena kami sama-sama…
Menahan lapar dan haus sejak fajar hingga mahgrib
Menghadap kiblat untuk mengadu pada-Nya
Sibuk menghitung amal dan dosa kami setiap malam di bulan penuh barakah
Memahami bahwa keberadaan kami di negeri ini hanya kaum minoritas

Jadi bagaimana kami sempat membahas kekurangan satu dengan yang lainnya?
Bagaimana mungkin kami mempermasalahkan perbedaan ringan nan sepele?
Bagaimana bisa kami memunculkan tanya yang akan mengusik kesatuan hati karena-Nya?

“Wahai hamba-hamba Allah, hendaknya kalian meluruskan shaff-shaff kalian atau Allah (ta’ala) akan membuat kalian berselisih (yakni menanamkan permusuhan) di antara kalian.
~HR Muslim

@vi3nzz
Ramadan 1437 H, Gosnells.

0

S I B U K

Posted by Vienna Alifa on 01/07/2016 in Puisi, Ramadhan, Renungan |

 

Sibuk apakah engkau?
Dzikir pagi-petang tak jua tergenapi
Keberkahan waktu dhuha terlewati
Apalagi berdiri di malam hari
Untuk munajat dan berserah diri
Paling hanya terbangun dan tidur lagi
Tafakur tak penah mampir di hati
Kalam suci pun hanya terdiam di lemari

Sibuk apakah dirimu?
Ketika bocah Palestina menghindari mesiu
Manakala sang fakir tergugu
diterkam lapar memburu
Saat saudaramu tak jemu
berebut bersedekah atau mencari ilmu
Dan muslim sedunia saling berpacu mengalahkan waktu

Kesibukan apa lagi yang kau hadapi?
Puaskan hobi eksiskan diri
Jadi komentator peristiwa terkini
Cari harta sana sini
Pertahankan jabatan setengah mati
Menimbun materi tak henti-henti
Banggakan keturunan paling ahli

Hati-hati…
Sekali kali berhati-hatilah

 

Sibukmu itu karena nafsu yang membelitmu,
Sampai kau lupa waktu
Terpedaya oleh kesenangan semu
Hingga tak kunjung membuatmu tahu
antara membagi urusan hidup dan matimu

“Ketahuilah jika seseorang tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti ia akan disibukkan dengan hal-hal yang buruk.”
[Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah]

 

 

vi3nzz @Gosnells, Ramadan 1437 H

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com