0

Mujahidah Sejati

Posted by Vienna Alifa on 08/11/2017 in Dakwah, Kisah, Renungan, Sahabat, Tarbiyah |
20131125-145227.jpg

“Jika engkau masih beraktivitas seperti orang kebanyakan, makan-minum seperti manusia pada umumnya, bekerja dengan ritme sebagaimana orang awam, tidur sebanyak waktu yang dibutuhkan manusia biasa, maka pantaskah engkau mengaku seorang mujahid/ah?”

 

Inilah salah satu petuah yang terus membuntuti pikiran saya begitu seketika mendengarnya dari sosok tawadhu’ nan berwibawa. Ia mengucapkan dengan nada tegas tanpa terlihat menyindir atau menggurui namun efeknya bikin hati saya seperti dihantam palu dan wajah saya panas menahan malu.

Dr. Amal Khalifa, sang pemberi nasihat itu. Beliau seorang pakar Al-Quds berkebangsaan Mesir yang diundang lembaga kemanusiaan untuk Palestina, Adara Relief International. Betapa saya bersyukur mendapat kesempatan mengenal beliau dan membersamainya beberapa hari lalu dalam perjalanan dakwah ke Jepara-Yogyakarta. Berbagai pesan beliau yang menggugah jiwa ternyata bukan sekedar retorika tanpa bukti.

Kesungguhannya menjaga lisan, pandangan, dan sikap tampak alami di mata saya. Semua itulah yang membuat beliau berbeda dari kebanyakan muslimah. Dari penampilannya saja dr Amal sudah berbeda. Selama dua minggu lebih di Indonesia dengan jadwal tampil di berbagai tempat dan bermacam publik, pakaian beliau hanya satu stel gamis hitam dan jilbab putih panjang saja. Saat mengemasi barangnya di hotel, saya sempat lihat sebagian isi kopernya ya memang cuma ada beberapa potong gamis hitam dan beberapa helai jilbab putih. Ya Allah, betapa sederhana beliau. Gak pernah ribet sama urusan baju. Pantas kalau pikirannya maksimal untuk ngurusin ummat.

Ketika dalam perjalanan pun, ibu beranak enam ini, jarang terlihat sibuk dengan hp-nya. Jika tidak ada yang mengajaknya ngobrol, ia lebih memilih memejamkan mata sambil berdzikir atau melanjutkan tilawah Al-qurannya. Tapi bukan berarti beliau gak asik diajak berbincang. Dokter umum berusia 51 tahun ini akan senang serta bersemangat sekali jika sedang membahas topik budaya, sejarah apalagi agama. Dari wawasannya yang luas dan isi pembicaraannya yang bernas akan langsung terasa bahwa ia wanita yang cerdas.

Meski begitu, kerendah-hatian tetap menghiasi segala tindak tanduknya. Saat berada dalam situasi yang kami rasa kurang kondusif, beliau tak sedikitpun berkomentar negatif atau menunjukkan raut tak nyaman. Wajah tak suka yang jelas ia tunjukkan malah jika tas/kopernya akan kami bawakan. Pasti tindakan kami itu langsung dicegahnya dengan keras. Ia pun selalu menyambut dengan ramah siapapun yang mengajaknya berfoto bersama walau dia sebenarnya tidak gemar dipotret ataupun memotret.

dr amal 2

dr amal 3

Cerminan profil mujahidah, bagi saya sungguh kuat terpancar dari peneliti masalah Palestina selama 20 tahun ini. Keseriusan dr. Amal memperjuangkan pembebasan Masjid Al-Aqsha membuatnya tak kenal lelah dalam menempa diri sendiri untuk selalu komitmen pada syari’at Allah dan Rasul-Nya tanpa mengecilkan peran kaum muslimin di sekitarnya, termasuk mereka yang masih dalam keadaan lalai. Beliau meyakini bahwa kelebihan yang dimiliki seorang da’i dalam mengarungi jalan dakwah semata disebabkan oleh kemurahan Allah.

“Jangan merasa bangga diri sudah mengerjakan ini-itu. Hindari sifat ghurur sebab tak ada jaminan kita bisa teguh sampai husnul khatimah”, tegasnya. “Bisa jadi pertolongan Allah datang karena ada amal rahasia dari seseorang yang tampak biasa saja di antara kita”, imbuhnya lagi.

Karena itu beliau mengajarkan satu do’a yang populer di kalangan aktivis Palestina, yakni :

اللهم هب المسيئين منا للمحسنين

Ya Allah berilah rahmat untuk orang-orang yang berbuat keburukan karena sebab keberkahan orang-orang yang selalu berbuat baik dan ketaatan.”

Maasyaa Allah. Baarakallahu fiiki, yaa dukturah. Ana uhibbuki fillaah..💝

wpid-img_20171002_195610_925467229421.jpg

~vi3nzz, Muharram 1438 H

#terinspirasi #mujahidahteladan #pejuangalquds #ceritaukhuwwah

0

Note To Myself

Posted by Vienna Alifa on 08/11/2017 in Renungan |

 

Diriku, cobalah kau konsisten (paling tidak) mengatur tiga hal ini di hidupmu…

ATUR PIKIRAN

Fokuskan pikiran pada peran dan kewajiban hidupmu. Arahkan selalu ke hal-hal positif sehingga tak mudah stress karena urusan apapun, karena ulah siapapun atau karena situasi bagaimanapun. Prasangka baik pada Allah, itu kuncinya . Karena akan berefek menumbuhkan prasangka baik juga pada sesama. Yakini bahwa semua hal yang kau terima, hadapi dan lalui pasti tersedia pelajaran yang bisa diambil. Kuatkan dengan banyak berdo’a agar setiap masalah yang membebani pikiran diberi jalan keluar dan kemudahan dari Allah ta’ala.


ATUR WAKTU

Be organized. Periksa berbagai amanah/kewajiban yang harus kau tuntaskan lalu tuliskan ke dalam jadwal harian. Susun dari skala yang paling urgen dan mendesak untuk diselesaikan. Kategori penting atau tidaknya sebuah aktivitas bagi seorang muslim terkait dengan hukum yang berlaku atasnya (wajib-sunnah-mubah) serta apabila kegiatanmu berkenaan dengan hajat orang banyak/orang lain atau tidak. Ingat-ingat dua sebab yang membinasakan dari waktu adalah jika kau suka menunda dan menyia-nyiakannya. Maka waspadalah, jangan sampai terpedaya. (Phfft..ini berat kali saudara!)


ATUR KESEHATAN

“Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Begitu pesan Rasulullaah saw. Kesehatan jasmani didapat manakala tubuh terpenuhi dalam tiga aspek yaitu dibugarkan dengan olahraga, dicukupkan kebutuhan gizinya dengan makanan sehat-seimbang serta diiistirahatkan dari kelelahan. Jadi patuhi jadwal olahraga sepekan minimal dua kali dengan durasi 30-60 menit. Perbanyak makan buah, kacang-kacangan, sayur mayur serta wajib minum air putih dua sampai tiga liter per hari. Hindari ngemil (kecuali lagi PMS, hoho..), makan berlebihan dan petuah diet yang ndak jelas landasan ilmunya atau di luar kesanggupanmu. Terakhir, usahakan untuk tidur tidak terlalu larut sehingga bisa lebih segar menjalankan ibadah malam (sedang berjuang keras).


Baiklah. Itu saja aturan untukku. (gleg)
Kutulis di sini bukan bermaksud menginspirasi tapi supaya makin berusaha komitmen menjalani jikalau banyak sahabat yang menjadi saksi. Semoga mereka berkenan mengingatkan kembali di kemudian hari.


@vi3nzz, September 2016.

#diarymotivasi
#weeklynote
#catatanmonolog
#omelanpadadiri

 

0

Dakwah Tuh Gini, Bukan Kok Gitu…

Posted by Vienna Alifa on 01/11/2017 in Coretan Hati, Dakwah |

 

Kecantikan dakwah yang dimainkan Rasulullaah shallallahu ‘alayhi wa sallam sungguh tak tertandingi. Beliau saw tak pernah membuat orang di sekitarnya menjadi tak nyaman atau menjadikan mereka menampilkan kesucian yang dibuat-buat. Mereka tak pura-pura shalih karena sungkan ketika di depan Rasul saw. Mereka tampil apa adanya bahkan tak segan mengadukan kegelisahannya karena belum mampu menjalankan syari’at dengan sempurna tanpa takut mendapat kecaman.

Rasulullaah shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak hanya sabar mendengar keluhan kaum muslimin tapi juga santai menyimak cacian kaum musyirikin. Telinganya selalu terpasang, tangannya selalu terhulur, pikirannya selalu tercurah, tenaganya selalu terkuras serta waktunya selalu tersedia demi membersamai kaumnya. Kesuksesan dakwah yang diusungnya seringkali bukan efek berkoar di atas mimbar melainkan karena perangai indahnya yang selalu nampak tulus dan kontinyu.

Maka malulah wahai diriku…
Yang berkomitmen untuk mendakwahkan sunnah namun masih jauh dari berdakwah sesuai sunnah. Yang berusaha meniru akhlaq Rasul saw tetapi masih sering tak peka terhadap kondisi tiap manusia.


Ingat, dakwah itu mengajak bukan mengejek. Merangkul bukan memukul. Pahami betul bahwa setiap orang punya tingkat kemampuan, pengetahuan serta keimanan yang berbeda-beda. Berikan pengertian yang luas terhadap latar belakang mereka. Sehingga engkau dapat berlatih sabar dalam menghadapi mereka sesuai kapasitasnya dan menghargai setiap proses yang mereka usahakan untuk lebih baik.

Jika kemudian ada kawanmu yang kerap bersikap tak nyaman dengan nasihatmu, ada rasa takut untuk mencurahkan kekurangannya, ada yang sulit bersikap sebagaimana adanya dirinya di depanmu atau ragu bercerita masalahnya lantas menjaga jarak, maka mungkin caramu berdakwah perlu direvisi. Barangkali selama ini gayamu menyeru malah menjauhkan mereka dari indahnya ajaran Islam. Mungkin sikapmu terlalu menuntut bukan menuntun.

Berbagai indikasi tersebut sungguh sederhana bila hati kita peka merasa. Maka perbanyak introspeksi diri sebelum tergesa menuding ketidaktaatan mereka. Renungi kembali dakwah yang dicontohkan Rasulullaah saw. Sebab itulah sunnah yang harus kau tegakkan atas dirimu sebelum kau berharap orang lain menjalankan sunnah yang kau seru.


Rabbishrahlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul uqdatam millisaanii yafqahuu qaulii.


…Coretan refleksi hasil mojok Jumat malam di Masjid Ibrahim
@vi3nzz, Agustus 2016


#Rasulullaahisthebestdai
#dakwahcantikituperlulatihan
#nahnuduatqablakullisyaiin
#refleksimetodedakwah

0

Beradab, Berilmu Dan Bersatu

Posted by Vienna Alifa on 01/11/2017 in Dakwah, Renungan, Tazkiyatun Nafs |

 

Jika kita rindu akan persatuan dalam tubuh umat Islam, ingin persaudaraan menguat, berharap agar saling sinergis dalam berdakwah dan mensyiarkan agama-Nya, maka singkirkan ego, redam hawa nafsu dan hilangkan hasad.

 

Yang masih belajar tak perlu menganggap ustadz/syaikhnya lebih mumpuni dari selain kelompoknya. Yang masih berbenah tak usah mengira dirinya sudah paling sesuai sunnah. Yang mulai mengajar hati-hati menjaga sikap dan lisannya agar tak merasa selalu benar. Yang sudah jadi panutan semoga tak mengarahkan pengikutnya pada pengkultusan.

 

Semakin banyaknya ulama dengan berbagai gaya, dari beragam fikrah, dan bermacam kafa’ah semestinya membuat kita bersyukur. Karena mereka sudah berkorban mengisi kebutuhan ummat dari beragam sisi. Ada yang keras menindak kemungkaran, ada yang lembut mengajak pada kebaikan. Ada yang ketat menjaga syari’at, ada yang ringan memberi syarat. Ada yang tampak di permukaan, ada yang sibuk di pedalaman. Ada yang suka berkiprah di panggung perpolitikan, ada yang senang menekuni dunia pendidikan. Dan seterusnya. Intinya kita harus paham bahwa setiap pemuka agama selalu siap menopang ketimpangan iman, ilmu dan amal di dalam diri kaum muslimin.

Bagi para pembelajar tentu tak semua gaya ulama cocok di hati. Pastilah ada kecenderungan kepada salah satu golongan sesuai pemikiran yang kita miliki. Tak mungkin kita ambil seluruh fatwa mereka dari berbagai madzhab untuk dijalani. Kemampuan diri kita pun bervariasi tatkala harus berproses meninggalkan yang haram dan mengikuti yang sunnah.

 

Lalu apakah ini bisa menjadi cikal bakal perpecahan ummat?

 

Ya, apabila karena ketidaksepakatan atau ketidakmampuan itu membuat kita ringan meremehkan pendapat salah satu atau beberapa ulama. (contoh : blum bisa ninggalin rokok tapi nyalahin fatwa yang ada, blum mau memilih pemimpin muslim tapi mengingkari fatwa ulama, dll)

Ya, manakala kita kemudian enteng menebar ketidaksukaan pada pemuka agama apalagi dibumbui dengan cercaan dan cacian yang akhirnya berujung pada fitnah. (Duh, sedih hati saya pas baca seorang ustadz dijuluki ‘abal-abal’, ‘koplak’, ‘katrok’, dsb)

Ya, jika kita sibuk mendebat perbedaan yang tidak prinsip hingga lalai terhadap kewajiban asasi sebagai hamba dan prioritas hidup yang harus dilakoni. (misalnya, status di medsos sering di-update tapi tilawah Al-quran macet bin mandeg)

Ya, ketika kita terus kerahkan energi untuk menyudutkan saudara seiman yang belum paham atau beda sudut pandang atau sedang khilaf tanpa sedikit pun rasa empati. (misal: nafsu mencecar lebih dominan mengalahkan niat menasehati, lebih suka debat bukan diskusi sehat).

 

Ingatlah…
Para pembelajar yang betul bersungguh hati dalam meniti ilmu itu selayaknya sudah dibekali oleh adab. Para ulama salaf banyak berpesan tentang hal ini, di antaranya Imam Malik pada seorang pemuda, “Pelajarilah adab sebelum kau mempelajari ilmu apapun.”

 

iman adab ilmu foto

 

Jadi kalau dalam dada kita semangat bersatu masih berkobar mestinya kita bisa tetap menghargai setiap pendapat, amal serta argumentasi yang beredar di kalangan orang beriman. Saat tidak setuju, utarakan dengan bahasa santun tanpa mengurangi kecintaan kita padanya. Ketika tak sesuai, tahan komentar yang memancing tumbuh dan menyebarnya kebencian di tengah ummat. Pas gemes ingin mengoreksi, lakukan diam-diam pada yang bersangkutan (jika memungkinkan) atau sampaikan secara umum dan terbuka lewat lisan pun tulisan tanpa perlu menyebut namanya.

 

Kalau masih belum sreg dan gak sejalan juga, panjatkanlah doa. Minta pada Allah agar Dia berkenan mengampuni kekeliruan kita, saudara kita dan para pendahulu. Serta semoga Dia beri hidayah pada kita semua, sehingga yang salah menjadi sadar, yang hatinya sempit menjadi lapang dan yang khilaf menjadi insyaf. Sehingga tak sampai muncul pertikaian, permusuhan, dan kebencian di antara sesama muslim apalagi pada para ulamanya.


رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي

قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Hasyr : 10)


@vi3nzz
~Bentley, Feb 2017


#rindupersatuanumat
#ukhuwwahitubagiandariiman
#ulamapewarisnabi
#cintaiulama
#adabsebelumilmu
#doajumat

Copyright © 2007-2017 Catatan Vienna All rights reserved.
This site is using the MultiBusiness Child-Theme, v3.1.4, on top of
the Parent-Theme Desk Mess Mirrored, v2.4, from BuyNowShop.com